Connect with us

Hukum & Kriminal

Lanjutan Persidang Bos PT KIS

Diterbitkan

||

Terdakwa Litiansyah King. (gie)
Terdakwa Litiansyah King. (gie)

Saksi Sebut King Catut Nama Mantan Kapolri

Memontum, Kota Malang – Direktur utama PT Karya Indah Sukses (PT KIS) Litiansyah King SE (53) warga Bukit Deng, Kelurahan Pisang Candi, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Kamis (6/8/2020) siang, kembali menjalani sidang pidananya di Pengadilan Negeri Kota Malang.

Agendanya mendengarkan keterangan tiga saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum. Yakni Joko Purwanto (58) warga Perum Puntadewa, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Yusri Hamsyah mantan Direktur Marketing Tambang PT KIS dan Yusron Virmanza, mantan Direktur Operasional Tambang PT KIS. Perlu diketahui bahwa Joko Purwanto adalah suami dari Muskandi Dewi yang menjadi korban dalam kasus dugaan penipuan investasi pengelolaan tambang emas.

Dalam kesaksian Joko Purwanto mengatakan bahwa pihaknya percaya dengan King karena menyebut nama Rusman Hadi, sebagai pemilik tambang. ” Karena yang disebut nama mantan Kapolri, saya percaya dengan King. Tentang pengolahan bahan baku emas seberat 30 ton, dijanjikan akan mendapat 1 kg emas,” ujar Joko.

Pensiunan polisi berpangkat AKBP ini menyebutkan bahwa pihaknya telah mentranfer Rp 205 juta. ” Menurut keterangan terdakwa bahwa Rp 135 juta untuk bahan baku dan Rp 70 juta untuk perlatan pengolahan. Namun dalam perjalanannya bahan baku emas yang dijanjikan tidak pernah ada. Sedangkan peralatan pengolahan hanya berupa plat-plat saja yang harganya tidak sampai Rp 10 juta,” ujar Joko.

Terkait tanah yang disebut akhirnya diketahui bukan milik Rusman Hadi. Melainkan tanah yang dibeli oleh King dari seseorang yang disebut bernama Pak Slamet atau disebut Pak Bodong. Namun keterangan Joko Purwanto ini tidak dibenarkan oleh King. King mengatakan tidak pernah menyebut bahwa tambang milik Rusman Hadi.

Pernyataan King yang menyebut dirinya tidak terlibat dalam kasus ini, dibantah oleh Yusron saat menunggu gilirannya sebagai saksi pada Kamis (6/8/2020) pukul 16.00. Yusron mengatakan dirinya diangkat sebagai Direktur Operasional Tambang PT KIS secara lisan oleh King dan dalam perjalananya tidak mendapat gaji.

” King punya rencana pengelolaan tambang emas itu. Saya sendiri sendiri sebagai korban. Saat itu saya tidak dapat uang malah banyak keluar uang. Kalau kesalahan King dilemparkan ke Yusri dan saya, itu salah besar, bohong besar. Semua skenarionya King. Ini seolah-olah dia mau mencuci tangan tidak mengakui kesalahannya. Harusnya dia jujur saja. Kenapa harus berbohong tidak mengakui kerjasamanya,” ujar Yusron. Persidangan ini memakan waktu yang cukup lama. Bahkan hingga pukul 19.00, persidangan masih berlanjut.

Seperti diberitakan sebelumnya, King, Direktur Utama PT KIS pada Rabu (29/7/2020) pukul 15.30, jalani persidangan di Pengadilan Negeri Kota Malang. Dia didakwa Pasal 372-378 KUHP (Penipuan – Penggelapan) terkait investasi pengolahan hasil tambang emas.

Agenda kali ini adalah pemeriksaan saksi korban yakni pasutri Joko Purwanto (58) dan Ira Muskandi Dewi (48) warga Perum Puntadewa, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, serta Bagas (27) anak korban, serta saksi lainnya yakni Drs Roby RM SH MH. Roby juga korban terkait kasus yang sama, namun pihaknya belum melapor.

Ira Muskandi menjelaskan bahwa kejadian ini terjadi pada tahun 2016. Dia kenal dengan King setelah dikenalkan oleh Yusri Hamsyah Direktur Marketing Tambang PT KIS dan Yusron Virmanza selaku Direktur Operasional Tambang PT KIS.

“Menawarkan kerjasama pengolahan hasil tambang emas. Saya diminta Pak King untuk mentransfer uang total Rp 205 juta ke Jing Tie, istrinya. Pak King mengatakan akan datangkan hasil galiannya dalam bentuk serbuk atau tepung sebagai bahan baku yang siap diolah menjadi emas. Namun bahan baku tersebut tidak pernah ada,” ujar Ira. Sampai saat ini uang miliknya sepeser pun belum dikembalikan oleh King.

