SEKITAR KITA
Sembilan Kelurahan di Kota Malang Jadi Bidikan Penanganan Stunting

Memontum Kota Malang – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus berupaya menekan angka stunting. Dijelaskan Kepala Dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif, meski tren stunting Kota Malang terus mengalami penurunan, tapi terdapat 9 kelurahan yang perlu perhatian khusus karena stunting.
“Sampai tahun 2021, dengan evaluasi masa timbang bulan Agustus 2020 masih terdapat beberapa lotus stunting yang perlu intervensi sangat masif,” ujarnya, Kamis (29/04).
Baca juga:
- Komisi B DPRD Kota Malang Dorong MCC Dikelola dengan Skema BLUD, Diskopindag Siap Kaji
- Satpol PP Kota Malang Pastikan Penertiban Warung Liar GOR Ken Arok Tetap Jalan, SP1 Terbit Awal Agustus
- Portal Griya Shanta Ditutup, Pemkot Malang Pastikan Uji Coba Jalan Tembus Tetap Berjalan
Sembilan kelurahan yang masih perlu perhatian khusus terkait stunting itu antara lain Kelurahan Bareng, Kelurahan Cemorokandang, Kelurahan Kiduldalem, Kelurahan pandanwangi, Kelurahan Sumbersari, Kelurahan Mulyorejo, Kelurahan Samaan, Kelurahan Kotalama, dan Kelurahan Merjosari.
“Maka perlu adanya komitmen Pemkot Malang dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk program kegiatan penurunan stunting dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Terlebih juga komitmen dari 9 kelurahan fokus prioritas tersebut,” tambahnya.
Pria yang pernah menjabat sebagai Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) itu berharap melalui kegiatan Rembug Stunting, muncul sinergi.
Yaitu antara Pemkot, OPD, instansi swasta, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK), dan pihak terkait lainnya.
Senada dengan hal tersebut, Wali Kota Malang, Sutiaji, juga menekankan OPD harus terlibat dalam penurunan stunting.
“Masing-masing OPD harus punya peran, contoh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) berkaitan dengan masalah ketersediaan pangan. Kalau Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) harus mengontrol bagaimana penyaluran bantuan yang bisa menguatkan ketahanan asupan gizi tidak terlambat. Tapi tetap dirigennya adalah Dinkes, karena tugas dan fungsi (tusi)nya ada di Dinas Kesehatan,” papar Sutiaji.
Diakui pemilik kursi N1 itu, tingkat stunting di Kota Malang terbilang rendah, sehingga menduduki peringkat 3 terbawah se Jawa Timur.
“Bahkan Kota Malang menjadi 1 dari 100 Daerah Perluasan Pelaksanaan Percepatan Stunting tahun 2021. Makanya ini perlu kita kuatkan terus melalui kolaborasi pentahelix. Antar OPD, instansi swasta, stake holder, organisasi, maupun masyarakat. Apalagi tadi masih ada 9 kelurahan yang perlu perhatian khusus,” jelasnya.
Terakhir pihaknya juga berpesan orang tua untuk peduli terhadap anak-anaknya. Pasalnya, ini bisa saja menjadi salah satu faktor pendukung menurunnya angka stunting.
“Karena saya penasaran, tingkat kemiskinan paling tinggi ada di Kecamatan Kedungkandang. Tapi malah dari 9 kelurahan yang perlu perhatian karena angka stuntingnya, hanya 2 yang di lingkup Kecamatan Kedungkandang. Berarti kan tidak hanya kemiskinan yang menjadi faktor stunting, bisa jadi karena perhatian orang tua. Nah ini perlu menjadi perhatian,” tegas Sutiaji. (mus/ed2)

Kota Malang1 mingguLima Pengurus Karang Taruna Kecamatan di Kota Malang Layangkan Surat Terbuka, Tolak Langkah Caretaker
Hukum & Kriminal3 mingguKecanduan Judi Online, Residivis Kambuhan Curi 14 iPhone
Kota Malang4 mingguTertibkan Bangunan di Atas Aset Pemkot Malang, Kawasan RTH Buring Bakal Dikembalikan sesuai Fungsi
Kota Malang4 mingguDukung Program 1.000 Event, Pemkot Malang Benahi Kepatuhan Pelaku Usaha Pariwisata
Kota Malang1 mingguDPRD Malang Desak Pemkot Tegas Tindaklanjuti Putusan Pembongkaran Tembok Griya Shanta
Hukum & Kriminal4 mingguLanjutan Sidang Karyawan Bank Digugat Tetangga, Mediasi Gagal
Kota Malang6 hariPemkot Malang Bakal Uji Coba Jalan Tembus Griya Shanta
Kota Malang3 mingguKota Malang Raih Peringkat Pertama PPA Awards Jatim, Musrenbang Tematik hingga RT Berkelas Jadi Andalan

















