Kota Malang

Inflasi Februari 2026 Kota Malang 0,74 Persen, Cabai Rawit dan Daging Ayam Jadi Pemicu

Diterbitkan

-

AYAM: Daging ayam di salah satu pasar Kota Malang. (rsy)

Memontum Kota Malang – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat inflasi month-to-month (m-to-m) Kota Malang pada Februari 2026 sebesar 0,74 persen. Kenaikan itu, dipicu karena meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan dan kebutuhan rumah tangga dalam sebulan terakhir.

Kepala BPS Kota Malang, Umar Sjaifudin, menjelaskan bahwa secara umum perkembangan harga pada Februari menunjukkan tren kenaikan dibandingkan Januari 2026. “Kota Malang mengalami inflasi bulanan sebesar 0,74 persen, dipicu oleh kenaikan harga beberapa komoditas utama,” ujar Umar, sapaannya, Selasa (03/03/2026) tadi.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau, lanjutnya, menjadi penyumbang terbesar inflasi m-to-m dengan andil 0,48 persen. Komoditas yang dominan, mendorong kenaikan harga, diantaranya cabai rawit dengan andil 0,2 persen, daging ayam ras sebesar 0,1 persen, telur ayam ras sebesar 0,07 persen dan cabai merah sebesar 0,02 persen. Selain itu, sigaret kretek mesin (SKM), minyak goreng, air kemasan, hingga jagung manis turut memberi sumbangan meski dalam porsi lebih kecil.

“Kenaikan harga cabai dan daging ayam menjadi faktor paling terasa di tingkat konsumen, mengingat kedua komoditas itu merupakan bahan konsumsi harian masyarakat,” tambahnya.

Advertisement

Di luar sektor pangan, kelompok transportasi memberikan andil kecil sebesar 0,01 persen terhadap inflasi bulanan. Komoditas yang berkontribusi antara lain perbaikan ringan kendaraan (0,02 persen), serta mobil dan biaya servis.

Baca juga :

Sementara kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga tidak memberikan andil signifikan secara bulanan, meskipun secara tahunan menjadi penyumbang inflasi terbesar. “Secara kumulatif sejak awal tahun (year-to-date), inflasi Kota Malang masih berada di angka 0,64 persen. Kondisi itu menjadi indikator penting bagi stabilitas harga di Kota Malang, terutama menjelang periode konsumsi masyarakat yang cenderung meningkat,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi, mengatakan bahwa inflasi Kota Malang pada Februari 2026 masih sejalan dengan kondisi di tingkat Provinsi Jawa Timur dan Nasional. Pengendalian inflasi pun juga terus dilakukan bersama dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang dan berbagai pihak.

“Sejumlah langkah yang sudah dilakukan, antara lain pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak mulai 13 Februari 2026 dan 23 Februari hingga 17 Maret 2026 yang akan tersebar di 34 titik lokasi,” ucap Indra.

Advertisement

Selain itu, juga dilakukan monitoring harga bahan pangan pokok, Sidak pasar oleh Satgas Pangan Kota Malang pada 19 Februari 2026 untuk memastikan ketersediaan pasokan, hingga fasilitasi distribusi ongkos angkut guna menjaga kelancaran suplai. “Dari TPID di Wilker (Wilayah Kerja) BI Malang juga mengikuti HLM TPID & TP2DD Provinsi Jatim pada 26 Februari 2026, serta rakor TPID mingguan bersama Kemendagri selama bulan Februari 2026,” katanya.

Lebih lanjut, untuk menghadapi potensi peningkatan inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri pada Maret, TPID akan berupaya meningkatkan intensitas pemantauan harga dan melakukan intervensi melalui operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga kebutuhan pokok. Sinergi kebijakan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dengan Bank Indonesia akan terus dilanjutkan melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) serta penguatan strategi 4K, yakni Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi serta Komunikasi efektif, guna menjaga level inflasi berada dalam rentang sasaran 2,5 ± 1 persen (yoy). (rsy/sit)

Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Terpopuler

Lewat ke baris perkakas