Sementara itu King, diantara jeda persidangan skorsing pukul 17.30, menyebut bahwa dirinya tidak terlibat.

” Saya tidak terlibat. Tanda tangan itukan Yusri. Kalau yang menyuruh transfer ke istri saya adalah Yahni. Dia adalah stafnya Yusron,” ujar King saat dikonfirmasi.

Namun informasi yang diperoleh bahwa uang tersebut oleh Jing Tie, istri King sudah ditranfer ke Yahni untuk keperluan PT KIS. (gie)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Lama Tinggal Sendiri di Masa Tuanya, Warga Oro-Oro Dowo Gantung Diri

Diterbitkan

||

Jenazah Suud saat ditemukan. (ist)

Memontum Kota Malang – Diduga depresi karena faktor ekonomi, Suud (77) warga Jl BS Riadi IV, RT 12/RW 02, Kelurahan Oro-Oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Selasa (19/1/2021) pukul 06.00, ditemukan dalam kondisi gantung diri di area belakang kamar mandi umum, tak jauh dari rumahnya.

Kejadian ini pertama kali diketahui oleh Ardi Mulyono (45) tetangganya saat melintas di kamar mandi umum. Kejadian itu selanjutnya dilaporkan ke RT setempat hingga diteruskan ke Polsek Klojen dan PMI Kota Malang. Jenazahnya kemudian dibawa ke kamar mayat RSSA Malang dengan menggunakan ambulan RJT.

Informasi Memontum.com bahwa sehari-harinya Suud tinggal sendiri di rumahnya. Bahkan KK (Kartu Keluarganya) tertera hanya sendiri. Informasinya bahwa Suud memiliki riwayat sakit sesak nafas dan tidak ada biaya untuk berobat.

Diduga Suud melakukan aksinya pada Selasa jelang pagi saat kondisi lokasi masih sepi. Dengan berpijak pada pinggiran sumur, dia pun melakukan aksinya.

Saat ditemukan, Suud dalam kondisi meninggal dengan leher terikat tali tampar warna biru yang diikatkan pada kayu blandar kamar mandi. Kejadian itu membuat geger warga sekitar apalagi lokasi kejadian cukup padat penduduk.

Petugas Polsekta Klojen yang mendapat laporan segera mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah TKP dan meminta keterangan para saksi. Jenazah Suud kemudian dibawa oleh oleh petugas ke kamar jenazah.

Kapolsek Klojen Kompol A Fani Rakhim SIK membenarkan adanya periatiwa gantung diri tersebut. “Korban sehari-harinya tinggal sendiri. Saat ditemukan kondisinya sudah meninggal. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan,” ujar Kompol Fani. (gie)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Longsor Perum GSI, Firasat Roland Pada Postingan 11 Januari 2021

Diterbitkan

||

Screenshot postingan Roland di Facebook pada 11 Januari 2021. (ist)

Memontum Kota Malang – Roland Sumarna (40) warga Perum Griya Sulfat Inside (GSI) Jl Sadang, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, telah menjadi korban dalam peristiwa longsor di halaman depan rumahnya.

Bahkan hingga Senin (18/1/2021) pukul 23.00, tim SAR masih melakukan pencarian. Pihak keluarga sendiri, berharap Roland bisa ditemukan dalam kondisi selamat.

Pada 11 Januari 2021, dalam postingannya Facebook, Roland sempat menuliskan permintaan maaf jika terjadi sesuatu kepadanya.

“Hari ini saya diingatkan lagi tentang kehidupan yang sangat misteri apalagi menyangkut kematian. Jika suatu ketika hal itu terjadi pada saya. Saya mohon maaf yang sebesar besarnya jika saya ada kesalahan selama perjalanan hidup saya. Karena baik buruk yang telah saya lakukan adalah buah dari semangat saya untuk berusaha keras merubah takdir saya. Best regard, Roland Sumarna,” tulisnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, rumah milik Roland Sumarna (40) warga Perum Griya Sulfat Inside (GSI) Jl Sadang, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, longsor saat hujan deras melanda Kota Malang dan sekitarnya, Senin (18/1/2021) pukul 17.30.

Tidak hanya itu, Roland juga diduga ikut menjadi korban dalam peristiwa ini. Informasinya saat terjadi longsor, motor miliknya terperosok. Roland yang berusaha menyelamatkan motornya ikut terseret longsor. Hingga pukul 22.00, belum diketahui keberadaanya namun diduga terseret derasnya aliran Sungai Bango.

Roland Sumarna.

Informasi Memontum.com bahwa sehari-harinya Roland tinggal bersama Yunica (26) istrinya. Di Perum Griya Sulfat Inside Kavling 10, RT09/RW 08. Rumahnya sendiri hanya sekitar 5 meter dari Sungai Bango.

