Connect with us

Hukum & Kriminal

Perjuangan Warga Menuntut Ganti Rugi Layak

Diterbitkan

||

Perjuangan Warga Menuntut Ganti Rugi Layak

Buntut Penggusuran Rumah Warga oleh PT KAI

Memontum, Kota Malang – Gugatan 7 warga Jl Sartono SH, Kota Malang terhadap PT KAI, masih terus berjalan. Warga menuntut keadilan mendapatkan ganti rugi yang layak dari PT KAI, terkait penggusuran rumahnya.

Seperti halnya pada Jumat (13/3/2020) pagi, majelis hakim yang menyidangkan gugatan warrga ini, mendatangi lokasi dalam agenda sidang Peninjauan Setempat (PS) di Jl Sartono SH.

majelis hakim menyimpulkan para penggugat dan tergugat di Stasiun Kota Lama. (gie)

majelis hakim menyimpulkan para penggugat dan tergugat di Stasiun Kota Lama. (gie)

Sebanyak 7 rumah warga yang berada di objek sengketan sudah hilang pasca dirobohkan beberapa waktu lalu. Namun dalam PS ini telah diakui oleh kedua belah pihak baik penggugat maupun tergugat bahwa di objek tersebut sebelumnya terdapat bangunan rumah.

Para kuasa hukum warga yakni Fariz Aldiano Modal SH, Hendra Siagian SH, Viktor Marpaung SH dan Wilhem SH, juga hadir di lokasi. Begitu juga dengan kuasa hukum PT KAI juga hadir ke lokasi PS.

Menurut keterangan Hendra Siagian SH, bahwa pihaknya akan terus memperjuangkan hak warga yang terkena penggusuran PT KAI.

“Tadi kita PS. Bahwa adanya objek di lokasi diakui oleh penggugat dan tergugat. Bangunan fisiknya sudah tidak ada karena sudah dirobohkan pihak tergugat (PT KAI). Bangunan objek gugatan tadi juga diakui tergugat bahwa bangunan itu ada sudah ada sejak lama. Pihak dari kelurahan juga tadi juga menyatakan bahwa jalan tersebut adalah jalan kampung. Disangkal oleh pihak PT KAI bahwa jalan yang di lokasi masih tanahnya. Namun diketahui bahwa jalan yang berada di objek dipergunakan masyarakat banyak,” ujar Hendra.

Warga akan terus berjuang untuk mendapatkan ganti rugi layak agar mampu kembali memiliki tempat tinggal pasca penggusuran PT KAI.

“Sebelumnya, warga disuruh meninggalkan rumahnya oleh PT KAI. Warga membawa barang-barangnya yang dianggap masih layak dan dipergunakan. Jadi masih ada bangunan yang itu, namun kini sudah dirobohkan. Total ada 7 bangunan dengan dalil sudah memberikan uang boyong. Tapi apa yang telah diberikan sebagai ganti rugi kami artikan tidak patut, karena tidak sesuai Perpres 62 Tahun 2018. PT KAI melakukan sterilisasi namun kami sebut itu adalah penggusuran. Harusnya gunakanlah Perpres bukan SOP. Karena SOP itu untuk kepentingan internal, bukan untuk kepentingan eksternal,” ujar Hendra.

Sementara itu Malfin Renaldi SH, kuasa hukum tergugat mengatakan bahwa pihaknya sudah memberikan tali asih sesuai SOP.

“Warga keberatan jumlah nilai uang bongkar yang kami sebut uang tali asih. Itu tanah kita, karena kemanusiaan jami berikan tali asih Rp 250 ribu untuk 1 meter perseginya untuk bangunan permanen. Pada prinsipnya sudah disepakati. Buktinya warga telah memberikan nomer rekening untuk tali asih,” ujar Malfin.

Pihaknya keberatan saat disebut sebagai pembongkar rumah warga. “Bangunan itu dibongkar sendiri oleh warga. Hanya saja meninggalkan sisa bangunan. Sisa bangunan itulah yang kami bongkar. Kami hanya menertibkan aset kami. Semua tanah kami sudah terpasang patok-patok. BUMN ada SOP nya dalam pembayaran tali asih. Harga Rp 250 ribu per meter persegi berlaku di seluruh Indonesia. Kalau sampai tali asih lebih dari SOP, bisa malah kita kena kasus korupsi,” ujar Malfin.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, sebanyak 7 warga Jl Sartono SH Kota Malang, menggugat PT KAI di Pengadilan Negeri Kota Malang. Mereka menggugat karena rumahnya telah digusur PT KAI secara sepihak dengan ganti kerugian bangunan yang cukup murah.

