SEKITAR KITA
Geliat Rumah Baca di Tengah Pandemi Covid-19

Fasilitasi wifi gratis bagi siswa hingga bantu mengajar
Memontum Kota Malang – Pembelajaran secara daring menjadi salah satu solusi tetap berjalannya proses belajar mengajar di tengah pandemi.
Hanya saja, pembelajaran daring ini, di satu sisi juga memberikan beban tersendiri bagi para orang tua siswa. Seperti salah satunya, membengkaknya pengeluaran rumah tangga untuk pembelian kuota.
Berdasar dari itulah, Komunitas Solidaritas Arek Malang tergerak untuk membuat beberapa titik wifi guna membantu meringankan beban para orang tua. Bekerjasama dengan salah satu provider jaringan internet, komunitas ini mendirikan ruang-ruang baca yang dilengkapi akses jaringan internet.
Ada sekitar lima titik yang tersebar di Kota Malang, yang menjadi lokasi wifi gratis. Antara lain, Kampung Bahasa Polowijen, Gladak Baca di Kedawung, Ruang Belajar Kidul Dalem, Rumah Baca Muharto, serta Rumah Belajar yang ada di Sukun.
Pengelola Ruang Belajar Kidul Dalem, Junaidi, menuturkan meski fasilitas yang dimiliki ruang bacanya tidak selengkap yang lain, namun dirinya sangat lega bisa membantu sesama.
”Saya pribadi tergerak untuk membantu anak-anak di kampung, biar bisa tetap belajar. Apalagi, belajar secara daring seperti ini, banyak membuat orang tua yang mengeluh soal biaya kuota,” ujar pria yang akrab disapa Mas Jun.
Hal yang sama juga menjadi alasan pengelola ruang baca lain. Kesenjangan ekonomi di sekitar mereka, menjadi penggerak utama untuk merelakan rumah mereka menjadi sebuah fasilitas umum bagi anak-anak yang belajar.
Bahkan, beberapa diantaranya pun melibatkan keluarga untuk ikut membantu membimbing anak-anak, jika diantara mereka kesulitan memahami mata pelajaran yang diberikan oleh guru mereka.
Teguh Kiswanto contohnya, pria yang juga merupakan Koordinator Gerakan Internet Untuk Anak Negeri, menuturkan sang istri kerap kali menjadi pembimbing dadakan saat anak-anak kesulitan.
“Biasanya selain mengakses pembelajaran daring, mereka juga menyambi melihat PR dan lain-lain. Namun, memang kami batasi supaya anak-anak juga terkontrol dalam menggunakan jaringan internet,” terangnya.
Disinggung mengenai adanya bantuan kuota dari pemeritah, dirinya menjelaskan, sudah berkomitmen untuk tetap menjadikan Ruang Belajar menjadi sarana pembelajaran bagi anak-anak.
Seperti salah satunya, yang dituturkan oleh pemilik Gladak Baca, Nanang Blankon. Dirinya menyebut, dengan melihat anak-anak berkumpul, berinteraksi serta belajar bersama, memberikan kepuasan tersendiri baginya.
“Bisa menjadi manfaat bagi orang lain, itu lebih membahagiakan dibanding dengan materi,” katanya.
Berbicara biaya operasional, ketiganya kompak menjawab, seluruhnya ditanggung oleh mereka sendiri serta beberapa donatur. Bahkan, mereka juga sering melakukan penggalangan dana melalui dagangan-dagangan kreatif untuk pembiayaan operasional ruang baca. (cw1/sit)

Kota Malang4 mingguUsai Pasar Gadang dan Kebalen, Pemkot Malang Siapkan Penataan Bertahap untuk Pasar Blimbing
Kota Malang4 mingguDukung Penertiban PKL Pasar Kebalen, DPRD Kota Malang Kembali Soroti Pengembalian Fungsi Jalan
Kota Malang4 mingguTinjau Penertiban PKL Pasar Kebalen, Wali Kota Malang Sampaikan Aturan Baru
Kota Malang4 mingguHadiri Peresmian SPPG Kedungkandang, Wali Kota Wahyu Sebut SPPG di Kota Malang Minim Permasalahan
Kota Malang1 mingguPenjualan Hewan Kurban Lesu, Pedagang di Kota Malang Sebut Pembeli Turun Drastis
Kota Malang3 mingguWali Kota Malang Sebut Proses Pembentukan Dinas Damkar Tunggu Pembahasan DPRD
Kota Malang2 mingguProgram Angkutan Pelajar Gratis Jadi Harapan Baru Sopir Angkot di Kota Malang
Hukum & Kriminal4 mingguKurun Sebulan, Polresta Malang Tangkap 39 Tersangka Narkotika

















