Kota Malang
Angka Stunting Kota Malang Masih Stagnan di Kisaran 8 Persen

Memontum Kota Malang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat angka stunting hingga kini masih belum menunjukkan tren penurunan signifikan. Meskipun, berbagai intervensi telah dilakukan dan capaian prevalensi stunting masih bergerak stagnan di kisaran angka delapan persen.
Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif, mengatakan bahwa fluktuasi angka stunting terjadi hampir setiap bulan tanpa menunjukkan pola penurunan yang konsisten. “Pergerakannya masih lurus-lurus saja. Pernah di angka 8,1 persen, turun sedikit, lalu naik lagi. Jadi belum menunjukkan penurunan yang landai seperti yang kita harapkan,” ujar Husnul, Jumat (15/05/2026) tadi.
Menurutnya, berbagai intervensi sebenarnya telah dijalankan, baik intervensi spesifik di sektor kesehatan maupun intervensi sensitif melalui organisasi perangkat daerah lainnya. Namun, tantangan terbesar justru berada pada pola pengasuhan dan pemenuhan asupan gizi anak di tingkat keluarga.
“Kita tidak bisa mengawasi setiap jam makan anak. Harapannya satu porsi makanan untuk anak stunting itu benar-benar dihabiskan dan tidak dibagi dengan anggota keluarga lain,” jelasnya.
Baca juga :
Untuk memperkuat pendampingan, Dinkes Kota Malang akan berkolaborasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) Kota Malang, melalui pendamping keluarga agar pengawasan konsumsi gizi anak bisa dilakukan lebih intensif di lapangan.
Selain itu, Pemkot Malang juga menggandeng perguruan tinggi melalui program Kampus Bergerak Peduli Stunting (Kabar Penting). Sebanyak 16 perguruan tinggi berbasis kesehatan dilibatkan untuk melakukan pembinaan wilayah, dengan skema satu kampus mendampingi satu wilayah puskesmas.
“Kami berharap dengan pendampingan organisasi profesi dan perguruan tinggi ini, percepatan penurunan stunting bisa lebih terasa,” katanya.
Saat ini, pemerintah menargetkan tidak muncul lagi kasus stunting baru melalui program New Zero Stunting. Berdasarkan hasil penimbangan terakhir, masih terdapat kasus stunting baru di Kelurahan Rampal Celaket sebanyak dua anak dan Kelurahan Sawojajar tiga anak.
“Targetnya anak-anak ini bisa segera keluar dari kondisi stunting sehingga wilayah tersebut bisa mendeklarasikan New Zero Stunting,” ucapnya.
Secara keseluruhan, prevalensi stunting Kota Malang pada tahun 2025 tercatat sebesar 8,17 persen atau sekitar 2.600 hingga 2.800 anak dari total sekitar 36 ribu balita yang dipantau. (rsy/sit)

Kota Malang3 mingguKetua DPRD Kota Malang Sepakat Hentikan MBG dan KMP yang Tak Mampu Fasilitasi Masyarakat
Kota Malang4 mingguDPRD Kota Malang Soroti PKL Semi Permanen dan Desak Revitalisasi Pasar Tawangmangu
Kota Malang3 mingguKetua DPRD Kota Malang Ingatkan Pemkot Tak Alihfungsikan LSD dan RTH untuk Koperasi Merah Putih
Kota Malang2 mingguWali Kota Malang Siapkan Surat Edaran Larangan ASN Bermedia Sosial saat Jam Kerja
Kota Malang3 mingguRatusan Mahasiswa UB Turun ke Jalan, Soroti Kenaikan Harga hingga Desak Penghentian MBG
Kota Malang1 mingguTertibkan Bangunan di Atas Aset Pemkot Malang, Kawasan RTH Buring Bakal Dikembalikan sesuai Fungsi
Kota Malang3 mingguPengerjaan Jalan Gadang-Bumiayu Dimulai, Pemkot Malang Target Rampung November 2026
Kota Malang3 mingguPelatihan Petugas Sensus, Sekda Erik Tegaskan Tanpa Data Akurat Pemerintah Sulit Tentukan Arah Pembangunan

