Fariz Aldiano Modal SH, kuasa hukum warga saat bertemu Memontum.com di PN Malang pada Kamis (16/1/2020) siang, menjelaskan bahwa para kliennya telah digusur secara sepihak.

“Sebagai pihak penggugat keberatan dengan penggusuran PT KAI. Karena sebelum-sebelumnya saat pertemuan tidak ada kesepakatan besaran ganti rugi,” ujar Aldiano usai sidang di PN Malang.

BACA : PT KAI Digugat Warga Terkait Rencana Penggusuran Rumah, Berharap Perpres 62 Tahun 2018 Dijalankan

Sterilisasi yang dilakukan oleh PT KAI di kawasan belakang Stasiun Kota Lama ini dianggap tidak sesuai dengan Perpres 62 Tahun 2018.

“Perpres 62 sudah kami sampaikan kepada PT KAI, namun Perpres itu tidak dihiraukan. Alasannya mereka punya dasar hukum sendiri peraturan BUMN. Padahal sterilisasi terkait kepentingan proyek nasional harus menggunakan Perpres 62 Tahun 2018. Harus memperhatikan dampak sosial kepada warga yang digusur, namun hal itu tidak diperhatikan oleh pihak Daop 8 PT KAI ,” ujar Aldiano.(gie/oso)

 

Hukum & Kriminal

Diduga Tersambar Petir, Rumah Kontrakan Terbakar

Diterbitkan

||

Petugas PMK Kota Malang saat melakukan pemadaman. (ist)
Petugas PMK Kota Malang saat melakukan pemadaman. (ist)

Memontum Kota Malang – Rumah kontrakan di Jl. Peltu Sujono Gang Dahlia No. 12A RT 10 /RW 05 Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Minggu (29/11/2020) pukul 15.00, mendadak terbakar.

Rumah yang ditempati oleh Rekah (29) sopir Grab, asal Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang ini mendadak terbakar saat hujan deras melanda Kota Malang dan sekitarnya.

Informasi Memontum.com bahwa Rekah baru sebulan ini mengontrak rumah di lokasi kejadian. Sekitar pukul 14.00, Rumah dalam kondisi sepi karena Rekah dan keluarganya sedang keluar rumah.

Hujan lebat melanda Kota Malang dan sekitarnya. Sekitar pukul 15.00, terdengar suara petir mengelegar dan diduga menyambar rumah kontrakan tersebut hingga mengakibatkan korsleting listrik. Sebab setelah suara petir tersebut rumah Rekah terbakar.

Lokasi Kejadian.

Lokasi Kejadian.

Kejadian itu membuat kaget warga sekitar hingga mendatangi lokasi kejadian melakukan pemadaman dengan air seadanya. Karena api terus berkobar, kejadian ini selanjutnya dilaporkan ke Polsek Sukun dan PMK Kota Malang.

Sebanyak 3 mobil Damkar dengan 15 personil datang ke lokasi untuk melakukan pemadaman. Api baru berhasil dipadamkan setelah 20 menit dilakukan pemadaman dengan menghabiskan 8000 liter air. Kerugian sendiri diperkirakan mencapai Rp 15 juta.

Kapolsek Sukun Kompol Suyoto SH MH, saat dikonfirmasi Memontum.com membenarkan adanya kebakaran tersebut.

“Sampai dengan api berhasil dipadamkan korban Rekah belum bisa dihubungi karena sedang bepergian. Kebakaran yang terjadi dimungkinkan karena musibah tersambar petir dan korsleting arus listrik,” ujar Kompol Suyoto. (gie)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Mobil BMW Terbakar di Jl Bendungan Bening

Diterbitkan

||

Petugas PMK Kita Malang saat memadamkan mobil BMW yang terbakar. (ist)
Petugas PMK Kita Malang saat memadamkan mobil BMW yang terbakar. (ist)

Memontum Kota Malang – Mobil BMW X5 Nopol B 1288 WLR milik Yogiswara Tantalana Prajinapsi (28) warga Jl Bendungan Bening, RtT03/RW 07, Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Minggu (29/11/2020) pukul 09.20, terbakar.

Mobil teraebut mendadak terbakar saat hendak digunakan keluar rumah. Saat Yogi sedang memanaskan mesin, langsung saja mobilnya terbakar.

Informasi Memontum.com bahwa sebelum kejadian Yogi berniat keluar rumah dengan menggunakan mobilnya. Dia kemudian memanaskan mesin namun tiba-tiba muncul api membakar dashboard mobilnya.

Karena api semakin membesar, kejadian itu selanjutnya dilaporkan ke petugas PMK Kota Malang. Tak berselang lama petugas Damkar Kota Malang tiba di lokasi. Sebanyak dua mobil Damkar dengan 12 personel datang ke lokasi.

“Jarak tempuh kita 5 km hingga cepat mendatangi lokasi. Kondisi yang terbakar di area dashboard mobil. Dugaan awal, kabel AC mobil korsleting listrik. Karena mayoritas material dashboard terbuat dari plastik, api langsung cepat membesar. Proses pemadaman membutuhkan waktu 15 menit,” ujar Teguh Budi Wibowo, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Malang.

Kerugian akibat kebakaran ini diperkirakan mencapai Rp 50 juta. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun ada salah satu warga yakni Khoirun (25), alami luka robek pada bagian jari tangan terkena pecahan kaca mobil. (gie)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Beraksi di Jl Bukit Dieng, Jambret Incar Ibu-ibu

Diterbitkan

||

Foto diduga pelaku jambret yang diposting di media sosial oleh Dany, adik korban. (repro)
Foto diduga pelaku jambret yang diposting di media sosial oleh Dany, adik korban. (repro)

Memontum Kota Malang – Pelaku jambret kembali beraksi di Kota Malang. Seperti biasanya mereka mengincar ibu-ibu sebagai sasarannya.

Kali ini, korbannya adalah Suwanti (52) warga asal Jl Semeru Selatan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang yang sehari-harinya bekerja di kawasan Dieng, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Suwanti menjadi korban jambret saat berjalan kaki di Jl Bukit Dieng, Kecamatan Sukun, Kota Malang, pada Kamis (26/11/2020) pukul 06.27 WIB. Akibat dari kejadian itu, dia kehilangan dompet miliknya yang berisikan uang Rp 2,4 juta.

Informasi Memontum.com bahwa sebelum kejadian, Suwanti berjalan kaki berencana belanja sayur di warung dekat tempat kerjanya. Karena tidak ada pikiran buruk, Suwanti berjalan kaki sambil membawa dompet di tangan.

Diduga saat itu sudah ada pelaku yang mencari sasaran di sekitar TKP. Setelah melihat Suwanti berjalan kaki sambil membawa dompet, pelaku kemudian membuntutinya dari arah belakang.

Saat kondisi sepi, pelaku mulai memepetkan motornya. Dengan cepat, pelaku menarik paksa dompet yang saat itu berada di tangan kanan Suwanti.

Karena kejadiannya cukup cepat, Suwanti pun menjadi kaget hingga dompet berisi uang Rp 2,4 juta itu terlepas dari tangannya.

“Kakak saya kena jambret setelah berjalan sekitar 10 meteran. Setelah melakukan penjambretan dan berhasil menguasai dompet itu, pelaku langsung tancap gas kabur ke arah pintu keluar perumahan. Kakak saya sudah berteriak meminta tolong, namun saat itu lokasi dalam kondisi sepi hingga pelakunya berhasil kabur,” ujar Dany Munif, adik Suwanti.

Kejadian itu cukup membuat Suwanti merasa syok. Kejadian itu pun diceritakan ke pihak keluarga dan warga sekitar. Saat dilakukan pengecekan CCTV, aksi pelakunya sempat terekam kamera.

“Ciri-cirinya mengendarai motor honda Beat. Jaket abu-abu dan bermasker. Perawakannya sedang tidak kurus dan tidak pula gemuk. Kejadian ini oleh kakak saya sudah dilaporkan ke Polsek Sukun,” ujar Dany.

Kini Suwanti hanya bisa berharap petugas kepolisian berhasil menangkap pelakunya dan uang miliknya bisa kembali. (gie)

Lanjutkan Membaca

Terpopuler