Connect with us

Hukum & Kriminal

Warga Perum Prisma Cluster Tuntut Keadilan, Sudah Memiliki SHM, Malah Digugat

Diterbitkan

||

Warga Prisma Cluster bersama Drs EC Mujianto SH M Hum. (gie)
Warga Prisma Cluster bersama Drs EC Mujianto SH M Hum. (gie)

Memontum, Kota Malang – Sebanyak 19 warga pemilik rumah di Perum Prisma Cluster Jl Candi VI, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, hingga Kamis (23/1/2020) siang, masih terus mencari keadilan. Bagaimana tidak, rumah yang dibelinya secara resmi dan sudah ber SHM (Surat Hak Milik), saat ini terancam direbut orang lain.

Mereka mempertahankan rumahnya dan bakal terus melakukan perlawanan. Sebab sejak Tahun 2018 lalu, mereka digugat perdata oleh kakak adik Eddy Susanto dan Agus Susanto, keduanya warga Denpasar Bali.

Menurut keterangan Fikri Alamudi SE, salah satu warga Prisma Cluster menceritakan bahwa dia membeli rumah di Prisma Cluster pada Tahun 2014.

“Saya beli secara resmi dan sudah ber SHM. Sama sekali tidak ada masalah. Namun pada Tahun 2016, saat saya mau menjual rumah saya sendiri, ternyata diblokir BPN Kota Malang tanpa surat blokir resmi. Diblokir selama bertahun-tahun tanpa surat blokir resmi,” ujar Fikri.

Tidak hanya itu, diveloper Prisma Cluster dan 19 warga yang telah membeli rumah di Prisma Cluster juga digugat perdata pada Tahun 2018.

“Kemudian ada gugatan kira-kira pertengahan Tahun 2018. Bahwa katanya sertifikat induk di Prisma Cluster, double,” ujar Fikri.

Dalam berjalannya waktu setelah diteliti kembali dipengadilan mengginakan aplikasi resmi Sentuh Tanahku dari ATR/BPN Pusat Kementerian Agraria, ternyata ada perbedaan lokasi.

“Setelah diteliti kembali di pengadilan menggunakan aplikasi sentuh resmi BPN, ternyata lokasi penggugat dengan yang digugat berjarak sekitar 1,5 km.Jadi ini sesuatu yang tidak masuk akal tapi dipaksakan untuk masuk akal. Penggugatnya di wilayah sigura-gura. Sangat jauh dengan Perumahan Prisma Cluster.Keseluruhan yang digugat dan diblokir ada 19 warga, semuanya tidak bisa transaksi,” ujar Fikri.

Pihaknya juga sudah mendapat informasi kalau pihak Diveloper yakni Totok, sudah pernah dipanggil polisi pada Tahu 2015.

“Kita sudah tanya ke developer, Pak Totok. Dia mengakui bahwa pernah dipanggil polisi tahun 2015 untuk membuktikan surat-surat induk untuk Prisma Cluster Luasnya sekitar 3900 m2 kemudian dipecah pecah menjadi 19 Kavling, semuanya SHM dan semuanya resmi tidak ada masalah,” ujar Fikri.

Apakah disini ada indimasi mafia tanah atau tidak harapannya segera terbongkar. “Apakah ada indikasi mafia tanah atau tidak semoga segera terbongkar. Pastinya juru ukur BPN dari pihak penggugat, saat ini ditahan oleh Kejaksaan karena tersandung kasus tanah Pemkot di Oro-Oro Dowo yang dikuasai pihak ke tiga yang tahun 2019 kemarin mencuat,” ujar Fikri.

Drs EC Mujianto SH MHum, kuasa hukum warga Prisma Cluster mengatakan bahwa ada perbedaan lokasi jika dilihatndari aplikasi Sentuh Tanahku BPN.

“Kalau dalam gambar situasi, itu sertifikatnya sama-sama menunjuk di Prisma Cluster, tapi setelah kita selidiki di dalam ATR BPN melalui Sentuh Tanahku di pusat, itu beda alamat. Milik penggugat sejauh 1,5 km dimana disana juga ada bangunan ruko yang dibuat Gym. Jadi lucu, di dalam buku tanah secara fisik itu gambarnya sama, tetapi kalau kita teliti melalui ATR BPN secara satelit itu beda jauh. Disinilah yang membedakan, maka kita harus perlu diluruskan ini biar terang benderang,” ujar Mujianto.

Diceritakan kembali bahwa bahwa penggugat adalah anak Sutrisno alm. “Menurut keterangan disitu anaknya Sutrisno yang rumahnya di Bali. Jadi tidak pernah mendiami disitu, tapi punya surat keterangan waris. Namun informasi kami peroleh Pak Sutrisno tidak mempunyai anak. Surat itu dibuat oleh notaris Luluk Waghfiroh SH Mkn,” kata Mujianto.

“Harapannya kita tetap memperoleh hak kami yang sebenarnya, karena kami mempunyai SHM yang sesuai prosedur. Kalau dia mengklaim membeli mulai tahun 1993 ya, tapi 2007 kan beralih ke Pak Yamin. Tapi kenapa penggugat itu tidak menguasai obyeknya, nggak pernah tau tempatnya. Baru setelah beberapa tahun timbul masalah ini,” ujar Mujianto lagi. (gie/oso)

 

Hukum & Kriminal

BCT Disatroni Curanmor, 3 Pelaku Segera Apes?

Diterbitkan

||

BCT Disatroni Curanmor, 3 Pelaku Segera Apes

Memontum, Kota Malang – Para pelaku Curanmor terus saja bergentayangan layaknya hantu di Kota Malang. Mereka mengintai motor hang terparkir dalam kondisi tak terjaga. Kali ini, mereka berhasil mencuri motor Honda Beat Nopol L 3525 RQ milik Putri Nur Anisa Larasati (21), mahasiswi di Kota Malang.

Motor tersebut hilang saat di parkir halaman kos temannya di Perum Bukit Cemara Tujuh Blok E No 2, RG 07/RW 07, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Kamis (27/2/2020) pukul 19.50. Kejadian Curanmor ini, telah dilaporkan ke Polresta Malang Kota dan masih dalam penyelidikan petugas untuk menangkap pelakunya.

Informasi Memontum.com bahwa malam itu Putri datang ke kos temannya di Perum Bukit Cemara Tujuh. Motor dimasukan ke halaman kos dan pintu pagar juga sudah ditutup.

“Pagar tertutup namun tidak digembok. Motor saya parkir dalam kondisi terkunci stang stir. Sata kemudian masuk ke dalam kos,” ujar Putri.

Diduga pelaku melakukan aksinya sekitar pukul 19.50. Sebab saat itu terdengar pintu pagar terbuka. Palaku melakukan aksinya dalam hitungan detik. Sebab saat teman korban melakukan pengecekan, pelaku sudah berhasil menguasai motor dan segera kabur.

“Teman saya melihat motor milik saya sudah dinaiki 3 orang pelaku. Sempat dikejar namun mereka berhasil kabur,” ujar Putri.

Kini Putri hanya bisa berharap petugas kepolisian berhasil mengamankan pelakunya dan menemukan motornha yang hilang.

“Semoga motor milik saya segera ditemukan oleh petugas kepolisian,” ujar Putri kepada Memontum.com. (gie/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Divonis 20 Tahun, Sugeng Kasus Mutilasi Pasar Besar Mengaku Puas, PH Ajukan Banding

Diterbitkan

||

Sugeng Santoso usai dengarkan putusan majelis hakim. (gie)
Sugeng Santoso usai dengarkan putusan majelis hakim. (gie)

Memontum Malang – Terdakwa Sugeng Santoso (49) warga Jodipan Gang III, Kota Malang, akhirnya jalani sidang vonis pada Rabu (26/2/2020) pukul 15.00 di Pengadilan Negeri (PN) Malang. Majelis Hakim Dina Pelita Asmara SH MH membacakan putusan setebal 100 lembar tersebut. Putusan setebal 100 lembar tersebut akhirnya disepakati untuk dibacakan point-pointnya saja.

Sugeng divonis terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP.

“Menghilangkan nyawa kemudian dimutilasi adalah tindakan yang sadis dan membuat resah masyarakat. Hal yang memberatkan terdakwa karena sudah pernah dihukum, memberikan keterangan berbelit-belut dan tidak jujur. Sedangkan hal yang meringankan terdakwa dikemudian hari diharapkan bisa memperbaiki diri lebih baik. Diputus 20 tahun penjara dipotong masa tahanan,” ujar Dina.

