Kota Malang

Sempat Jual Martabak dan Cuci Mobil, Hilal Akhirnya Temukan Asa Baru di Sekolah Rakyat Kota Malang

Diterbitkan

-

DIALOG: Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman, berdialog secara langsung dengan salah satu siswa SRMP 16 Kota Malang, Abdullah Nashiruddin Al Hilali. (memontum.com/rsy)

Memontum Kota Malang – Kisah Abdullah Nashiruddin Al Hilali atau yang akrab disapa Hilal, menjadi salah satu cerita yang mencuri perhatian saat Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman, mengunjungi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Kota Malang, Jumat (12/06/2026) siang. Momen Kepala KSP Dudung yang sempat berdialog secara langsung dengan para siswa, salah satunya Hilal, siapa sangka ternyata memiliki perjalanan hidup berbeda dibanding siswa SMP pada umumnya. Saat diterima di Sekolah Rakyat, Hilal ternyata telah berusia 19 tahun, atau jauh di atas usia rata-rata siswa tingkat SMP.

Bahkan, sebelum kembali mengenyam pendidikan, Hilal harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hilal mengungkapkan, bahwa dirinya pernah menjadi penjual martabak hingga pencuci mobil. Kondisi ekonomi keluarga yang sulit, membuat pendidikannya sempat terhenti. Terlebih, kedua orang tuanya juga telah meninggal dunia.

“Saya tidak punya waktu bermain, karena saya harus menyambung hidup saya sendiri. Saya dahulu pernah berjualan martabak dan pernah pula sebagai pencuci mobil selama enam bulan. Sementara orang tua saya, sudah meninggal,” kata Hilal.

Meski begitu, Hilal tidak menyerah pada keadaan. Kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat, menjadi jalan baginya untuk kembali mengejar cita-cita yang sempat tertunda. Dalam kesempatan itu, Hilal juga mengungkapkan kegelisahannya kepada Kepala KSP Dudung. Kegelisahan itu, yakni karena usianya yang tidak lagi muda akan menjadi kendala saat mencari pekerjaan setelah lulus nanti.

Advertisement

“Maksimal pendaftaran lowongan kerja itu kan usia 25 tahun, sedangkan usia saya lulus dari SRMP nanti sekitar 24 tahun, bagaimana pak?,” tanya Hilal.

Baca juga :

Hal itu pun, langsung dijawab Kepala KSP Dudung dengan optimis. Menurutnya, usia bukanlah penghalang selama seseorang memiliki kemauan belajar dan berusaha memperbaiki kehidupannya.

“Iya insyaallah bisa lah,” ucap mantan KSAD tersebut.

Kisah Hilal tersebut, tentu menjadi gambaran nyata tujuan hadirnya Sekolah Rakyat, yakni memberikan kesempatan kedua bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan mereka yang berisiko putus sekolah untuk kembali mendapatkan pendidikan yang layak.

Advertisement

Dalam kunjungan tersebut, Kepala KSP Dudung juga mengapresiasi perkembangan para siswa Sekolah Rakyat yang dinilai mengalami perubahan signifikan setelah menjalani pembinaan karakter dan pendidikan di lingkungan asrama. “Saya mendapat informasi dari kepala sekolah dan para pembimbing, di awal-awal ada yang ingin pulang. Tetapi melalui pembinaan karakter dan moral, sekarang mereka sudah jauh berbeda. Bahkan ada yang berprestasi,” tambah pria yang juga pernah menjabat sebagai Pangkostrad itu.

Lebih lanjut ditambahkan Dudung, bahwa Sekolah Rakyat merupakan salah satu program prioritas dari Presiden RI Prabowo Subianto, untuk memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang kehilangan akses pendidikan hanya karena persoalan ekonomi. “Harapan Bapak Presiden, tidak ada lagi anak yang tidak sekolah. Semua harus mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak,” imbuh Kepala KSP Dudung. (rsy/sit)

Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Terpopuler

Lewat ke baris perkakas