Kopi Ketan

Mengukur Efektifitas PSBB dari Kajian Ilmu Virus bersama DR Yusuf Alumudi

Diterbitkan

-

DR M Yusuf Alamudi, S.Si,M.Trop.Med
DR Yusuf Alumudi

Memontum Kota Malang – Virologi, ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang virus, mungkin belakangan ini menjadi perhatian masyarakat seiring dengan pendemi covid-19. Selama ini, masyarakat awam sebatas tahu tenaga medis dan dokter digarda depan menangani covid-19. Padahal masih ada keilmuan lain yang terkait erat dengan penanganan pendemi covid-19, yaitu Kesehatan Masyarakat dan Virologi

Filosofi pencak silat menegaskan sebelum bertarung, seorang pesilat harus mengenal karakter lawan. Dikaitkan dengan penanganan covid-19 ini, Surabaya Raya termasuk Sidoarjo dan Malang Raya, telah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Wilayah tersebut memiliki keterikatan sosial dan emosional sangat tinggi. Karena banyak famili, kepetingan sekolah dan pekerjaan. Mobilitas dan aktivitas warga Surabaya Raya dan Malang Raya saling bersentuhan dan beririsan.

Lalu sejauh mana efektifitas PSBB dilihat dari sisi virologi? Karena faktanya PSBB tidak bisa dilakukan menyeluruh, orang luar kota dilarang masuk. Padahal virusnya sdh ada di dalam kota. Sementara aktifitas lokal, masih berjalan. Pasar tradisional dan pusat keramaian masih aktif.

Seorang virologi DR M Yusuf Alamudi S.Si M.Trop.Med berkesempatan menjelaskan. “PSBB merupakan salah satu cara untuk menekan penularan virus covid 19 di komunitas/masyarakat. Dengan adanya PSBB, diharapkan virus covid 19 mengalami perlambatan dlm bereplikasi di komunitas/masyarakat,” ujar Yusuf, Peneliti Senior di Professor Nidom Foundation ini.

Advertisement

“Secara alamiah replikasi virus covid 19 akan bisa dihambat oleh sistem kekebalan tubuh sesuai dengan masa hidup/inkubasi virus 7-21 hari. Permasalahan yang terjadi adalah pemerintah melonggarkan dan inkonsistensi dalam melaksanakan kebijakan PSBB,” tandas pakar penyakit tropis ini.

Pemegang gelar scientis biologi ini, melanjutkan selain itu, tidak satu komando antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah. Dari aspek virologi, virus covid 19 antar satu daerah dengan daerah yang lain belum tentu sama.

Misal virus covid 19 dari Surabaya belum tentu sama dengan virus covid 19 yang berasal dari Malang. Perpindahaan virus covid 19 melalui mobilitas orang dari satu daerah ke daerah lain dari jalur transportasi, pertemuan orang di mall, pertemuan orang di pasar tradisional akan menyebabkan perubahaan pada materi genetik virus covid 19.

Apakah virus covid 19 akan memiliki daya bunuh yang lebih tinggi atau lebih rendah, disebabkan adanya pertemuan dan percampuran dua virus covid 19 yang berbeda, ini membutuhkan kajian lebih lanjut dari aspek virologi. Maka, DR Yusuf menekankan jika memutus mata rantai covid19 akan menjadi efektif jika PSBB diterapkan terpadu dan bersamaan di seluruh Indonesia.

Advertisement

“PSBB akan membatasi mobilitas manusia, yang merupakan salah satu rantai penularan virus covid 19 pada komunitas/masyarakat. Sebenarnya PSBB juga harus diterapkan pada penyakit lain. Misal malaria. Karena malaria juga ditularkan dari mobilitas manusia,” pungkas Ucup panggilan akrab DR Yusuf Alumudi. (yan)

 

 

Narasumber :

Advertisement

DR M Yusuf Alamudi, S.Si,M.Trop.Med

Pendidikan :

S1: Biologi FST Unair
S2: Ilmu Kedokteran Tropis FK Unair
S3: Ilmu Kedokteran FK Unair

Praktisi : Peneliti Senior di Professor Nidom Foundation

Advertisement

 

Advertisement
1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Terpopuler

Lewat ke baris perkakas