Connect with us

Hukum & Kriminal

Perkara PT KAI Digugat Warga, Pihak KAI Sebut Bukan Proyek Strategis Nasional

Diterbitkan

||

Memontum, Kota MalangSidang gugatan 7 warga Jl Sartono SH, Kota Malang terhadap PT KAI nampaknya masih berjalan cukup panjang. Pada Rabu (30/4/2020) siang, sidang gugatan ini kembali berlanjut di PN Kota Malang. Dengan agenda pemeriksaan saksi ahli yang dihadirkan pihak penggugat.

Perlu diketahui bahwa sebelumnya, Fariz Aldiano Modal SH, kuasa hukum menyebut bahwa sterilisasi yang dilakukan oleh PT KAI di kawasan belakang Stasiun Kota Lama ini dianggap tidak sesuai dengan Perpres 62 Tahun 2018 hingga sangat merugikan pihak penggugat.

Sidang Lanjutan gugatan warga terhadap PT KAI. (Ist)

Sidang Lanjutan gugatan warga terhadap PT KAI. (Ist)

Sementara itu Malfin Renaldi SH, kuasa hukum tergugat bersikukuh bahwa PT KAI tidak harus melaksanakan Perpres 62 Tahun 2018 dikarenakan stresilisasi ini bukanlah proyek strategis nasional. Melainkan untuk kepentingan PT KAI sendiri.

“Tadi keterangan ahli yang dihadirkan pihak penggugat malah menguatkan bantahan kami. Ahli dari pihak penggugat bahwa perpres 62 Tahun 2018, harus dikaitkan dengan 3 Perpres lainnya terkait percepatan proyek strategi nasional. Sekali lagi bahwa Sterilisasi PT KAI ini bukan proyek perceparan strategi nasional jadi penanganannya tidak tunduk pada Perpres 62 Tahun 2018, ” urai Malfin.

“Dr Supriadi yang dihadirkan sebagai saksi ahli penggugat yakni ahli hukum administrasi negara dan tata negara. Tadi sempat saya tanya apakah ada proyek Strategis Nasional di Stasiun Kota Lama? Sterilisasi ini akan dimanfaatkan untuk pemaksimalan lahan dan ini murni inisiatif PT KAI bukan penugasan pemerintah,” ujar Malfin.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, sebanyak 7 warga Jl Sartono SH Kota Malang, menggugat PT KAI di Pengadilan Negeri Kota Malang. Mereka menggugat karena rumahnya telah digusur PT KAI secara sepihak dengan ganti kerugian bangunan yang cukup murah.

Fariz Aldiano Modal SH, kuasa hukum warga saat bertemu Memontum.com di PN Malang pada Kamis (16/1/2020) siang, menjelaskan bahwa para kliennya telah digusur secara sepihak.

“Sebagai pihak penggugat keberatan dengan penggusuran PT KAI. Karena sebelum-sebelumnya saat pertemuan tidak ada kesepakatan besaran ganti rugi,” ujar Aldiano usai sidang di PN Malang.

BACA :

Sterilisasi yang dilakukan oleh PT KAI di kawasan belakang Stasiun Kota Lama ini dianggap tidak sesuai dengan Perpres 62 Tahun 2018.

“Perpres 62 sudah kami sampaikan kepada PT KAI, namun Perpres itu tidak dihiraukan. Alasannya mereka punya dasar hukum sendiri peraturan BUMN. Padahal sterilisasi terkait kepentingan proyek nasional harus menggunakan Perpres 62 Tahun 2018. Harus memperhatikan dampak sosial kepada warga yang digusur, namun hal itu tidak diperhatikan pihak Daop 8 PT KAI, ” ujar Aldiano (gie/oso)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Maling Terekam CCTV, Curi Dua Sepeda di Teras Rumah

Diterbitkan

||

Aksi pelaku terekam kamera CCTV. (ist)
Aksi pelaku terekam kamera CCTV. (ist)

Memontum Kota Malang – Dua pelaku pencurian terekam jelas dalam CCTV saat beraksi mencuri dua sepeda pancal di rumah milik Anis Setiawati (46) warga Jl Bantaran II, No 34 RT 02/RW 02, Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Rabu (25/11/2020) pukul 02.25 WIB.

Dua pelaku mencuri sepeda pancal merk Polygon dan sepeda gunung merk Pasific Exotic hingga kerugian mencapai Rp 5 juta.

Informasi Memontum.com, bahwa dari rekaman CCTV itu semula pelaku berjalan dari arah timur ke barat. Satu pelaku berbadan kurus memakai topi merah dan satu pelaku bertubuh gendut memakai topi hitam tanpa masker. Keduanya tampak mengawasi rumah korban.

Setelah memastikan kondisi TKP sepi, pelaku bertopi merah memanjat pagar tembok sisi samping barat rumah korban. Sedangkan pelaku yang bertubuh gemuk menunggu diluar pagar. Jika dilihat dari rekaman CCTV, pelaku melakukan aksinya cukup tenang.

Korban menunjukan lokasi sepeda yang hilang. (ist)

Korban menunjukan lokasi sepeda yang hilang. (ist)

“Pelaku mencuri sepeda polygon terlebih dahulu. Sepeda tersebut diangkat lalu diberikan kepada temannya yang menunggu di luar pagar. Selanjutnya sepeda kedua yang dicuri adalah sepeda gunung Pasific Exotic. Sepeda itu juga diangkat dan diserahkan ke temannya,” ujar Anis.

Usai mengeluarkan dua sepeda tersebut, pelaku kemudian menaikinya dan kabur ke Jl Bantaran Gang I C. “Kejadian ini beru dikerahui sekitar pukul 04.00 WIB, saat adik saya mau berangkat Salat Shubuh ke Masjid. Saat itu melihat dua sepeda pancal di teras telah hilang. Kemudian dilakukan pengecekan di CCTV hingga diketahui aksi pencurian ini,” ujar Anis.

Hingga Kamis (26/11) siang, pihaknya belum melapor ke pihak kepolisian. “Kalau Pak RT, pihak Kelurahan dan Babinsa sudah ke rumah menanyakan prihal kejadian ini. Dalam waktu dekat, kami akan laporkan kejadian ini ke pihak kepolisian,” ujar Anis.

Jika dilihat dari rekaman CCTV, tampak terlihat jelas wajah salah satu pelakunya. (gie)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Dugaan Korupsi RPH Kota Malang, Kejaksaan Tetapkan Satu Tersangka

Diterbitkan

||

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Malang Dino Kriesmiardi SH MH . (gie)
Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Malang Dino Kriesmiardi SH MH . (gie)

Memontum, Kota Malang – Dugaan kasus korupsi penggemukan hewan sapi, Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang kisaran Tahun 2017-2018, terus berkembang. Bahkan pihak Kejaksaan Negeri Kota Malang telah menetapkan satu orang sebagai tersangka.

Namun untuk identitas tersangka masih dirahasiakan. Sebab tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka lainnya.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Malang Dino Kriesmiardi SH MH, saat dikonfirmasi Memontum pada, Kamis (26/11/2020) pagi, membenarkan bahwa pihaknya telah menetapkan satu tersangka.

“Update terbaru penyidikan RPH Kota Malang, pada Minggu lalu di hari Kamis dan Jumat dilanjut Senin dan Selasa kemarin, BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) perwakilan Provinsi Jawa Timur di Surabaya, telah melakukan klarifikasi 12 saksi yang sebelumnya sudah kami periksa. Diantaranya 8 dari RPH, 2 dari Inspektorat dan ada 1 dari bagian hukum. Pihak BPKP fokus pada jumlah kerugian negera,” ujar Dino.

Perihal satu tersangka yang sudah ditetapkan, untuk sementara identitasnya maaih dirahasiakan. “Sudah ada penetapan satu tersangka, namun saat ini belum bisa kami sebutkan. Sesegera mungkin ada pengembangan kemungkinan menyusul tersangka lain. Saat ini ada pihak ketiga kita panggil, kita lacak belum ketemu,” ujar Dino.