Saat hujan deras, Nurul Alfia (40) warga Jl Ontoseno I, Kecamatan Blimbing. Dia betsama anaknya, Radya (7), Rava (6) dan Cantika (3) sedang bertamu di rumah Roland. Mereka mengobrol bersama Yunica di teras rumah sambil menunggu hujan reda.

Sedangkan Roland saat itu sedang membersihkan gorong-girong depan rumah karena kondisi atus air hujan cukup deras. Tak lama kemudian, terjadi longsong pada bagian halaman depan rumah. Saat itu motor milik Roland dan juga motor milik Nurul ikut tergerus longsor. Begitu juga dengan Roland ikut terbawa longsor ke Sungai Bango.

“Akses depan rumah sudah tergerus longsor. Kami kemudian menyelamatkan diri,” ujar Nurul. Kondisi Yunica sangat syok. Bagiamana tidak saat kejadian dia berada di teras rumah melihat langsung peristiwa longsor tersebut. Kejadian ini selanjutnya dilaporkan ke Petugas Polsekta Blimbing dan SAR Kota Malang.

Petugas kepolisian dan SAR segera mendatangi lokasi, warga perumahan yang berada di sekitar Sungai Bango diungsikan. Sedangkan hingga pukul 22.00, Roland masih dalam pencarian dan berharap dapat ditemukan dalam kondisi selamat.

Kapolrsta Malang Kota Kombes Pol Dr Leonardus Harapantua Simarmata Permata S Sos SIk MH juga sudah berada di lokasi kejadian. ” Saat ini petugas masih di lokasi,” ujar Kasubag Humas Iptu Marhaeni saat dikonfirmasi Memontum.com. (gie)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Dapat Program Asimilasi, 37 Napi Lapas Klas 1 Malang Sujud Syukur

Diterbitkan

||

Sebanyak 37 WBP Lapas Klas 1 Malang dapat asimilasi. (ist)

Memontum Kota Malang – Sebanyak 37 warga binaan Lapas Klas 1 Malang/Lowokwaru sujud syukur mendapatkan program asimilasi, Senin (18/01/2021) pagi.

Percepatan program asimilasi di rumah ini sesuai dengan Permenkumham Nomor 32 Tahun 2020. Ke 37 warga binaan yang memenuhi syarat, dikeluarkan untuk menjalani asimilasi di rumah.

Sebelum melaksanakan program asimilasi, ke 37 WBP (Warga Binaan Kemasyarakatan) ini dipastikan dalam kondisi sehat. Mereka lolos tracking dan tes rapid antigen.

“Ada hampir 200 WBP yang telah diusulkan untuk mendapatkan hak integrasi dan asimilasi di rumah. Sebanyak 37 ini mereka telah selesai pemberkasannya dan juga dalam keadaan sehat atau bebas Covid-19,” ujar Kalapas Klas 1 Malang Anak Agung Gde Krisna.

Tentunya program asimilasi ini membuat WBP merasa bahagia karena bisa berkumpul kembali bersama keluarga di rumah. Mereka pun sujud sykur karena bisa menjalani sisa masa tahanan di rumah. Sujud syukur itu dilakukan saat mereka hendak keluar dari lapas.

“Setelah teman-teman keluar dari sini, pengawasan berada dibawah Bapas Malang. Maka dari itu ikuti arahan dan aturan Bapas dengan baik. Jangan sampai ada yang melanggar. Karena sewaktu-waktu hak asimilasi di rumah bisa kami cabut bila kami memndapat laporan dari Bapas bahwa teman-teman melanggar aturan,” ujar Agung saat memberikan arahan.

Tak hanya itu, Kalapas Klas 1 Malang ini juga peduli dengan kesehatan warga binaaanya yang mendapat program asimilasi. Agar selalu menjaga protokol kesehatan saat menjalani asimilasi di rumah.

“Diluar nanti teman-teman harus sangat berhati-hati karena virus Covid-19 ada dimana-mana. Jaga diri sendiri, disiplin protokol kesehatan. Selalu memekai masker, sering cuci tangan, jaga jarak dan hindari kerumunan. Kalau di sini, para petugas selalu siap mengingatkan. Bilamana sakit, poliklinik Lapas siap membantu dan merawat. Namun setelah diluar nanti, teman-teman harus jaga diri masing-masing,” ujar Agung.

Setelah bebas, 37 WBP ini diserahkan langsung ke Bapas Kelas I Malang demi menyelesaikan administrasi. Para Petugas Kemasyarakatan Bapas nantinya yang akan bertugas memantau perkembangan para warga binaan yang menjalani asimilasi di rumah. (gie)

Lanjutkan Membaca

Terpopuler