Connect with us

Berita

Pasca Tewasnya Kakak Adik Tertabrak Malioboro Ekspres, Perlintasan KA Gang Dahlia Ditutup

Diterbitkan

||

Penutupan perlintasan KA liar di Gang Dahlia. (ist)
Penutupan perlintasan KA liar di Gang Dahlia. (ist)

Memontum, Kota Malang – Perlintasan Kereta Api (KA) di Km 52 + 3/4 Gang Dahlia, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jumat (28/2/2020) pagi akhirnya ditutup oleh PT KAI Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya.

Perlintasan KA tanpa plang pintu tersebut dianggap sangat membahayakan. Seperti halnya peristiwa pada Rabu (26/2/2020) pukul 08.35. Kakak beradik Eko Wahyudi Santoso (27) dan Puji Dwi Laksono (21) keduanya warga Jl Gadang Gang XIB, Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun, tewas seketika tertabrak KA Malioboro Ekspres No. 171 No Loko 2039816.

Seperti halnya dijelaskan oleh Manager Humas PT KAI Daop 8 Surabaya, Suprapto bahwa penutupan perlintasan liar ini karena sangat membahayakan masyarakat pengguna perlintasan.

“Seperti pada Rabu kemarin, ada 2 pengendara motor yang meninggal usai terserempet kereta api saat melintas di perlintasan ini. Kita tutup secara permanen sehingga tidak bisa digunakan lagi. Kita bongkar jalan semenya, lalu kita pasang patok di pinggir rel dan di berikan portal pantek mati sehingga tidak bisa lagi dilalui. Rencananya kita akan menutup semua perlintasan KA liar, ” ujar Suprapto.

BACA : Ditabrak Malioboro Ekspres, Kakak Beradik Warga Gadang Tewas di Lokasi

Seperti diberitakan sebelumnya, Kakak beradik Eko Wahyudi Santoso (27) dan Puji Dwi Laksono (21) keduanya warga Jl Gadang Gang XIB, Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Rabu (26/2/2020) pukul.08.35, tewas seketika tertabrak KA Malioboro Ekspres No. 171 No Loko 2039816.

Keduanya tertabrak saat mengendarai motor Honda Vario warna merah Nopol N 2519 ABR menyebrang di perlintasan Kereta Api (KA) di KM 52/4 Gang Dahlia, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang.. Jenazahnya kemudian dievakuasi dibawa ke kamar mayat RSSA Malang. (gie/oso)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Sembuh dari Corona, Mahasiswa UB Ajak Lawan Covid-19 dengan Hidup Sehat dan Bersih

Diterbitkan

||

Sembuh dari Corona, Mahasiswa UB Ajak Lawan Covid-19 dengan Hidup Sehat dan Bersih
Resha HW, mahasiswa UB positif corona, telah dinyatakan sembuh

Memontum Kota Malang – Terinfeksi virus corona bukanlah aib, namun sebuah wabah yang semua orang bisa kena. Pesan ini disampaikan oleh Rhesa HW, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya yang telah dinyatakan sembuh dari positif corona virus. Pesan semangat yang ditularkan kepada masyarakat ini, sebagai bentuk semangat kesembuhan dan psikologis agar terus percaya diri berjuang melawan Covid-19 (corona virus desease 2019).

Rhesa menceritakan bagaimana pengalamannya selama menjadi pasien positif. Apa dan bagaimana virus corona, dan hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama sakit. Untuk itu, dia berpesan kepada PDP, suspect, dan positif untuk tidak panik. Jangan terlalu memikirkan pandangan masyarakat. Yang penting bagaimana motivasi dan upaya diri sendiri untuk sembuh.

“Bagi yang dirawat di rumah sakit, ikutilah prosedur petugas kesehatan. Fokus untuk sembuh aja. Bagi yang sehat, jangan takut sama orang yang sedang dalam pengawasan. Ikuti prosedur pemerintah. Tetap jaga kesehatan, jaga kebersihan dan makan-makanan bergizi,” seru Rhesa.

Rhesa menambahkan, virus hanya bisa dilawan oleh imun tubuh. Obat-obatan sifatnya hanya membantu meredakan gejalanya saja. “Perbanyak doa. Ini adalah momen yang sangat tepat untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan,” pesan Rhesa menutup wawancara.

Sementara, Humas Satgas Covid-19 UB Eriko Prawestiningtyas SpF, mengaku bersyukur, karena Rhesa berkenan diajak mengedukasi masyarakat untuk menambah wawasan. “Allhamdulillah dengan berkenannya yang bersangkutan dan ibunya, cukup bisa menambah wawasan orang awam tentang apa dan bagaimana sesungguhnya Covid-19,” apresiasi Eriko.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FK UB ini mengatakan, tim promosi kesehatan Satgas Covid-19 juga terus mengedarkan flyer empati dimana salah satu poinnya adalah memahami perasaan orang lain dan peka terhadap lingkungan sekitar. (adn/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Berita

APTISI Imbau Kampus-Kampus PTS Bantu Warga Terdampak Covid -19

Diterbitkan

||

Ketua APTISI Jatim Prof Dr Suko Wiyono SH MH di Kampus Universitas Wisnu Wardhana. (gie)
Ketua APTISI Jatim Prof Dr Suko Wiyono SH MH di Kampus Universitas Wisnu Wardhana. (gie)

Memontum Kota Malang – Wabah Covid-19 sangat berdampak besar bagi perekonomian masyarakat. Tentunya hal ini harus terus diperhatikan bagaimana kelangsungan hidup warga terdampak. Sebagai bentuk kepedulian terhadap warga terdampak, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah VI Jawa Timur, Prof Dr Suko Wiyono, SH, MH, terus mengimbau PTS -PTS di Jawa Timur untuk ikut berpartisipasi membantu warga terdampak Covid-19.

“APTISI Jawa Timur punya kebijakan untuk membantu teman-teman kita yang terdampak Covid-19. Pedagang kaki lima yang biasanya jualan di sekitaran sekolah, jadi sepi karena sekolahnya libur. Di sekitaran kampus juga banyak penjual-penjual yang tidak bisa lagi jualan. Kalapun saat ini tetap jualan juga sepi pembeli,” ujar Prof Suko, pada Selasa (31/1/2020) siang.

Dari bentuk keprihatinan ini APTISI Jawa Timur terus melakukan pengalangan. “Komisariat 1 meliputi wilayah Surabaya dan Madura, Komisariat 2 meliputi Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Komisariat 3 meliputi Probolinggo, Jember hingga Banyuwangi, Komisariat 4 meliputi Malang Raya dan Pasuruan, Komisariat 5 meliputi Lamongan, Tuban, Bojonegoro dan Komisariat 6 meliputi Blitar, Tulungagung, Nganjuk hingga Ngawi. Saya sangat yakin PTS-PTS akan banyak yang peduli dengan para korban yang terdampak Covid-19. Membantu pemerintah dalam menangani Corona. Mereka sudah merespon dengan baik dan melaksanakan,” ujar Prof Suko.

Tentunya bagi yang disumbangkan sesuai dengan kemampuan masing-masing PTS. ” Sudah banyak yang action dan partisipasi, namun ada juga yang belum. Mungkin karena masih sibuk. Saat ini sudah banyak yang siap. Saat ini memang sudah banyak, ada yang atas nama APTISI maupun memakai identitas sendiri. Bisa mendonasikan sembako, masker, Hand Sanitizer. Apa yang disumbangkan terserah . Saya yakin ini akan terus mengelinding di semua PTS. Semuanya peduli sesuai dengan kemapuannya,” ujar Prof Suko.

Dalam memberikan sumbangan juga diimbau supaya berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar tidak salah dan tumpang tindih. ” Saya berharap alangkah baiknya koordinasi dengan Pemda jangan sampai tumpang tindih sasarannya. Dikuatirkan ada yang sudah dapat beberapa kali, namun ternyata ada juga warga yang belum dapat. Titip ke Pemda boleh, tidak titip juga boleh. Tapi tetap harus koordinasi dengan Pemda,” ujar Prof Suko saat bertemu Memontum.com di Kampus Universitas Wisnu Wardhana Kota Malang.

Perlu diketahui bahwa Aptisi Komisariat IV Wilayah VI Jatim pada Senin (30/3/2020) telah menyumbangkan beruoa sembako, Hand Sanitizer serta masker. Sumbangan itu secara simbolis telah diterima langsung di Balaikota Malang. (gie/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Berita

RS UMM Produksi APD Coverall dan Safety Chamber, Tekan Covid-19

Diterbitkan

||

RS UMM Produksi APD Coverall dan Safety Chamber, Tekan Covid-19
Safety Chamber bikinan RS UMM. (ist)

Memontum Malang – Berawal dari kebutuhan menjaga keselamatan tenaga medis dari tertularnya virus Covid-19 mematikan, civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat inovasi di bidang kesehatan, berupa alat Safety Chamber atau bilik keselamatan untuk menunjang kerja dokter. Alat berbentuk kotak transparan ini digadang mampu meminimalisir penularan.

“Saat melakukan pemeriksaan pasien, biasanya mereka bersin atau batu-batuk. Alat ini dibuat untuk menghindarkan tertularnya tenaga kesehatan saat menyentuh dan mendiagnosa pasien terduga Covid-19,” terang dr Thontowi Djauhari, MKes, Koordinator Tim Tanggap Covid-19 RSU UMM.

dr Thontowi Djauhari, MKes. (ist)

dr Thontowi Djauhari, MKes. (ist)

Cara penggunaannya, pasien tinggal masuk ke pelindung yang terbuat dari bahan mika ini untuk diketahui gejala yang dirasakan. Tenaga medis yang bertugas tentunya akan lebih aman karena dipisahkan ruang dari pasien. “Alat ini tentunya bukan satu-satunya standar keselamatan yang kami pakai. Kami akan tetap menggunakan alat perlindungan diri (APD),” imbuh Thontowi.

Meski masih dalam tahap penyempurnaan, sambung Thontowi, ke depan alat ini akan dilengkapi dengan sejumlah fitur lain untuk lebih meminimalisir peluang penularan. Seperti penambahan alat bantu bernapas, sehingga pasien tetap merasa nyaman saat dilakukan pemeriksaan di dalam Safety Chamber.

Dilanjutkan Thontowi, alat inovasi kesehatan prakarsa UMM di tengah pandemi global Covid-19 ini rencananya akan diproduksi massal untuk membantu rumah sakit rujukan pasien Covid-19 dan para tenaga kesehatan. “Perawatannya mudah, tinggal dibersihkan dengan alkohol. Atau cukup menggunakan sabun deterjen. Karena deterjen lebih efektif membersihkan,” ungkap Thontowi.

Thontowi berharap, ada pihak yang bersedia membantu mengembangkan dan mendanai projek inovasi kesehatan ini. “Ke depan, jika ada stakeholder yang berminat mendanai alat ini agar bisa diproduksi secara massal. Tentu UMM melalui RSU UMM akan secara senang hati membuka pintu kerjasama agar inovasi ini juga bisa dipakai di banyak rumah sakit,” harapnya.

Terkait penunjukkan RS UMM oleh Pemprov Jatim dalam produksi baju APD, Thontowi membenarkan jika Bakorwil Malang telah mengambil blue print desain APD Coverall itu. Thontowi optimis pemerintah Provinsi Jatim bisa menggerakkan UMKM untuk memproduksinya lebih banyak untuk mencukupi kebutuhan tenaga medis. “Saya percaya Tim Pemprov bisa menggerakkan UMKM untuk memproduksi. Kebutuhan APD di RS UMM saat ini mencukupi,” terangnya, seperti dilansir suarasurabaya.

Menurut Thontowi, seyogyanya RS mempersiapkan diri menghadapi apabila ada lonjakan pasien COVID-19 mendatang. Kebutuhan APD untuk menangani COVID-19, sekali menangani pasien ditaksir membutuhkan 18 Coverall, mulai dari UGD, Poli, ruangan, dikali tiga shift. “Minimal Rumah Sakit itu sedia 1.000 Coverall. Perhitungan perang kita hingga dua bulan lagi. Untuk APD biasa minimal punya 4.000. Kalau pakai yang mahal semua, Rumah Sakit bisa kolaps,” timpalnya.

Pakaian Coverall yang diproduksi RS UMM di kisaran harga Rp 150 ribu per potong. Hal itu sudah sesuai standar keamanan medis. “Kalau tidak menangani pasien COVID-19, bisa pakai APD yang biasa sekitar Rp 50 ribuan,” tandasnya. (adn/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler