Connect with us

Kabar Desa

Kampung Tangguh Bareng Tenes, Andalkan 7 Aspek Menuju New Normal

Diterbitkan

||

Pos utama penanganan Barnes Tangguh RW 02.(mg2)
Pos utama penanganan Barnes Tangguh RW 02.(mg2)

Memontum Kota Malang – Bareng Tenes salah satu wilayah di Kecamatan Klojen Kota Malang selalu memberi gebrakan-gebrakan barunya dalam mengatasi polemik. Kampung Tangguh RW 02 ini, menjadi solusi terdampak covid-19. Selain didukung oleh pemerintah, sejumlah elemen masyarakat khususnya Bareng Tenes juga ikut berkontribusi besar untuk membangun kampung tangguh ini. Warga memberi lebel nama mereka dengan sebutan Barnes Tangguh (Bareng Tenes Tangguh).

“Kenapa kita beri nama Barnes Tangguh, karena kita berbeda dengan Kampung Tangguh yang lain. Mereka berfokus pada bantuan logistik dan alat-alat pencegah Covid-19. Namun kita akan berfokus pada segala aspek mulai dari penyuluhan, pendidikan, penangan, pengamatan, pengawasan hingga keselamatan,” ujar Ketua RW 02, Pancoro.

Sosialisasi bersama warga terkait dampak dari covid19 dan juga pengetahuan terhadap dampak lockdown bagi masyarakat.(mg1)

Sosialisasi bersama warga terkait dampak dari covid19 dan juga pengetahuan terhadap dampak lockdown bagi masyarakat.(mg1)

Terdapat 7 aspek utama yang harus dilaksanakan Kampung Tangguh, yaitu Tangguh Kesehatan, Budaya, Logistik, Keamanan, SDM, Psikologi dan Informasi. Yang menarik dari Barnes Tangguh ini, mereka bukan hanya berfokus kepada satu hal seperti Kampung Tangguh yang lain namun dari segala aspek mereka akan lakukan seperti terdapat rumah isolasi khusus untuk persiapan kemungkinan terjadinya hal buruk. Seluruh warga selain mendapat bantuan, mereka juga dapat berkontribusi besar setelah mendapat informasi yang jelas.

“Kita ini butuh penyuluhan untuk memberi pemahaman kepada warga. Contohnya seperti kemarin banyak sekali daerah-daerah di lockdown, lalu warga bertanya kenapa kita gak lockdown juga seperti mereka? Nah dari situ kita harus memberi pemahaman kepada mereka lockdown itu apa dampaknya seperti apa, agar mereka bisa memberi keputusan yang baik dan benar,” ujarnya.

Jadi dalam pandemi Covid-19 Barnes Tangguh akan membentuk pemahaman kepada warga agar dapat lebih memahami dampaknya. Sehingga dapat berkontribusi secara maksimal dan juga sudah dapat di persiapkan menuju New Normal mendatang. (mg1/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kabar Desa

Gempa Blitar Rusak Atap Rumah Warga di Bakalan Krajan Malang

Diterbitkan

||

Memontum Kota MalangGempa berkekuatan 6.2 Skala Richter (SR) yang berpusat di Kabupaten Blitar Jumat (21/05) ternyata berdampak hingga Kota Malang. Salah satunya membuat atap rumah salah satu warga di Perum Griya Tirta Aji, Kelurahan Bakalan Krajan, Kecamatan Sukun.

“Benar, karena gempa yang terjadi pukul 19.09 WIB Jumat kemarin (21/05) membuat rumah Pak Iwan Sutisna rusak. Dimana atap salah satu ruangannya rusak, namun untung saja tidak ada korban jiwa,” ujar Koordinator Lapangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, Cornellia Selvyana Ayoe, Sabtu (22/05).

Baca juga:

    Dijelaskan wanita yang akrab disapa Selvy itu, kerusakan terdiri dari plafond ukuran 1.5 x 2 meter yang ambrol. Usut punya usut, ambrolnya plafond karena tertimpa batu bata gewel berukuran 1.5 x 1 meter. “Jika dihitung kerugiannya, kurang lebih mencapai Rp1.8 juta,” tambahnya.

    Oleh karena itu pihak BPBD dibantu beberapa unsur terkait lainnya langsung melakukan berbagai tindakan rekomendasi. Yaitu dengan menyediakan triplek 8 lembar, semen 1 zak, dan batu-bata 75 buah untuk penanggulangan rumah terdampak gempa ini.

    “Selain itu kami juga lakukan assesment terkait kerusakan, kerugian, dan sumber daya yang terdampak di lokasi kejadian. Kemudian juga pemasangan Barricade Line dan pembersihan material di lokasi kejadian oleh TRC BPBD Kota Malang,” urainya.

    Selvy pun tak lupa mengimbau warga untuk tidak terlalu mendekat ke lokasi kejadian. (mus/ed2)

    Lanjutkan Membaca

    Kabar Desa

    Kampung Budaya Polowijen Laksanakan Tradisi Megengan

    Diterbitkan

    ||

    Memontum Kota Malang – Komuitas Perempuan Bersanggul Nusantara Malang dan Surabaya selenggarakan tradisi Megengan Mapag Wulan Poso. Bertempat di Kampung Budaya Polowijen, lebih dari 30 perempuan bersanggul lakukan ritual tradisi dan pelestarian budaya, Sabtu (10/04) ini.

    Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi, mengatakan bahwa Komunitas Sanggul Nusantara awalnya sengaja datang untuk melakukan studi budaya.

    “Nah kebetulan pas dengan Mapag Wulan Poso, maka acara megengan ini kita selenggarakan,” jelasnya.

    Baca Juga :

    Megengan Mapag Wulan Poso, dijelaskan pria yang akrab disapa Ki Demang ini, merupakan salah satu tradisi orang Jawa yang memeluk agama Islam. Dimana selalu dilaksanakan pada saat bulan akhir menjelang bulan Ramadhan.

    “Megengan dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan diri dan melakukan pensucian agar siap menyambut bulan puasa. Sebelum masuk bulan puasa, setidak-tidaknya orang sudah berserah dan mawas diri siap untuk melaksanakan ibadah puasa,” bebernya.

    Lebih lanjut Ki Demang juga menjelaskan bahwa kesiapan itu dilakukan dengan meminta maaf pada sesama. Dan jajanan apem menjadi simbol saling maaf memaafkan.

    Setelah melakukan prosesi megengan, dilanjutkan dengan nyadran atau ziarah ke makam nenek moyang dan leluhur.

    “Itu sebagai salah satu wujud membersihkan diri kita, sekaligus meminta doa agar para pendahulu kita dilapangkan kuburnya dan diterima amalannya,” tambahnya.

    Tak hanya itu, dalam prosesi tersebut juga memohon doa untuk keselamatan, kemudahan, ketabahan, serta kesehatan untuk seluruh masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini.

    Sementara itu, Ketua Komunitas Perempuan Bersanggul Nusantara, Sani Repriandini, menyatakan bahwa keikutsertaan pihaknya disini adalah bentuk dukungan akan pelestarian budaya.

    “Kita sebagai Perempuan Bersanggul Nusantara mendukung penuh adanya pelestarian budaya, salah satunya Megengan, Mapag Wulan Poso. Kita mendukung dengan tetap berkostum kebaya dan bersanggul, yang selama ini sudah hampir tidak pernah dipakai,” terangnya. (mus/ed2)

    Lanjutkan Membaca

    Kabar Desa

    Kecamatan Sukun Siapkan 1200 Masker

    Diterbitkan

    ||

    oleh

    Kegiatan Camat Sukun saat membagikan masker pada masyarakat. (memo x/cw1)
    Kegiatan Camat Sukun saat membagikan masker pada masyarakat. (memo x/cw1)

    Kompak Kampanyekan Disiplin Gunakan Masker

    Memontum, Malang – Disiplin bermasker merupakan hal yang saat ini paling gencar dikampanyekan di Indonesia. Kota Malang adalah salah satu kota yang dipercaya untuk kampanye berdisiplin penggunaan masker Selasa (11/8/2020) pagi.

    Pada rapat koordinasi dengan jajaran dan para pelaku usaha serta Perbankan di Ruang Sidang Balaikota yang digelar oleh Walikota Malang, Sutiaji (5/8/2020) kemarin merupakan bukti bahwa Pemkot Malang serius dalam menjalankan program displin bermasker yang digalang Presiden RI (Jokowi).

    Salah satu hasil dalam rapat koordinasi itu adalah Setiap kepala perangkat daerah juga menyatakan siap mendonasikan 1.000 masker sehingga nantinya akan terkumpul sekitar 100 ribu masker.

    Menyikapi hasil rapat koordinasi tersebut dan dalam rangka mendukung gerakan bermasker, Kecamatan Sukun memiliki 1200 masker yang siap dibagikan kepada warga Sukun sendiri. Saat ditemui di Kampung Tangguh RW 04 Poharin Kelurahan Karangbesuki Kecamatan Sukun Kota Malang pada Minggu (9/8/2020) kemarin.

    Camat Sukun I. K. Widi E. Wirawan mengungkapkan bahwa 1200 masker tersebut berasal dari 12 kelurahan di Kecamatan Sukun. “Jadi, setiap kelurahan menyumbangkan 100 masker,” jelasnya.

    Widi mengaku gerakan mendukung 26 juta masker yang dicanangkan oleh Pemerintah adalah untuk menyadarkan warga agar patuh mengenakan masker. “Semua masyarakat diharapkan sadar akan itu, selain mengenakan, jika bisa menyumbangkan untuk masyarakat yang lain,” imbuhnya.

    Widi menjelaskan bahwa edukasi kepada warganya terus dilakukan melalui lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti RT, RW, LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan), dan lainnya. “Saat ini, selain untuk kesehatan, peran juga sebagai gaya hidup,” terangnya.

    Pemerintah berharap memakai masker saat ini dapat menjadi sebuah kebiasaan dan livestyle baru untuk saat ini. Disamping itu, diwaktu yang berbeda, Walikota Malang, Sutiaji saat ditemui di depan Ruang Sidang Balaikota (10/8/2020) mengatakan untuk mendukung gerakan bermasker dan demi menekan bertambahnya kasus covid-19 akan memberikan sanksi atau punishment bagi warga yang tidak mematuhi protokol kesehatan covid-19.

    “Nanti akan ada Revisi perwal 20, ada panishment untuk orang yang tidak taat protokol covid-19,” tegasnya. Sutiaji berharap warga disiplin menggunakan masker bukan hanya karena ada punishment, melainkan memang kesadaran diri untuk meamtuhi protokol kesehatan covid-19 dan menjadikan masker sebagai kebiasaan baru. (cw1/man)

     

    Lanjutkan Membaca

    Terpopuler