Connect with us

Hukum & Kriminal

Dua Jambret HP Raisa, Ngaku Untuk Tambahan Uang Jajan

Diterbitkan

||

Tersangka Gustia dan Frans saat dirilis . (ist)
Tersangka Gustia dan Frans saat dirilis . (ist)

Memontum Kota Malang – Dua pelaku jambret Gustia Ahmat Pero (23) warga asal Air Umban, Kecamatan Pino, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu dan Frans Syaputra (20) warga Deaa Sindang Bulan, Kecamatan Sugimin, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, Selasa (21/7/2020) pukul 15.00, akhirnya dirilis di Mapolresta Malang Kota.

Dia adalah pelaku jambret yang dihajar massa pada Sabtu (18/7/2020) pukul 20.30 di kawasan Puncak Villa Tidar, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Saat dirilis, dua warga perantauan ini mengaku nekat menjambret karena ada kesempatan setelah melihat korbannya sedang mengendarai motor sambil telp. Rencananya ponsel milik korban akan dijual untuk tambahan uang jajan sehari-hari. ” Rencananya untuk tambahan kebutuhan sehari-hari,” ujar Gustia.

Wakapolresta Malang Kota AKBP Totok Mulyanto Dinoyo saat merilis kedua tersangka mengatakan bahwa tersangka dikenakan Pasal 363 KUHP dengan ancaman 7 tahun penjara. ” Tersangka mengaku baru pertama kali melakukan aksi penjambretan. Dia kami kenakan Pasal 363 KUHP,” ujar AKBP Totok.

Seperti yang diberitakan sebelumnya Gustia dan Frans dihajar massa di kawasan Puncak Villa Tidar. Kedua pelaku yang sehari-harinya tinggal di Jl Pelabuhan Tanjung Perak, Kelurahan Bakalan Krajan, Kecamatan Sukun, Kota Malang, tertangkap basah saat melakukan penjambretan HP Samsung A7 milik Raisa (24) mahasiswi asal Banjarmasin, yang kos di kawasan Dinoyo Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Aksi penjambretan itu terjadi di Jl Puncak Mandala, Kelurahan Pisang Candi, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Informasi Memontum.com bahwa malam itu Raisa mengendarai motornya. Saat itu dia menelphon temannya sambil berkendara. Ponsel diletakkan di telinga kirinya di dalam helm. Pelaku yang mengendarai motor metic secara berboncengan mengetahui hal itu hingga melakukan pengejaran dari arah belakang.

Salah satu pelaku berbadan gendut yang berada di boncengan beraksi sebagai eksekutor. Motor Raisa kemudian di pepet daei sebelah kiri. Tangan kanan pelaku dengan cepat merampas HP tersebut.

Usai menguasai HP korban, kedua pelaku tancap gas ke arah barat. Beruntung korban masih bisa meneriakinya jambret hingga warga berdatangan melakukan pengejaran. Para pelaku sempat hebeberapa kali terhalang portal.

Sebab saat ini banyak portal tutup dan pelaku nampaknya buta peta sekitar lokasi hingga beberapa kali harus putar balik. Para pelaku tertangkap di Villa Pincak Tidar, Kecamatan Sukun. Pelaku sempat mebuang ponsel hasil jarahannya. Namun percuma hal itu diketahui oleh warga yang berhasil menangkapnya.

Keduanya dihajar massa. Rekamannya sempat diposting di media sisial Facebook. Beruntung petugas Polsekta Sukun segera tiba di lokasi kejadian melakukan pengamanan. Keduanya kemudian dibawa ke Polsekta Sukun untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Kapolsekta Sukun Kompol Suyoto SH MH saat dikonfirmasi Memontum.com membenarkan adanya kejadian itu. ” Ada 2 orang yang kami amankan. Kami masih melakukan pengembangan,” ujar Kompol Suyoto. (gie/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Ungkap Cepat Kasus Pencabulan Anak, Komnas PA Apresiasi Kinerja Polres Malang Kota

Diterbitkan

||

oleh

Ungkap Cepat Kasus Pencabulan Anak, Komnas PA Apresiasi Kinerja Polres Malang Kota
KOMNAS: Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait dan Wakapolresta Malang Kota AKBP Deny Heryanto. (Ist)

Memontun Kota Malang – Ketua Komisi Nasional Pelindungan Anak (Komas PA), Arist Merdeka Sirait, Selasa (25/01/2022), mendatangi Mapolres Malang Kota. Kedatangaanya tidak lain memberikan apresiasi dan mensuport kepada penyidik Reskrim Polresta Malang Kota dalam menangani kasus pencabulan terhadap anak.

Kedatangan Komnas PA ini, diterima langsung oleh Wakapolresta Malang Kota, AKBP Deny Heryanto SIK MSi dan Kasatreskrim Polresta Malang Kota, Kompol Tinton Yudha Riambodo SIK SH. Apresiasi dan suport itu langsung disampaikan oleh Arist karena petugas Polresta Malang Kota dengan cepat mengungkap setiap ada kejahatan terhadap anak.

Seperti dalam penanganan kasus pencabulan dan penganiayaan terhadap anak beberapa waktu lalu yang sempat viral di media sosial. Juga dengam cepat menangkap guru tari jaranan yang telah mencabuli dan menyetubuhi beberapa siswanya.

Menurut Arist, aksi bejat guru tari ini harus ditangani dengan cepat dan tepat. Ia mengatakan, kasus kejahatan terhadap anak tidak bisa dibiarkan. “Saya baru dengar guru tari lakukan kejahatan seksual, ini tidak bisa dibiarkan. Kami sepakat jika terbukti dan ada dua alat bukti tidak ada kata ampun toleransi apalagi damai,” ujarnya.

Baca juga :

Pihaknya sangat prihatin dengan ulah guru tari berinsiail YR, yang sudah dirilis beberapa waktu lalu. “Seorang oknum guru tari diduga melakukan kejahatan seksual kapada para siswinya. Tempo hari ada 7 orang korban, kini malah tambah 3 orang korban lagi. Semuanya, masih anak anak,” ujarnya.

Sementara itu, Wakapolresta Malang Kota, AKBP Deny Heryanto mengaku, apa yang dilakukan Ketua Komnas PA, adalah sesuai tupoksinya. “Salah satu tipoksi dari Komnas PA. Kami tentu mengapresiasi. Apalagi, untuk kasus anak, memang harus cepat penangananya,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, oknum guru tari berinisial YR alias Yahya (37), warga kawasan Kecamatan Klojen, Kota Malang, dibekuk petugas Reskrim Polresta Malang Kota. Dia ditangkap karena telah mencabuli tujuh murid perempuannya yang masih di bawah umur. Korbannya berumur 12 tahun hingga 15 tahun. Bahkan enam diantaranya sudah disetubuhi.

Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto SIK MSi, menjelaskan bahwa penangkapan bermula dari adanya 7 laporan dari orang tua maupun keluarga korban. “Pada tanggal 17 dan 18 Januari 2022 terdapat laporan, bahwa adanya tindak asusila oleh satu orang tersangka yang berprofesi sebagai guru sanggar tari di Kota Malang,” ujar Kombes Pol Budi Hermanto, saat pers rilis di Mapolresta Malang Kota, Kamis (20/01/2022). (gie)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Lansia Asal Probolinggo Ditemukan Tak Bernyawa di Sungai Amprong Kota Malang

Diterbitkan

||

oleh

Lansia Asal Probolinggo Ditemukan Tak Bernyawa di Sungai Amprong Kota Malang

Memontum Kota Malang – Seorang Lansia bernama Muhyi (62) warga Probolinggo ditemukan dalam kondisi meninggal di Sungai Rolak Amprong, Jalan Umar Maksum, RT 01/ RW 02, Kedungkandang, Kota Malang, Selasa (25/01/2022).

Kapolsek Kedungkandang, Kompol Yusuf Suryadi, mengatakan bahwa korban pertama kali ditemukan oleh warga di sekitar sungai tersebut. “Kami mendapatkan laporan dari warga bahwa telah ditemukan sesosok mayat hanyut di sungai, sekitar pukul 10.30,” ujar Kompol Yusuf Suryadi.

Setelah mendapatkan laporan tersebut, Kompol Yusuf dan anggotanya langsung menuju lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi serta penyelidikan identitas korban. Dari hasil penyelidikan, diketahui korban ternyata sedang berkunjung ke rumah anaknya yang berada di Sekarpuro, Pakis, Kabupaten Malang, Sabtu (22/01/2022) lalu. “Karena korban ini terbiasa Buang Air Besar (BAB) di sungai. Selanjutnya diantarkan keluarganya ke sungai,” jelasnya.

Baca juga

Namun setelah pulang dari sungai, lanjut Kompol Yusuf, korban melontarkan kalimat rumah anaknya itu bukan rumahnya sendiri. Sejak saat itu korban keluar rumah dan tak kunjung kembali. Karena korban tak kunjung pulang, selanjutnya pihak keluarga membuat informasi orang hilang di Media Sosial (Medsos), Minggu (23/01/2022).

“Kemudian saat penemuan mayat korban, kami menemukan kesamaan ciri-ciri orang hilang yang ada di Medsos. Seketika itu, saya langsung menghubungi keluarganya,” tambah Kompol Yusuf.

Berdasarkan informasi yang didapat pihak kepolisian dari keluarganya, diketahui bahwa korban memiliki penyakit pikun. Sejauh ini, kompol Yusuf menduga korban terpeleset dan akhirnya hanyut di sungai. “Tidak ditemukan luka bekas pukulan pada mayat korban. Sementara ini, diduga korban terpeleset dan akhirnya tercebur ke sungai hingga hanyut sampai Sungai Rolak,” ujarnya.

Saat akan diotopsi, pihak keluarga korban tidak berkenan dan dan membuat surat pernyataan tidak dilakukan otopsi. Pihak kelaurga ikhlas atas meninggalnya korban. “Karena keluarga tidak bersedia korban diotopsi, langsung saya hubungi Rumah Sakit Syaiful Anwar agar langsung memandikan jenazah korban,” tutup Yusuf. (cw1/gie)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Oknum Guru Tari Dibekuk Polresta Malang Kota, Diduga Cabuli hingga Setubuhi Tujuh Gadis di Bawah Umur

Diterbitkan

||

oleh

Oknum Guru Tari Dibekuk Polresta Malang Kota, Diduga Cabuli hingga Setubuhi Tujuh Gadis di Bawah Umur

Memontum Malang – Oknum guru tari berinisial YR alias Yahya (37), warga kawasan Kecamatan Klojen, Kota Malang, dibekuk petugas Reskrim Polresta Malang Kota. Tersangka ditangkap, karena diduga telah mencabuli tujuh murid perempuannya yang masih di bawah umur.

Korbannya sendiri, masing-masing berumur sekitar 12 tahun hingga 15 tahun. Bahkan enam diantaranya sudah disetubuhi.

Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto SIK MSi, menjelaskan bahwa penangkapan bermula dari adanya 7 laporan dari orang tua maupun keluarga korban. “Pada tanggal 17 dan 18 Januari 2022 terdapat laporan bahwa adanya tindak asusila oleh satu orang tersangka yang berprofesi sebagai guru seni di sanggar tari di Kota Malang,” ujar Kombes Pol Budi Hermanto, saat pers rilis di Mapolresta Malang Kota, Kamis (20/01/2022).

Atas laporan dan barang bukti, YR berhasil ditangkap pada Selasa (18/01/2022). Pelaku yang merupakan guru sanggar tari jaranan, melakukan aksinya dengan modus meditasi bersama di kamar lantai dua rumah tersangka. Dengan diiming-imingi jika korban melakukan ritual tersebut, maka korban bisa menjadi penari jaranan yang hebat.

Baca juga :

“Ternyata, korban dicabuli saat dibawa ke dalam suatu kamar. Mulai diraba-raba dan dilakukan aksi pencabulan lain. Dari tujuh korban, enam korban disetubuhi. Bahkan ,diantaranya ada yang sudah tiga kali disetubuhi,” imbuhnya.

Diketahui, tambahnya, pelaku mempunyai banyak murid di sanggar tarinya. Total, ada sebanyak 62 penari dengan rincian 41 laki-laki dan 21 perempuan. Korban yang menjadi sasaran dari pelaku berkisar usia 12 tahun hingga 15 tahun. “Akibat dari perbuatannya, pelaku dikenakan pasal 81 dan 82 UU RI No.35 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman 15 tahun hukuman penjara,” ujarnya.

Kini, petugas Polresta Malang Kota masih terus melakukan pengembangan. “Kami masih terus melakukan pendalaman. Kami imbau, jika ada korban lain untuk segera mralpor ke Polresta Malang Kota,” ujar Kombes Pol Bidi Hermanto.

Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, Kompol Tinton Yudha Riambodo SIK, menambahkan bahwa tersangka melakukan aksinya di rumah istri sirinya di kawasan Kelurahan Gadingkasri, Kecamatan Klojen. Aksinya dilakukan di lantai dua karena di lantai satu digunakan untuk latihan tari. “Terkait kondisi korban, kami mengedepankan tim trauma healing Polresta Malang untuk membantu psikologi korban,” ujar Kompol Tinton. (cw1/gie)

Lanjutkan Membaca

Terpopuler