Kota Malang
Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Turun, Dishub Kota Malang Siapkan 7 Pos dan Rekayasa Lalin Situasional

Memontum Kota Malang – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang memprediksi terjadi penurunan pergerakan pemudik pada arus mudik dan balik Lebaran 2026 atau Idul Fitri 1447 Hijriah. Secara nasional, pergerakan masyarakat diperkirakan mencapai 143,6 juta orang, turun dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 150 juta lebih.
Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, mengatakan prediksi penurunan juga terjadi di Kota Malang dengan estimasi rata-rata 1,75 persen untuk arus keluar-masuk kendaraan. “Secara nasional diprediksi 143,6 juta pergerakan. Di Kota Malang kami perkirakan juga ada penurunan sekitar 1,75 persen. Penurunan itu juga dikarenakan beberapa faktor, salah satunya cuaca,” ujar Jaya-sapaannya, usai melakukan Rakor bersama Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Selasa (03/03/2026) tadi.
Jaya juga menjelaskan, bahwa persiapan pengamanan arus mudik merujuk pada hasil rapat koordinasi lintas sektoral nasional yang dipimpin Kapolri, serta Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Perhubungan dan Kapolri terkait pembatasan angkutan berat.
Pembatasan tersebut diberlakukan untuk mendukung kelancaran arus mudik, terutama kendaraan logistik bertonase besar yang melintas di jalur-jalur utama.
Dishub Kota Malang memprediksi puncak arus mudik terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama diperkirakan pada 13–15 Maret 2026, sedangkan gelombang kedua pada 18–19 Maret 2026.
Baca juga :
“Prediksinya karena berkaitan dengan momen Hari Nyepi yang berada di tengah periode mudik, sehingga ada dua tahap tingkat kenaikan arus mudiknya. Sementara untuk arus balik, masih akan memantau perkembangan timeline dan dinamika di lapangan,” katanya.
Bersama Polresta Malang Kota, Dishub Kota Malang telah menyiapkan tujuh pos yang terdiri dari Pos Pantau, Pos Pelayanan dan Pos Pengamanan. Rekayasa lalu lintas yang diterapkan bersifat situasional dan insidentil, menyesuaikan kondisi di lapangan.
“Tidak harus penutupan jalan atau contraflow. Semua melihat kondisi dan kebutuhan di lapangan,” tegasnya.
Sebagai kota tujuan wisata sekaligus kota lintasan menuju Kota Batu, Kabupaten Malang dan Blitar, sejumlah titik diprediksi menjadi lokasi rawan kepadatan. Untuk kawasan perdagangan dan jasa, potensi kepadatan diperkirakan terjadi di beberapa Mal yang ada di Kota Malang, Pasar Besar Malang, hingga Pusat oleh-oleh.
“Sementara untuk jalur utama, titik rawan berada di ruas jalan nasional dan provinsi, di antaranya Jalan Raden Intan, Jalan Gatot Subroto, Jalan Ahmad Yani, Jalan Borobudur hingga Simpang Dinoyo dan Arah Sengkaling,” tambahnya.
Jaya menambahkan, berdasarkan evaluasi tahun-tahun sebelumnya, lonjakan kunjungan wisata ke Kota Malang justru diperkirakan terjadi setelah Lebaran, seiring meningkatnya mobilitas wisatawan pasca-Hari Raya.
“Biasanya setelah Lebaran justru ada peningkatan kunjungan wisata,” imbuh Jaya. (rsy/sit)

Kota Malang4 mingguUsai Pasar Gadang dan Kebalen, Pemkot Malang Siapkan Penataan Bertahap untuk Pasar Blimbing
Kota Malang4 mingguDukung Penertiban PKL Pasar Kebalen, DPRD Kota Malang Kembali Soroti Pengembalian Fungsi Jalan
Kota Malang4 mingguTinjau Penertiban PKL Pasar Kebalen, Wali Kota Malang Sampaikan Aturan Baru
Kota Malang4 mingguHadiri Peresmian SPPG Kedungkandang, Wali Kota Wahyu Sebut SPPG di Kota Malang Minim Permasalahan
Kota Malang1 mingguPenjualan Hewan Kurban Lesu, Pedagang di Kota Malang Sebut Pembeli Turun Drastis
Kota Malang3 mingguWali Kota Malang Sebut Proses Pembentukan Dinas Damkar Tunggu Pembahasan DPRD
Kota Malang2 mingguProgram Angkutan Pelajar Gratis Jadi Harapan Baru Sopir Angkot di Kota Malang
Hukum & Kriminal4 mingguKurun Sebulan, Polresta Malang Tangkap 39 Tersangka Narkotika

















