Kota Malang

Gaungkan Hidup Sehat dan Guyub di HUT Ke-112, Pemkot Malang Gelar Bike to Work hingga Lomba Dakon

Diterbitkan

-

KERJA SEHAT: Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, dalam kegiatan bike to work di Halaman Balai Kota Malang. (memontum.com/rsy)

Memontum Kota Malang – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menggelar apel Gerakan Bersepeda ke Kantor (Bike to Work), yang dilanjutkan senam bersama serta kerja bakti (kurve) di Halaman Balai Kota Malang, Jumat (24/04/2026) tadi. Kegiatan tersebut, menjadi bagian dari upaya membangun budaya kerja sehat sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengatakan bahwa apel pagi sengaja dikemas berbeda karena bertepatan dengan penerapan kebijakan Work From Home (WFH) sekaligus rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang. “Jajaran saya saya perintahkan kalau ke kantor menggunakan sepeda, angkutan umum, atau kendaraan non-fosil. Ini untuk membuktikan bahwa pola hidup ramah lingkungan harus dimulai dari pemerintah,” ujar Wali Kota Wahyu.

Gerakan Bike to Work tersebut, sebenarnya telah dimulai sejak 20 Maret lalu, namun kembali disemarakkan agar menjadi kebiasaan baru bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Malang. Tidak hanya itu, juga dilakukan bersih-bersih lingkungan di sekitar Balai Kota, khususnya pengelolaan sampah di area trotoar.

“Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Pemkot Malang menjaga kebersihan ruang publik,” tuturnya.

Advertisement

Baca juga :

Selain kampanye lingkungan, suasana apel pagi juga dibuat lebih meriah dengan adanya lomba permainan tradisional seperti dakon, bekel dan orado yang diikuti ASN bersama masyarakat umum. Menurutnya, penguatan permainan tradisional menjadi strategi untuk menekan pola hidup individualistis akibat penggunaan gawai berlebihan pada anak-anak.

“Kita ingin anak-anak kembali bermain bersama. Ada kerja sama, ada keguyuban, tidak individual karena pengaruh gadget,” katanya.

Lebih lanjut, Pemkot Malang juga mendorong pembatasan penggunaan telepon genggam untuk bermain gim bagi anak di bawah usia 16 tahun, sekaligus menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai ruang interaksi sosial.

“Harapannya dengan adanya permainan tradisionaln ini keguyuban tetap terjaga. Pemerintah, ASN dan masyarakat bisa terus membangun kebersamaan,” imbuh Wali Kota Wahyu. (rsy/sit/adv)

Advertisement
Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Terpopuler

Lewat ke baris perkakas