Connect with us

Berita

Pengurus DPC Peradi RBA Malang Dilantik, Siapkan LBH, Membela Masyarakat Kurang Mampu

Diterbitkan

||

Ketua DPC Peradi RBA Akhmad Siswanto SH saat menerima bendera Peradi dari Ketua DPN Peradi RBA, Dr Luhut MP Pangaribuan SH LLM. (gie)
Ketua DPC Peradi RBA Akhmad Siswanto SH saat menerima bendera Peradi dari Ketua DPN Peradi RBA, Dr Luhut MP Pangaribuan SH LLM. (gie)

Memontum, Kota Malang – Akhmad Siswanto SH, resmi menjadi ketua terpilih DPC Peradi RBA (Rumah Bersama Advokat) Malang, pada Jumat (15/11/2019) malam. Pelantikan pengerus DPC Peradi RBA Malang periode 2019-2023, dilaksanakan di Hotel Santika Kota Malang.

Ketua Umum DPN Peradi RBA, Dr Luhut MP Pangaribuan SH L.L.M, yang hadir dalam acara ini, berpesan supaya advokat DPC Peradi RBA Malang, supaya tidak hanya mengutamakan masyarakat yang mampu membayar, namun masyarakat tidak mampu bayar juga harus dilayani dengan baik.

“Kewenangan advokat di Malang yang rutin harus dilakukan, pengangkatan advokat, pengawasan advokat dan menyelengarakan sidang kode etik suoaya profesi advokat berjalan sesuai UU 18 Tahun 2003. Ketua juga harus memastikan para advokatnya mau melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya, ” urai Luhut.

“Bukan hanya yang mampu membayar, melainkan yang tidak mampu bayar juga harus dilayani (Pro Bono). Ini memang tidak mudah, tapi ini adalah tanggung jawab advokat yang disebut officium nobile,” ujar Luhut.

Luhut sangat mengapresiasi kenerja DPC Peradi RBA Malang, salah satunya yakni telah memanfaatkan teknologi dan informasi dalam pelayanan.

“Ini sangat bagus, cara melayaninya juga sudah menggunakan website. Sudah ada aplikasi yang mudah diaksea oleh masyarakat. Ini kemajuan yang bagus. Semoga kepemimoinan Pak Sis, semakin meningkatkan lagi apa yang telah dilakukan oleh Pak Yayan Riyanto, ketua DPC Peradi RBA Malang, sebelumnya,” ujar Luhut.

Sementara itu Akhmad Siswanto, sebagai ketua DPC Peradi RBA Malang yang baru, bakal segera memacu kinerja DPC Peradi RBA Malang, demi meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

“Lembaga bantuan hukum kita perdayakan sebenarnya sesuai untuk.membela kaum yang tidak tidak mampu. Kita laksanakan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya. Pengenalan kita juga ada melalui website, hal ini sesuai dengan kemajuan teknologi dan informasi. Pos bantuan hukum kita harus semakin berkembang dan berakreditasi” ujar Sis.

Pihaknya optimis bisa lebih meningkatkan DPC Peradi RBA Malang ke arah yang lebih baik.

“Saya optimis. Kita jalankan sistem menejemen sesuai dengan AD ART kita. Inventarisasi pengelolaan menejemen anggota kami juga sudah sangat kompak dan menjaga persatuan. Menerapkan sistem kebersamaan, kolektif kolegial,” ujar Sis. (gie/oso)

 

Berita

Gus Wahid, Guru Sekaligus Sahabat d’Kross

Diterbitkan

||

Ade Herawanto dan kru d'Kross saat bersama Gus Wahid dalam sebuah kesempatan. (ist)
Ade Herawanto dan kru d'Kross saat bersama Gus Wahid dalam sebuah kesempatan. (ist)

Memontum Kota Malang – KH Abdul Wahid Ghozali SAg yang biasa dipanggil Gus Wahid atau Kyai Arema, wafat Sabtu 4 Juli 2020. Sosok kyai yang kharismatik ini, bagi masyarakat Malang Raya mempunyai arti tersendiri. Termasuk Ade Herawanto. Front man d’Kross ini, mempunyai kenangan dan kesan yang penuh arti.

Pasalnya, sosok Gus Wahid yang juga mantan petinju ini, sudah dianggap sebagai guru sekaligus teman bagi Kepala Bapenda Kota Malang ini. Hubungan Ade Herawanto bukan hanya di forum resmi, namun tak jarang dia silaturahmi untuk ngangsu kaweruh. Terutama ajaran Gus Wahid tentang pluralisme, sangat tertanam dalam diri Ade Herawanto.

Bagaimana menjadikan musik sebagai media dakwah, Gus Wahid begitu memahami. Karena Gus Wahid ketika kuliah, juga seorang gitaris rock. Inilah salah satu motivasi yang menjadikan perjalanan spiritual d’Kross menjadikan musik sebagai media dakwah.

“Beliau dulu juga salah satu gitaris rock saat jaman kuliah, yang kami ingat membawakan lagu-lagu Scorpion,” kenang Ade Herawanto, Sabtu (4/7/2020) pada Memontum.com.

“Bahkan suatu saat, d’Kross pernah jam session sepanggung bersama beliau. Saat itu, kami membawakan aransemen Sholawat Ashygil dan Shalawat Bani Hasyim. Dikemas dalam genre hard rock,” imbuh Ade Herawanto.

Tak heran, kru d’Kross menganggap Gus Wahid sebagai salah satu guru dan sahabat. “Atas nama d’Kross, saya menyampaikan turut berbela sungkawa. Semoga amal ibadah Gus Wahid menjadikan beliau husnul khotimah,” punglas Ade Herawanto. (yan)

 

Lanjutkan Membaca

Berita

Terdampak Covid-19, Kena PHK, Pindah Haluan Jual Jeruk

Diterbitkan

||

Pedagang jeruk, Tofa saat melayani konsumen.(mg2)
Pedagang jeruk, Tofa saat melayani konsumen.(mg2)

Memontum Malang – Terkena imbas covid-19, Tofa (35) karyawan perusahaan jasa angkutan, beralih menjual jeruk. Ini demi memenuhi kebutuhan, sebelum mendapatkan pekerjaan baru. Namun, saat ini perkembangan penjualan buah jeruk di kawasan kabupaten Malang tidak stabil.

Bahkan mengalami penurunan, karena kondisi perekonomian belum normal. Pemerintah dan masyarakat masih menerapkan masa transisi menuju new normal. Maka saat ini, belum memberikan perubahan yang signifikan di bidang perekonomian.

“Sekarang ini, penjualan sedang menurun mas. Biasanya sehari itu bisa jual 1 kuintal lebih. Sekarang belum ada sama sekali,” ungkap tofa penjual buah jeruk di kawasan Jl Raya Karang Pandan, Sabtu (4/7/2020).

Tofa mengungkapkan, sudah berjualan buah selama kurang lebih 2 bulan. Untuk mendapatkan penghasilan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, selama masa pandemi covid-19. Sebelum di PHK, Tofa berpenghasilan rata-rata Rp 2.700.000 per bulan. Saat ini, hanya mampu mendapatkan kisaran Rp 2.300.000 per bulan dari berjualan jeruk.

“Selama saya kerja di perusahaan dulu saya bisa dapet uang per bulan kisaran Rp 2.700.000 tiap bulan. Sekarang jadi berdagang jeruk menurun jadi kisaran Rp 2.300.000 per bulan. Jadi untuk kebutuhan sehari-hari, menipis. Apalagi saya punya tanggungan yang harus dibayar per bulan sebesar Rp 1.750.000 di bank,” tutupnya. (mg2/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Berita

Mahasiswa Universitas Wisnuwardhana Demo, Tuntut Keringanan SPP 50 Persen

Diterbitkan

||

Mahasiswa Universitas Wisnuwardhana Demo, Tuntut Keringanan SPP 50 Persen

Memontum Kota Malang Mahasiswa Universitas Wisnuwardhana yang merasa keberatan dengan biaya kuliah, Rabu (1/7/2020) melanjutkan aksi demo di depan gedung pusat Universitas Wisnuwardhana. Mereka menuntut potongan SPP sebesar 50%. Sedangkan dari pihak kampus, sudah memberikan potongan sebesar 30% dengan syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi.

“Dari kami sudah memberikan kebijakan kepada mahasiswa yang mengalami kesulitan bisa mengajukan pemotongan uang spp sebesar 30%. Kalau masalah persyaratan kan memang semua kebijakan dan bantuan harus ada syaratnya gak mungkin kalau sembarang. Kami dari pihak kampus kan ingin benar-benar membantu kepada yang membutuhkan jadi ya harus ada persyaratannya untuk di penuhi,” ujar WR II Suharto.

“Di masa pandemi ini dengan metode pembelajaran daring atau online, kita sebagai mahasiswa mengalami kesulitan, karena terjadi krisis ekonomi. Kami bersama-sama meminta kepada pihak kampus untuk pemotongan biaya SPP sebesar 50%. Setelah pihak kampus memberikan kejelasan dengan potongan SPP 30% dengan syarat-syarat yang menurut kami tidak mampu memenuhinya,” ujar Ronald salah satu mahasiswa.

Persyaratan yang harus di penuhi yaitu seperti meminta surat dari desa atau wilayah masing-masing mahasiswa, lalu juga pekerjaan orang tua masing-masing mahasiswa dan juga harus mencantumkan laporan pembayaran listrik per bulan dari masing masing mahasiswa.

“Ya kan memang seharusnya begitu, persyaratan itu harus detail agar kami bisa tahu siapa yang harus benar-benar kami bantu dan juga siapa yang tidak memerlukannya. Karena semua bantuan memang harus ada persyaratannya,” ujar WR II Suharto.

Dari beberapa mahasiswa merasa masih keberatan dengan persyaratan yang harus di penuhi. Sedangkan kesulitan ekonomi di masa pandemi ini terus berjalan.

“Kami masih merasa kesulitan dengan persyaratan itu. Target kami kan potongan spp 50%, tapi sudah diputuskan potongan spp sebesar 30%. Menurut kami, persyaratan yang diberikan tidak masuk akal sehingga kami akan terus mendesak pihak kampus untuk menyetujui tuntutan kami para mahasiswa,” tutup Ronald salah satu mahasiswa. (mg1/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler