Pendidikan
UMM Bangun RS Darurat Penanganan Covid-19, Target 45 Hari Selesai

Memontum Kota Malang – Rumah Sakit (RS) Darurat Penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (RSU UMM) akan segera dibangun. Hal itu ditandai dengan peletakan batu pertama yang berlangsung Senin (05/04) siang ini.
Direktur RS UMM, Prof. Dr. dr. Djoni Djunaedi, Sp. PD. KPT mengatakan, RS Darurat Penanganan Covid-19 ini akan memiliki fasilitas lengkap. Karena tak hanya menyediakan ruang rawat inap biasa, maupun intensif care untuk pasien Covid-19.
Baca juga:
- Sempat Terjadi Aksi Saling Dorong, PN Malang Eksekusi Rumah di Perum Bumi Palapa Kota Malang
- Nasib Sekolah di Lahan UM, Pemkot Malang Siapkan Opsi Merger
- Ancam Mahasiswa dengan Pisau dan Celurit, Dua Begundal Ditangkap Polisi
- Gencarkan Deteksi Dini, 925 Warga Kota Malang Positif TBC dalam Lima Bulan
- Disimpan di Pembalut, Seorang Perempuan Coba Selundupkan Obat-Obatan ke Lapas Malang
“Nanti kita juga punya kamar operasi, Pediatric Intensive Care Unit (PICU), perawatan rontgen, ICU berventilator, dan non-ventilator. Bahkan ada ruang hemodialisis nanti,” ungkapnya.
Sehingga itu artinya pasien Covid-19 dengan hemodialisis bisa dirawat di RS Darurat Penanganan Covid-19 ini.
Untuk kapasitas, tersedia 65 bed biasa untuk pasien Covid-19. Dan 8 bed intensif dengan ventilator. “Nanti juga ada fasilitas hiburan bagi para pasien. Kita sediakan ada gym di tengah-tengah,” paparnya.
Biaya rawat pun dikatakan dr Djoni ditanggung oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), alias gratis. “Begitu pasien tes PCR dan hasilnya positif, biaya perawatan gratis. Karena dari Kemenkes,” tambahnya.
Selain itu, dirinya mencanangkan ke depan jika pandemi Covid-19 sudah berakhir, RS yang dibangun itu bisa menjadi RS untuk pengobatan infeksi.
“Covid-19 ini bisa nantinya hilang, tapi infeksi tidak bisa hilang. Kami sudah merencanakan, bahwasanya kalau Covid-19 hilang kita masih bisa pergunakan RS untuk penyembuhan infeksi. Seperti HIV dan TB itukan masih banyak,” jelasnya.
dr Djoni berujar bahwa RS ini nantinya bisa menjadi pusat pengobatan infeksi di Jatim. Jika selepas pandemi bisa difungsikan menjadi tempat pengobatan infeksi seperti RSPI Sulianti Saroso.
Perawatnya pun, disampaikan dr Djoni sudah siap. “Kita punya jurusan Ilmu Keperawatan, jadi kalau lulus bisa direkrut kesini. Tapi harus bekerja di RS UMM dulu baru ke RS Darurat Penanganan Covid-19,” jelasnya.
Ditargetkan dalam 45 hari bangunan dengan 1 lantai itu sudah bisa selesai dan dapat ditempati untuk merawat pasien terkonfirmasi positif Covid-19. (mus/ed2)

Kota Malang4 mingguUsai Pasar Gadang dan Kebalen, Pemkot Malang Siapkan Penataan Bertahap untuk Pasar Blimbing
Kota Malang4 mingguDukung Penertiban PKL Pasar Kebalen, DPRD Kota Malang Kembali Soroti Pengembalian Fungsi Jalan
Kota Malang4 mingguTinjau Penertiban PKL Pasar Kebalen, Wali Kota Malang Sampaikan Aturan Baru
Kota Malang4 mingguHadiri Peresmian SPPG Kedungkandang, Wali Kota Wahyu Sebut SPPG di Kota Malang Minim Permasalahan
Kota Malang1 mingguPenjualan Hewan Kurban Lesu, Pedagang di Kota Malang Sebut Pembeli Turun Drastis
Kota Malang3 mingguWali Kota Malang Sebut Proses Pembentukan Dinas Damkar Tunggu Pembahasan DPRD
Kota Malang2 mingguProgram Angkutan Pelajar Gratis Jadi Harapan Baru Sopir Angkot di Kota Malang
Hukum & Kriminal4 mingguKurun Sebulan, Polresta Malang Tangkap 39 Tersangka Narkotika

















