Kota Malang
Satpol PP Kota Malang Amankan Gadis Open BO Berusia 17 Tahun dan Mengaku Sehari bisa Layani 10 Pelanggan

Memontum Kota Malang – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Malang, bersama jajaran TNI/Polri melakukan operasi protokol kesehatan (Prokes) dan operasi penyakit masyarakat (Pekat), Jumat (18/03/2022) dini hari. Untuk operasi Pekat tersebut, dilakukan di dua lokasi, yakni Jalan Kaliurang dan Jalan Dewandaru, Kota Malang.
Kabid Trantibum Satpol PP Kota Malang, Rahmat Hidayat, mengatakan jika dirinya menemukan ada 18 pasangan yang diduga hendak berbuat mesum, dengan status bukan suami istri. Ada pula, yang mengaku sampai 10 kali melakukan hubungan intim dalam sehari.
“Dari pengakuan mereka, ada yang melakukan itu sampai 10 kali dalam sehari. Tapi waktu penggerebekan, mereka tidak sedang hendak melakukan hubungan intim atau habis melakukan dengan tamunya. Ada juga yang melakukan empat kali (sehari),” ujar Rahmat, Jumat (18/03/2022).
Harga yang dipatok sesuai pengakuan para terduga open BO (booking out) tersebut, kata Rahmat, ada yang mematok harga kurang lebih Rp 800 ribu sekali main. Tak hanya itu, beberapa terduga open BO ada yang mengaku baru melakukannya, selama tiga bulan. Lalu, ada yang sudah 8 bulan dengan rata-rata usia 16 hingga 22 tahun. “Harganya biasanya mereka itu matok Rp 800 ribu. Tapi netnya, bisa Rp 500 hingga Rp 600 ribu,” lanjutnya.
Baca juga :
- Sempat Terjadi Aksi Saling Dorong, PN Malang Eksekusi Rumah di Perum Bumi Palapa Kota Malang
- Nasib Sekolah di Lahan UM, Pemkot Malang Siapkan Opsi Merger
- Ancam Mahasiswa dengan Pisau dan Celurit, Dua Begundal Ditangkap Polisi
- Gencarkan Deteksi Dini, 925 Warga Kota Malang Positif TBC dalam Lima Bulan
- Disimpan di Pembalut, Seorang Perempuan Coba Selundupkan Obat-Obatan ke Lapas Malang
Sementara, berbagai alasan dari para terduga open BO itu, melakukan perbuatannya. Mulai karena faktor ekonomi dan juga faktor sosial. Rahmat menjabarkan, untuk faktor ekonomi, kebanyakan para terduga open BO yang usianya masih muda-muda telah mengalami broken home hingga putus sekolah.
“Faktor mereka open BO, pertama ekonomi. Kedua faktor sosial yang kebanyakan yang muda-muda itu broken home dan putus sekolah. Orang tua cerai dan tidak jelas, kebanyakan itu,” tambahnya.
Menurutnya, Wali Kota Malang, Sutiaji, akan memberikan pembinaan kepada mereka. Jika pelaku seorang mahasiswa, maka orang tua akan dipanggil. Sanksi akan di Tipiring sesuai dengan peraturan daerah (Perda), sanksi maksimal 3 bulan kurungan dan denda maksimal Rp 10 juta. “Ada yang orang tuanya dipanggil kalau mahasiswa, tapi itu semua nanti keputusan hakim,” katanya.
Terpisah, Wali Kota Malang, Sutiaji, mengatakan bahwa yang ditemui saat razia pada Jumat (18/03/2022) dini hari tadi, satu terduga pelaku open BO, yang melakukan 10 kali sehari masih berusia 17 tahun. “Tadi kita itu sampai setengah 5 pagi melakukan razia. Kita terus lakukan pemantauan untuk meminimalisir. Ada yang masih 17 tahun, dia open BO sampai 10 kali sehari,” ujar Sutiaji. (cw2/gie)

Kota Malang4 mingguUsai Pasar Gadang dan Kebalen, Pemkot Malang Siapkan Penataan Bertahap untuk Pasar Blimbing
Kota Malang4 mingguDukung Penertiban PKL Pasar Kebalen, DPRD Kota Malang Kembali Soroti Pengembalian Fungsi Jalan
Kota Malang4 mingguTinjau Penertiban PKL Pasar Kebalen, Wali Kota Malang Sampaikan Aturan Baru
Kota Malang4 mingguHadiri Peresmian SPPG Kedungkandang, Wali Kota Wahyu Sebut SPPG di Kota Malang Minim Permasalahan
Kota Malang1 mingguPenjualan Hewan Kurban Lesu, Pedagang di Kota Malang Sebut Pembeli Turun Drastis
Kota Malang3 mingguWali Kota Malang Sebut Proses Pembentukan Dinas Damkar Tunggu Pembahasan DPRD
Kota Malang2 mingguProgram Angkutan Pelajar Gratis Jadi Harapan Baru Sopir Angkot di Kota Malang
Hukum & Kriminal4 mingguKurun Sebulan, Polresta Malang Tangkap 39 Tersangka Narkotika

















