Kota Malang

Gaji Dosen Poltekom Tak Sesuai, Kualitas Pembelajaran dan Mahasiswa Baru Terancam

Diterbitkan

-

Memontum Kota Malang – Gonjang-ganjing kondisi kampus Politeknik Kota Malang (Poltekom) tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa. Namun, kondisi di internal juga dirasakan beberapa dosen yang mengajar. Salah satunya, seperti yang dialami oleh dosen Program Studi Teknik Mekatronika, Panji Peksi Branjangan (40).

Pria yang kerap disapa Panji, itu menyampaikan jika pihaknya hanya digaji Rp 1 juta perbulannya selama tiga tahun terakhir. Padahal seharusnya, upah yang diterima setiap dosen itu sekitar Rp 3 juta perbulannya.

“Sejak April 2020, upah yang saya terima tidak sesuai yaitu hanya Rp 1 juta. Tetapi, saya masih tetap memilih mengajar, karena merasa memiliki tanggungjawab moral. Karena ada dua angkatan yang belum lulus,” kata Panji, saat dihubungi Rabu (22/11/2023) tadi.

Karena pembayaran upah yang tidak sesuai tersebut, ujarnya, juga berdampak pada sistem pembelajaran mahasiswa. Karena para dosen yang mengajar, harus menyesuaikan ongkos akomodasinya.

Advertisement

“Jadi kami perhitungkan untuk transportasi Rp 1 juta, itu cukupnya untuk berapa hari dan berapa kali berangkat ke kampus. Itu kita sesuaikan,” ujarnya.

Baca Juga :

Terlebih, dengan semakin berkurangnya para dosen yang mengajar, pihaknya juga harus merangkap untuk mengajar beberapa mata kuliah. Padahal dengan merangkap, seharusnya upah yang dibayarkan juga harus lebih besar.

“Dengan mengajar mata kuliah yang merangkap ini, harusnya kami dibayar lebih malahan. Tapi, gaji kami saat ini seperti disamakan dengan petugas cleaning service,” ucapnya.

Advertisement

Persoalan gaji yang tidak dibayarkan secara penuh ini, pun juga sempat ditanyakan kepada pihak kampus. Namun, direktur dan wakil direktur hanya menyampaikan atau menjawab hal-hal yang tidak sesuai dengan yang diharapkan dan hanya janji. Bahkan, dikatakan juga terdapat dosen-dosen yang keluar dan meninggal saat pandemi Covid-19, untuk gajinya juga belum diselesaikan atau diberikan kepada keluarga mereka.

“Ini sangat disesalkan. Selama ini kami sudah mengupayakan dengan meminta kepada direktur untuk bertemu pihak yayasan. Tapi selama ini, tidak pernah berhasil. Pernah kami menanyakan soal hanya dibayar Rp 1 juta dan dari direktur atau wakil direktur itu cuman menjanjikan akan dibayar sisanya. Tapi buktinya apa, sampai sekarang ya cuman Rp 1 juta setiap bulan,” jelasnya.

Di sisi lain, pihaknya saat ini juga mengaku heran dengan maksud pihak kampus yang masih menerima mahasiswa baru tahun ajaran 2023. Terlebih, dengan situasi dan kondisi yang tidak ada kejelasan.

“Ada satu angkatan mahasiswa baru 2023 ini, yang belum mengikuti mata perkuliahan. Dari direktur tidak pernah menghubungi dosen terkait, mekanisme mengajar dan gajinya seperti apa. Sehingga yang menjadi korban para mahasiswa baru ini karena tidak ada kejelasan,” imbuhnya. (rsy/sit)

Advertisement
Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan