Kota Malang
Angka Putus Sekolah Tinggi, Ketua DPRD Kota Malang Sebut Produk Gagal Mentalitas

Memontun Kota Malang – Angka putus sekolah di Kota Malang, dinilai tinggi. Hal itu, mendapat perhatian dari Ketua DPRD Kota Malang, I Made Riandina Kartika.
Menurutnya, putus sekolah merupakan produk gagal dari sebuah mentalitas anak. Sedangkan, penyebab utama anak putus sekolah bukan karena faktor sosial atau pun ekonomi. Melainkan, niat atau keinginan dari anak untuk bersekolah itu tidak ada.
“Ternyata setelah kita perdalam beberapa kali hearing, itu dari anak sendiri yang tidak mau sekolah. Bahkan, saya sering menegur dan menemui, setelah dijemput dinas dan kepala sekolahnya, itu memang anaknya sendiri yang nggak mau sekolah,” jelas Made, Rabu (01/02/2023) tadi.
Ditambahkan Made, jika penyebabnya hanya persoalan ekonomi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang bersama DPRD Kota Malang, siap membantu. Tentunya, itu yang menyangkut pemenuhan kebutuhan sekolah.
Baca juga:
- Komisi B DPRD Kota Malang Dorong MCC Dikelola dengan Skema BLUD, Diskopindag Siap Kaji
- Satpol PP Kota Malang Pastikan Penertiban Warung Liar GOR Ken Arok Tetap Jalan, SP1 Terbit Awal Agustus
- Portal Griya Shanta Ditutup, Pemkot Malang Pastikan Uji Coba Jalan Tembus Tetap Berjalan
- DPRD Kota Malang Sampaikan Enam Rekomendasi, Soroti Rendahnya Belanja Modal
- Langganan Juara OSN, MAN 2 Kota Malang Kini Jadi Percontohan Nasional Tata Kelola Madrasah
“Kalau melihat faktor ekonomi, selesai. Karena untuk buku, tas hingga sepatu, sudah kita siapkan. Jadi, ini bagian dari produk gagal mentalitas,” ujar Made.
Lebih lanjut disampaikan, terkait dengan pendampingan psikologi untuk anak, pihaknya mengatakan jika di masing-masing sekolah sudah disiapkan melalui guru Bimbingan Konseling (BK). Sehingga, hal itu juga harus menjadi titik awal dalam pencegahan terjadinya putus sekolah.
“Untuk pendampingan psikolog, kita sudah minta dengan dinas pendidikan untuk menyiapkan. Tapi, ini sudah bisa lewat BK, jadi ketika nanti anak sehari atau dua hari tidak sekolah, bisa ditanya. Karena kalau sudah kelamaan, maka akan sulit dan kita harus lebih dititik pencegahan awal,” ucapnya.
Sebagai informasi, untuk tingginya angka anak putus sekolah itu juga telah dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang. Diketahui di tahun 2022 lalu, jumlah penduduk usia 16 hingga 18 tahun mencapai 39 ribu jiwa. Dimana 17,77 persen diantaranya atau sekitar 7 ribu jiwa itu masuk dalam angka anak putus sekolah. Sedangkan, di usia 19 sampai 24 tahun, ada sekitar 80 ribu jiwa, dan 41,72 persen atau sekitar 33 ribu jiwa, yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. (rsy/sit)

Kota Malang1 mingguLima Pengurus Karang Taruna Kecamatan di Kota Malang Layangkan Surat Terbuka, Tolak Langkah Caretaker
Hukum & Kriminal3 mingguKecanduan Judi Online, Residivis Kambuhan Curi 14 iPhone
Kota Malang4 mingguTertibkan Bangunan di Atas Aset Pemkot Malang, Kawasan RTH Buring Bakal Dikembalikan sesuai Fungsi
Kota Malang4 mingguDukung Program 1.000 Event, Pemkot Malang Benahi Kepatuhan Pelaku Usaha Pariwisata
Kota Malang1 mingguDPRD Malang Desak Pemkot Tegas Tindaklanjuti Putusan Pembongkaran Tembok Griya Shanta
Hukum & Kriminal4 mingguLanjutan Sidang Karyawan Bank Digugat Tetangga, Mediasi Gagal
Kota Malang6 hariPemkot Malang Bakal Uji Coba Jalan Tembus Griya Shanta
Kota Malang3 mingguKota Malang Raih Peringkat Pertama PPA Awards Jatim, Musrenbang Tematik hingga RT Berkelas Jadi Andalan

