Tentunya vonis 20 tahun penjara ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni penjara seumur hidup. Saat keluar dari ruang persidangan, Sugeng tampak lunglai. Dia terlihat pasrah dengan putusan majelis hakim.

Saat ditanya puas atau tidak dengan vonis itu, Sugeng mengatakan puas dan bahkan terlihat menunjukan jempol tangannya. Namun dibalik semua itu itu entah apa yang dipikirkan Sugeng setelah mendengar bahwa dirinya bakal menjadi penghuni tahanan selama 20 tahun.

Tim Penasehat Hukum Sugeng dari LBH Peradi Malang Raya, Andik Purnomo SH bahwa pihaknya akan mengupayakan banding.

“Kami hargai putusan majelis hakim. Namun ada beberapa keberatan dari kami yang seharusnya menjadi. Pertimbangan namun tidak diungkap. Dakwaan awal menyebut korban dibunuh dengan menggunakan gunting namun tadi saat putusan disebut digorok dengan menggunakan cutter. Padahal hasil visum tidak terungkap penyebab kematian. Tidak disebutkan penyebab kematian. Pasal yang didakwakan adalah 340 KUHP harusnya visum jelas bunyinya. Tidak pernah diketahui sebab kematiannya. Kita akan upayakan banding,” ujar Andik.

Perlu diketahui bahwa dalam pembelaannya beberapa waktu lalu, Iwan Kuswardi SH MH Ketua Tim LBH Peradi Malang Raya menyebut bahwa selama ini tidak ada saksi satupun yang melihat Sugeng telah membunuh Mrs X di Pasar Besar.

Selain itu disebut pula bahwa Sugeng memutilasi tunuh Mrs X saat dalam kondisi sudah meninggal dunia sesuai dengan hasil visum yakni potongan Post Mortem.

Sementara itu Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Kota Malang Wahyu Hidayatiullah SH MH, mengatakan bahwa pihaknya masih pikir-pikir apakah akan banding atau tidak terkait putusan majelis hakim terhadap Sugeng. Dimana putusan lebih ringan dari tuntutan JPU.

“Putusan ini saya menghormati apa yang selama ini kita buktikan sependapat dengan majelis hakim. Perkara ini akan pikir-pikir selama 7 hari sambil menunggu hasil laporan ke Kejati,” ujar Wahyu. (gie/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Pasca Pihak The Rich Sasando Digugat Terkait Pembelian Tanah

Diterbitkan

||

M Fauzi saat klarifikasi terkait gugatan yang ditujukan kepada kliennya. (gie)
M Fauzi saat klarifikasi terkait gugatan yang ditujukan kepada kliennya. (gie)

M Fauzie : Kami Segera Gugat Balik

Memontum, Kota Malang – Pihak pengembang Perum The Rich Sasando, PT Tunggal Jaya Propertindo nampaknya bakal menggugat balek Roy Rafidianta. Pasalnya Direktur PT Tunggal Jaya Propertindo sebelumnya telah digugat oleh Roy yakni sebagai tergugat IV, prihal gugatan melawan hukum dengan nomer gugatan 43/Pdt.G/2020/PN Malang.

M Fauzi SH Kuasa hukum PT Tunggal Jaya Propertindo menjelaskan bahwa gugatan tersebut telah merugikan Perum The Rich Sasando. Pihaknya menjelaskan bahwa PT Tunggal Jaya Propertindo membeli tanah milik Lilik Suprapti, tidak dalam kondisi sengketa dan bermasalah. Perlu diketahui bahwa dalam gugatan yang diajukan oleh Roy di PN Malang, Lilik Suprapti menjadi tergugat 1.

“Perlu saya jelaskan di sini saya juga menjadi kuasa hukum tergugat I, Tergugat II, Tergugat III dan Tergugat IV. Saya klarifikasi bahwa bu Lilik Suprapti pada tahun 2017 menjual 2 tanah miliknya yakni seluas 193 meter dan 196 meter persegi. Bu Lilik bertemu dengan penggugat di notaris Duri Astuti, Januari Tahun 2017, disepakati harga Rp 4, 250.000.000. Oleh Roy saat itu dibuat kan surat tanda jadi dan dibayar Rp 3 juta. Akan dibayar lagi Rp 50 juta jika Bu Lilik sudah mengurus surat ahli waris,” ujar Fauzie.