Untuk pihak ketiga tersebut, diduga kuat bakal menjadi tersangka lainnya dan sampai saat ini masih dalam pencarian.

“Upaya kami berkoordinasi dengan intelejen Kejagung terkait pelacakan yang bersangkutan. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Untuk kerugian negara lebih dari Rp 1,5 miliar ,” ujar Dino.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, pihak kejaksaan Negeri Kota Malang telah membidik salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Malang.

Bahkan pihaknya hingga, Rabu (10/6) siang, telah memeriksa 5 orang untuk diklarifikasi terkait dugaan kasus korupsi menimbulkan kerugian pihak Pemkot Malang senilai kisaran lebih dari Rp 1 miliar. Saat ini kejaksaan masih mengumpulkan data dan keterangan terkait permasalahan ini. Sebab diduga kasus ini terjadi antara Tahun 2017-2018.

Adapun pihak yang sudah diperiksa, 8 orang dari RPH, 2 dari BPKAD, 3 orang dari badan pengawas RPH, dan 1 dari Dinas Pertanian.

“Kemungkinan saksi bisa bertambah. Nanti saksi yang sudah diperiksa juga ada yang akan kita panggil ulang untuk pendalaman pemeriksaan. Juga nanti ada saksi ahli. Saksi ahli dari BPKP terkait perhitungan kerugian negara. Dinamika proses penyidikan, alat bukti akan terus kita gali. Saat ini sudah ada alat bukti diantaranya dokumen penyertaan modal, permohonan pengajuan proposal, proses pencairan dan perjanjian penggemukan sapi,” ujar Dino. (gie)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Ditinggal Tidur, Rumah Pensiunan Dosen Ludes Terbakar

Diterbitkan

||

Petugas PMK Kota Malang saat melakukan pemadaman. (ist)
Petugas PMK Kota Malang saat melakukan pemadaman. (ist)

Memontum Kota Malang – Rumah milik Darius (70) pensiunan dosen Universitas Brawijaya (UB), warga Danau Ngebel III F5K1 RT 1 RW 13, Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Rabu (25/11/2020) siang, terbakar. Diduga kebakaran itu akibat korsleting listrik di bagian rumah sebelah timur.

Informasi Memontum.com bahwa siang itu saat korban sedang sendirian di kamar rumah, tiba-tiba listrik padam. Oleh karena itu korban pun berencana keluar rumah untuk menanyakannya kepada tetangga.

Namun saat membuka pintu kamar, api sudah membesar membakar kamar sebelah timur dan bagian ruang tamu. Disaat bersamaan warga sudah berdatangan mengajak korban untuk segera keluar rumah.

Warga pun kemudian melakukan pemadaman dengan air seadanya dan melaporkan kejadian ini ke PMK Kota Malang.Petugas PMK Kota Malang tiba di lokasi sekitar pukul 12.59 WIB. Sebanyak 19 personel dengan 5 mobil Damkar dikerahkan untuk melakukan pemadaman.

Darius, pemilik rumah. (ist)

Darius, pemilik rumah. (ist)

Sekitar pukul 13.15 WIB, api sudah berhasil dipadamkan dengan penggunaan air sebanyak 12.000 liter.

Diduga kebakaran berasal dari korsleting listrik di kamar sebelah timur. Sebab informasinya ada kabel yang terkelupas dan belum sempat dibetulkan. Meskipun tidak ada korban jiwa namun akibat kejadian ini korban alami kerugian sebesar Rp 100 juta.

Kapolsek Kedungkandang Kompol Yusuf Suryadi saat dikonfirmasi Memontum.com membenarkan adanya kejadian itu. “Dugaan sementara akibat korsleting listrik,” ujar Kompol Yusuf.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Malang, Teguh Budi Wibowo mengatakan bahwa pihaknya melakukan pemadaman dan pendingan di rumah korban sekitar 25 menit.

“Kami juga melakukan pemadaman dan pendinginan agar tidak muncul titik api susulan. Dugaan awal akibat korsleting listrik,” ujar Teguh. (gie)

Lanjutkan Membaca

Terpopuler