Connect with us

Hukum & Kriminal

Pasca Pencabutan Laporan Wali Murid SMKM 2 Kota Malang, Alhaidary: Ini Pelajaran Bagi Semua Pihak

Diterbitkan

||

Agus dan Via, istrinya saat proses mediasi bersama wali murid. (gie)
Agus dan Via, istrinya saat proses mediasi bersama wali murid. (gie)

Memontum Kota Malang – Pasca pencabutan laporan oleh 10 wali murid SMK Muhammadiyah 2 Kota Malang, Agus ” Piranhamas” Setiawan, masih menunggu proses hukum lebih lanjut dari pihak Polres Malang Kota. Dalam waktu dekat pihak Polres Malang Kota akan melakukan gelar perkara usai pencabutan laporan dan saling memaafkan antara tersangka dan korban.

Informasi yang diperoleh Memontum.com, pada Senin (21/10/2019), pihak keluarga Agus sudah mendatang kantor advokat MS Alhaidary SH MH. Saat itu yang datang adalah Via, istri Agus untuk berkonsultasi .Saat Memontum.com mengkonfirmasikan ini ke MS Alhaidary melalui ponselnya, dia membenarkan hal iitu.

“Benar, Senin istrinya menemui saya untuk konsultasi masalah itu, tapi blm ada tindak lanjutnya. Saya ikut senang kalau ternyata ada perdamaian dan laporan dicabut. Itu lebih bagus untuk kedua belah pihak. Semoga bagi semua pihak khususnya terlapor dapa mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa itu,” ujar MS Alhaidary pada Sabtu (16/10/2019) sore.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebuah rekaman kekerasan yang dilakukan oleh motivator terhadap sejumlah siswa SMK Muhammadiyah 2 Kota Malang, viral di media sosial. Kekerasan tersebut terjadi saat ada kegiatan seminar dan motivasi sekolah dengan mendatangkan motivator dari pihak luar.

Jika dilihat di Banner yang bertuliskan Seminar Motivasi Berwirausaha, yang terpasang di aula SMK Muhammaditah 2, terdapat tulisan PT Piranhamas Group. Motivator tersebut terlihat mengamuk dan menampar beberpa siswa sambil berteriak Gobl**. Rekaman kekerasan tersebut langsung viral di Facebook. Usai diamankan oleh polrea Mang Kota, Agus Piranhaman mengaku khilaf.

” Saya benar-benar khilaf. Selesai acara saya langsung meminta maaf. Dalam hidup ini, saya tidak pernah melakukan ini. Saya terima anak magang SMK sejak 2008, saya juga pernah lama mengajar di SMK. Tidak pernah terjadi seperti ini,” ujar Agus.

Sebelum terjadinya kekerasan itu, dia mengaku sempat mengatakan kalau para siswa tidak boleh menertawakan kesalahan orang lain.

” Sebelumnya ada anak yang tertidur, saya suruh kedepan duduk di panggung. Saya juga menegaskan kepada siswa supaya kalau ada yang salah, jangan ditertawakan. Ternyata saat operator dari pihak sekolah ada kesalahan menulis dan ditertawakan,” ujar Agus. Dari sinilah Agus mengaku khilaf hingga terjadilah penamparan terhadap 10 siswa SMKM 2 Kota Malanng.

Jumat (25/10/2019) pukul 14.00, Wali Murid SMKM 2 Kota Malang mencabut laporannya terhadap Agus Setiawan atau yang lebih dikenal dengan sebutan sang Motivator Agus Piranhamas (50) warga Jl Piranha Atas Gang V, Kelurahan Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Mereka beramai-ramai mendatangi Mapolres Malang Kota untuk mencabut laporannya. Saat ditemukan dengan Agus Piranhamas, mereka saling memaafkan. Terlihat sebagai rasa penyesalannya yang sangat mendalam, Agus beberapa kali meminta maaf kepada para wali murid. Bahkan saat para Wali Murid ini hendam pulang, Agus terlihat bersalaman sambil mencium tangan mereka.(gie/yan) (gie/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Kakak Ajak Adik Ipar Jadi Curanmor, Dihadiahi 3 Pelor Panas Tembus Kaki

Diterbitkan

||

Kakak Ajak Adik Ipar Jadi Curanmor, Dihadiahi 3 Pelor Panas Tembus Kaki

Memontum, Kota Malang – Ahmad Bima Armadani (18) warga Jl Kiai Parseh Jaya, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Blimbing, Kota Malang dan Erik Lukmana Putra Soedarno (21), adik iparnya, warga asal Jl Tenaga, Kecamatan Blimbing, Kota Malang atau Perum Graha Indra Prasta, Kecamatan Tulangan, Kabupten Sidoarjo, Jumat (13/12/2019) siang, dirilis di Polresta Malang Kota.

Keduanya adalah pelaku Curanmor yang berhasil dibekuk petugas Resmob Polresta Malang Kota pada Rabu (11/12/2019) pukul 15.00 di Jl Tenaga, Kecamatan Blimbing. Dalam penangkapan itu, Bima melakukan perlawanan hingga petugas terpaksa melakukan tindakan tegas. Sebanyak 3 timah panas menembus kaki Bima.