Namun setelah surat ahli waris diurus, uang Rp 50 juta belum juga diaerahkan oleb Roy kepada Lilik. “Dalam perjanjian di tanda jadi tersebut, dijelaskan bahwa Lilik akan dibayar Rp.50 juta jika selesai mengurus surat ahli waris. Sisa pembayaran akan dibayar setelah objek tanah diukur BPN dan tanah dibelakang lokasi dapat dibeli oleh Roy maka akan dibayar sisa kekurangan kepada Bu Lilik, ” urai Fauzi kepada Memontum.com.

“Point ke 4 cukup menarik apabila tanah yang berada di belakang tanah milik Bu Lilik tidak bisa dibeli oleh Roy, maka akan dilakukan pembatalan pembelian. Yakni pembatalan pembelian tanah mikik Nu Lilik dan uang Rp 3 juta dikembalikan. Setelah surat tanda jadi tersebut, Lilik segera mengurus surat ahli waris, namun uang Rp.50 juta yang dijanjikan tidak juga diserahkan,” ujar Fauzi.

Beberapa bulan kemudian Lilik meminta 2 sertifikatnya tersebut yang disimpan di notaris Duri.

“Hal itu karena tidak sesuai perjanjian. Uang bRp 50 juta yang dijanjikan tidak diserahkan juga ke Bu Lilik. Saat sertifikat itu diminta, Bu Duri sebagai notaria sudah klarifikasi kepada Roy. Atas persetujuannya ke 2 sertifikat itu dikembalikan ke Lilik. Bu Lilik tetap berusaha menghubungi Roy hingga 2019. Pernah juga datang kenkantornya namun Roy malah keluar dari pintu samping. Jwterantan itundisampaikan dalam fakta persidangan dalam gugatan sebelumnya,” ujar Fauzi.

Karena tidak ada kejelasan, Lilik kemudian menjual tanahnya kepada PT Tunggal Jaya Propertindo dengan harga yang sama.

“Karena tidak ada masalah tidak dalam sengketa, ya kita beli. Setwlah ada penjualan tersebut, Bu Lilik digugat Roy yakni gugatan wanprestasi. Namun gugatan itu ditolak oleh majelis hakim dengan pertimbangan bahwa yang melakukan wanprestasi adalah pihak penggugat. Roy kemudian banding dan sampai saat ini masih berjalan, ” kata Fauzi, Rabu (26/2/2020) siang.

“Kemudian muncul lagi gugatanperbuatan melawan hukum. Kali ini tidak hanya bu Lilik dan anak-anaknya saja yang digugat namun juga PT Tunggal Jaya.sebagai tergugat IV. Padahal secara normatif transaksi jual beli antara OT Tunggal Jaya dengan Bu Lilik sudah sesuai aturan perijinan lengkap dan tidak ada masalah. Tanah itu juga dibeli untuk dipakai buat vasum jalan,” ujar Fauzi.

Akibat gugatan ini, pihak PT Tunggal Jaya merasa dirugikan. “Apalagi ada pemberitaan yang isinya pihak sana meminta masyarakat untuk berhati-hati membeli di Perum The Rich Sasando. Apa masalahnya sampai mereka.mengimbau masyarakat untuk berhati-hati membeli di Perum Rich Sasando. Kami sangat dirugikan. Kali ini kami tidak akan pasif, kami akan aktif untuk melakukan gugatan bralik,” ujar Fauzi.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, salah satu objek tanah yang berada di dalam Perum The Rich Sasando Jl Sasando, Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, dipermasalahkan masalah jual belinya. Bahkan pada 25 Februari 2020, sidang gugatannya akan berlabgsing di PN Malang. Gugatannya sudah masuk dengan nomer gugatan 43/Pdt.G/2020/PN Malang.

BACA : Sengketa di Tanah Perumahan Elite, Konflik Jual Beli Lahan Berujung Gugatan

Koko Widyatmoko SH, kuasa hukum Roy, pihak penggugat mengatakan bahwa kliennya telah melakukan perjanjian jual beli tanah kepada pemilik lahan. Namun perjanjian tersebut dilanggar oleh si pemilik tanah dengan menjualnya ke pihak lain.

“Perjanjian itu dilanggar dan dipastikan melawan hukum. Klien kami sangat dirugikan. Dalam gugatan ini si pemilik tanah menjadi tergugat 1, ” ujar Koko. (gie/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler