Pendidikan
UMM Bangun RS Darurat Penanganan Covid-19, Target 45 Hari Selesai

Memontum Kota Malang – Rumah Sakit (RS) Darurat Penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (RSU UMM) akan segera dibangun. Hal itu ditandai dengan peletakan batu pertama yang berlangsung Senin (05/04) siang ini.
Direktur RS UMM, Prof. Dr. dr. Djoni Djunaedi, Sp. PD. KPT mengatakan, RS Darurat Penanganan Covid-19 ini akan memiliki fasilitas lengkap. Karena tak hanya menyediakan ruang rawat inap biasa, maupun intensif care untuk pasien Covid-19.
Baca juga:
- Komisi B DPRD Kota Malang Dorong MCC Dikelola dengan Skema BLUD, Diskopindag Siap Kaji
- Satpol PP Kota Malang Pastikan Penertiban Warung Liar GOR Ken Arok Tetap Jalan, SP1 Terbit Awal Agustus
- Portal Griya Shanta Ditutup, Pemkot Malang Pastikan Uji Coba Jalan Tembus Tetap Berjalan
- DPRD Kota Malang Sampaikan Enam Rekomendasi, Soroti Rendahnya Belanja Modal
- Langganan Juara OSN, MAN 2 Kota Malang Kini Jadi Percontohan Nasional Tata Kelola Madrasah
“Nanti kita juga punya kamar operasi, Pediatric Intensive Care Unit (PICU), perawatan rontgen, ICU berventilator, dan non-ventilator. Bahkan ada ruang hemodialisis nanti,” ungkapnya.
Sehingga itu artinya pasien Covid-19 dengan hemodialisis bisa dirawat di RS Darurat Penanganan Covid-19 ini.
Untuk kapasitas, tersedia 65 bed biasa untuk pasien Covid-19. Dan 8 bed intensif dengan ventilator. “Nanti juga ada fasilitas hiburan bagi para pasien. Kita sediakan ada gym di tengah-tengah,” paparnya.
Biaya rawat pun dikatakan dr Djoni ditanggung oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), alias gratis. “Begitu pasien tes PCR dan hasilnya positif, biaya perawatan gratis. Karena dari Kemenkes,” tambahnya.
Selain itu, dirinya mencanangkan ke depan jika pandemi Covid-19 sudah berakhir, RS yang dibangun itu bisa menjadi RS untuk pengobatan infeksi.
“Covid-19 ini bisa nantinya hilang, tapi infeksi tidak bisa hilang. Kami sudah merencanakan, bahwasanya kalau Covid-19 hilang kita masih bisa pergunakan RS untuk penyembuhan infeksi. Seperti HIV dan TB itukan masih banyak,” jelasnya.
dr Djoni berujar bahwa RS ini nantinya bisa menjadi pusat pengobatan infeksi di Jatim. Jika selepas pandemi bisa difungsikan menjadi tempat pengobatan infeksi seperti RSPI Sulianti Saroso.
Perawatnya pun, disampaikan dr Djoni sudah siap. “Kita punya jurusan Ilmu Keperawatan, jadi kalau lulus bisa direkrut kesini. Tapi harus bekerja di RS UMM dulu baru ke RS Darurat Penanganan Covid-19,” jelasnya.
Ditargetkan dalam 45 hari bangunan dengan 1 lantai itu sudah bisa selesai dan dapat ditempati untuk merawat pasien terkonfirmasi positif Covid-19. (mus/ed2)

Kota Malang1 mingguLima Pengurus Karang Taruna Kecamatan di Kota Malang Layangkan Surat Terbuka, Tolak Langkah Caretaker
Hukum & Kriminal3 mingguKecanduan Judi Online, Residivis Kambuhan Curi 14 iPhone
Kota Malang4 mingguTertibkan Bangunan di Atas Aset Pemkot Malang, Kawasan RTH Buring Bakal Dikembalikan sesuai Fungsi
Kota Malang4 mingguDukung Program 1.000 Event, Pemkot Malang Benahi Kepatuhan Pelaku Usaha Pariwisata
Kota Malang1 mingguDPRD Malang Desak Pemkot Tegas Tindaklanjuti Putusan Pembongkaran Tembok Griya Shanta
Hukum & Kriminal4 mingguLanjutan Sidang Karyawan Bank Digugat Tetangga, Mediasi Gagal
Kota Malang6 hariPemkot Malang Bakal Uji Coba Jalan Tembus Griya Shanta
Kota Malang3 mingguKota Malang Raih Peringkat Pertama PPA Awards Jatim, Musrenbang Tematik hingga RT Berkelas Jadi Andalan

