DOR : Tersangka Bima di kursi roda saat dirilis di Polresta Malang Kota. (ist)

DOR : Tersangka Bima di kursi roda saat dirilis di Polresta Malang Kota. (ist)

Informasi Memontum.com menyebutkan bahwa pada Rabu dini hari, Nima dan Erik berjalan kaki mencari sasaran di Jl MT Haryono, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Saat itu mereka mendapati motor Honda Beat milik M Arif (20) warga Jl Polowijen Gang I, Kecamatan Blimbing, Kota Malang yang sedang di parkir depan Warnet Game Zone Jl MT Hariyono.

Dengan berbekal obeng dan kunci pas, Bima kemudian berhasil merusak rumah kontak stir. Usai merusak kunci stir, Bima kemudian mendorong motor tersebut. Mereka memotong kabel stater dan menyambungnya hingga berhasil menghidupkan mesin motor.

Kejadian itu keesokan paginya dilaporkan ke Polresta Malang Kota. Petugas kemudian melakukan penyelidikan. Motor berhasil terlacak karena terdapat GPS-nya. Motor itu betada di Pasar Blimbing di Jl Tenaga.

Motor itu diparkir depan bedak milik Erik. Saat itu, Bima sedang berada di motor mencoba membuka jok motor karena bensinya habis. Tahu ada polisi, Bima mencoba melawan petugas.

Residivis kasus Curanmor ini tidak mau menyerah, dia menyerang petugas dan mencoba kabur. Karena cukup membahayakan, Bima terpaksa dilumpuhkan dengan 3 tembakan di kakinya.

Bima mengaku kalau setelah keluar dari penjara beberapa bulan lalu, sudah 3 kali ini melakukan aksi pencurian. Diantaranya mencuri motor Yamaha Mio merah di kawasan Jl Raya Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru sekitar 2 minggu lalu.

“Setelah keluar dari penjara, saya sebenarnya tidak tidak ingin mencuri lagi. Saya dihina kakak ipar saya tidak bisa menghasilkan banyak uang. Karena itulah saya kembali lagi melakukan aksi pencurian,” ujar Bima.

Kapolresta Malang Kota AKBP Dr Leonardus Harapantua Simarmata Permata S Sos SIK MH mengatakan bahwa kedua tersangka dikenakan Pasal 363 KUHP.

“Tersangka.mengaku sudah 3 kali melakukan akai Curanmor di Kota Malang. Kami masih melakukan pengembangan termasuk mencari siapa penadahnya. Keduanya kami kenakan Pasal 363 KUHP,” ujar AKBP Leonardus. (gie/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Nyamar Pakai Jaket Grab, Curanmor Singosari Benjut

Diterbitkan

||

NYAMAR : Kapolresta Malang Kota AKBP Dr Leonardus Simarmata saat menunjukkan tersangka Puji. (Ist)
NYAMAR : Kapolresta Malang Kota AKBP Dr Leonardus Simarmata saat menunjukkan tersangka Puji. (Ist)

Memontum, Kota Malang – Pelaku Curanmor, Puji Priyo (37) warga Dusun Gebyak, Desa Purwoasri (tersangka mengaku Tunjungtirto), Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang atau Dusun Gedangan, Desa Sidodadi, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Kamis (12/12/2019) pukul 14.00, masih terlihat babak belur.

Dia adalah pelaku Curanmor yang dihajar massa Di depan warung kopi Printas di Jl Terusan Kembang Turi, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Selasa (10/12/2019) sekitar pukul 15.00.

Saat itu dia tertangkap basah sedang mencuri motor Honda Scoopy warna merah milik Afif (19) mahasiswa warga Sukun Pondok Indah, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Beruntung saat itu, petugas Resmob Polresta Malang Kota segera tiba di lokasi untuk melakukan pengamanan.

Informasi memontum.com, bahwa sehelum kejadian, Puji Priyo bersama dengan temannya berinisial M (DPO) mengendarai motor Honda Beat mencari sasaran di Kota Malang. Saat itu Puji memakai jaket Grab membonceng M. Dia memakai jaket tersebut, supaya warga tidak curiga dan mengira tukang ojek online.

Saat berada di Jl Terusan Kembang Turi, atau tepatnya depan warung Kopi Printas, Puji turun dari motor menuju parkiran. Saat itu warga tidak curiga karena mengira tukang ojek online.

Namun dengan bersenjatakan kunci T, dia berhasil mencuri motor Honda Scoopy milik korban.

Dia sudah berhasil menyalakan mesin motor, namun sebelum meninggalkan lokasi tiba -tiba korban meneriakinya maling. Seketika itu juga, warga langsung menangkap dan menghajar Puji hingga babak belur. Sedangkan M, ketakutan hingga memilih kabur mengendarai motor Honda Beat.

Saat diamankan petugas, Puji mengaku bahwa sehari sebelumnya, dia juga telah berhasil mencuri motor Honda Scoopy di kawasan Jl Simbar Menjangan, Kecamatan Lowokwaru.

Saat itu dia berhasil mencuri motor Scoopy warna hitam. Saat ini petugas Resmob Polres Malang Kota masih terus melakukan pengembangan.

Adapun Puji mengaku jaket Grab yang dikenakannya adalah milik adiknya yang pernah bekerja ojek online Grab. Selain jaket, petugas juga mengamankan BB (Barang Bukti) berupa 1 motor Honda Scoopy, 1 gagang kunci T, 1 mata kunci T dan 4 kunci motor.

Kapolresta Malang Kota AKBP Dr Leonardus Harapantua Simarmata Permata S Sos SIK MH, mengatakan bahwa tersangka berinisial PP dikenakan Pasal 363 KUHP.

“Tersangka pelaku Curanmor. Kami masih melakukan pengembangan karena diduga tersangka sudah seringkali melakukan aksi serupa. Untuk 1 pelaku masih DPO,” ujar AKBP Leonardus. (gie/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Serang Polisi Pakai Sikat Gigi Ujung Runcing, 3 Peluru Bersarang di Kaki Tahanan Kabur

Diterbitkan

||

SIKAT GIGI : Kapolresta Malang Kota AKBP Leonardo Simarmata tunjukan senjata yang digunakan Nur Kholis. (ist)
SIKAT GIGI : Kapolresta Malang Kota AKBP Leonardo Simarmata tunjukan senjata yang digunakan Nur Kholis. (ist)

Memontum, Kota Malang – Satu lagi tahanan kabur berhasil diringkus petugas Polres Malang Kota. Kali ini giliran Nur Kholis (29) warga Jl MT Haryono Gang XlV Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, yang berakhir diringkus.

Saat hendak ditangkap di lahan kosong Jl KH Malik Dalam, Kecanatan Kedungkandang, Kota Malang pada Rabu (11/12/2019) pukul 22.15, Nur Kholis mengeluarkan 2 sikat gigi yang sudah dimodifikasi menjadi senjata.

Yakni ujungnya diperuncing siap digunakan untuk menikam. Karena membahayakan petugas akhirnya dilakukan tindakan tegas terukur. Ada 3 peluru bersarang di kedua kaki Nur Kholis. Oleh karena itu, tahanan kasus narkoba ini segera dilarikan ke IGD RSSA Malang.

Informasi memontum.com bahwa saat kabur dari tahanan Polresta Malang Kota pada Senin (9/12/2019) pukul 01.30, Nur Kholis berpisah dengan 3 tersangka lainnya. Dia menghentikan ojek online yang sedang berada di pinggir jalan.

Dengan alasan tidak memiliki ponsel, Kholis meminta tolong supaya diantar ke Jl KH Malik Dalam. Namun sesampainya di lokasi, dia langsung kabur tanpa membayar.

Selanjutnya dia bersembunyi di sebuah rumah kosong. JL KH Malik Dalam Gang XIX. Petugas kemudian melakukan pengepungan. Saat dikepung, Nur Kholis bersembunyi di salah satu pojok ruangan.

LUMPUH : Tersangka Nur Kholis saat pulang dari perawatan di UGD RSSA. (ist)

LUMPUH : Tersangka Nur Kholis saat pulang dari perawatan di UGD RSSA. (ist)

Dengan memanfaatkan situasi yang gelap. Dia kemudian menyerang petugas dengan 2 buah sikat gigi yabg sudah dimodifikasi menjadi senjata.

Tangan kanan dan kirinya menghunuskan senjata itu menyerang petugas sambil mencoba lari ke persawahan. Tembakan peringatan tak dihiraukan hingga terpaksa dilakukan tindakan tegas. Sebanyak 3 peluru bersarang pada kakinya.

Belum diketahui pasti kenapa Nur Kholis memilih kabur dari jeruji besi Polres Malang Kota. Hal itu dikarenakan Nur Kholis masih dalam pemeriksaan setelah menjalani perawatanndi IGD RSSA Malang.

BACA : Tahanan Kabur Ditangkap Lagi, Sebulan Dipenjara, Shokib Kangen Anak

Kapolres Malang Kota AKBP Dr Leonardus Harapantua Simarmata Permata S Sos SIK MH, imbau 1 tersangka yang masih kabur hendaknya segera menyerahkan diri.

“Kami imbau untuk segera menyerahkan diri. Untuk Nur Kholis terpaksa lakukan tindakan tegas terukur karena menyerang petugas dengan 2 sikat gigi yang sudah dimodifikasi nenjadi senjata. Ujung sikat gigi dibuat meruncing,” ujar AKBP Leonardus.

BACA JUGA : Shokip Tahanan Kabur, Ngaku Curi Gergaji dari Tukang

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Sebanyak empat tersangka narkoba berhasil kabur dari tahanan Polresta Malang Kota, Senin (9/12/2019) pukul 01.30. Mereka menyambung beberapa kain yang digunakan sebagai alat untuk memanjat ke arah jeruji atap jeruji besi.

Tentunya untuk mengaitkan kain ke jeruji atas mereka harus saling megendong karena ketinggian sekitar 5 meteran. Diduga mereka mengergaji jeruji besi atap hingga akhirnya berhasil kabur. (gie/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler