Connect with us

Hukum & Kriminal

Diduga Sakit, Dosen Bujangan Tewas dalam Kos

Diterbitkan

||

Jenazah Andi saat ditemukan. (ist)
Jenazah Andi saat ditemukan. (ist)

Memontum, Malang – Warga Jalan Mt Haryono Gang V, RT 3/RW 01, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Selasa (22/10/2019) pukul 19.55, dikejutkan dengan penemuan mayat Andi Harisman (50), salah satu penghuni di sekitar lokasi yang sudah dalam kondisi membusuk di kamarnya.

Kejadian itu kemudian dilaporkan ke Poksekta Lowokwaru hingga jenazah Andi dievakuasi untuk dibawa ke kamar mayat RSSA Malang. Diperkirakan Andi meninggal lebih dari 3 hari lalu karena sakit atau diduga terkena serangan jantung.

Informasi Memontum.com menyebutkan bahwa Andi dikenal sebagai dosen dan saat ini masih hidup membujang. Sehari-harinya dia kos di rumah milik Bambang di Jl MT Haryono, Gang V Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Selama 3 harian, Andi sudah tidak terlihat keluar dari rumahnya.

Selasa sekitar pukul 17.30, Yulius warga sekitar mencium bau yang tidak sedap yang berasal dari rumah kos milik Bambang. Oleh karena itu, Yulius menemui Bambang untuk bersama-sama memcari sumber bau. Saat itulah diketahui kalau sumber bau berasal dari kamar Andi.

Kejadian ini selanjutnya dilaporkan ke RT setempat hingga bersama-sama.warga lainnya mendatangi lokasi. Kejadian ini segera dilaporkan ke Polsekta Lowokwaru. Saat petugas datang ke lokasi, kamar Andi masih terkunci dari dalam.

Sampai di lokasi, petugas kemudian meminta ijin Bambang, pemilik kos untuk dilakukan pendobrakan. Setelah pintu terbuka, terlihat Andi sudah dalam kondisi membusuk duduk di kursi meja kamarnya.

Kapolsek Lowokwaru Kompol Pujiyono saat dikonfirmasi Memontum.com, membenarkan adanya kejadian itu. Tidak ada pula barang yang hilang.

“Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Diduga korban meninggal karena sakit. Kami masih melakukan penyelidikan,” ujar Kompol Pujiyono. (gie/oso)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

BCT Disatroni Curanmor, 3 Pelaku Segera Apes?

Diterbitkan

||

BCT Disatroni Curanmor, 3 Pelaku Segera Apes

Memontum, Kota Malang – Para pelaku Curanmor terus saja bergentayangan layaknya hantu di Kota Malang. Mereka mengintai motor hang terparkir dalam kondisi tak terjaga. Kali ini, mereka berhasil mencuri motor Honda Beat Nopol L 3525 RQ milik Putri Nur Anisa Larasati (21), mahasiswi di Kota Malang.

Motor tersebut hilang saat di parkir halaman kos temannya di Perum Bukit Cemara Tujuh Blok E No 2, RG 07/RW 07, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Kamis (27/2/2020) pukul 19.50. Kejadian Curanmor ini, telah dilaporkan ke Polresta Malang Kota dan masih dalam penyelidikan petugas untuk menangkap pelakunya.

Informasi Memontum.com bahwa malam itu Putri datang ke kos temannya di Perum Bukit Cemara Tujuh. Motor dimasukan ke halaman kos dan pintu pagar juga sudah ditutup.

“Pagar tertutup namun tidak digembok. Motor saya parkir dalam kondisi terkunci stang stir. Sata kemudian masuk ke dalam kos,” ujar Putri.

Diduga pelaku melakukan aksinya sekitar pukul 19.50. Sebab saat itu terdengar pintu pagar terbuka. Palaku melakukan aksinya dalam hitungan detik. Sebab saat teman korban melakukan pengecekan, pelaku sudah berhasil menguasai motor dan segera kabur.

“Teman saya melihat motor milik saya sudah dinaiki 3 orang pelaku. Sempat dikejar namun mereka berhasil kabur,” ujar Putri.

Kini Putri hanya bisa berharap petugas kepolisian berhasil mengamankan pelakunya dan menemukan motornha yang hilang.

“Semoga motor milik saya segera ditemukan oleh petugas kepolisian,” ujar Putri kepada Memontum.com. (gie/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Divonis 20 Tahun, Sugeng Kasus Mutilasi Pasar Besar Mengaku Puas, PH Ajukan Banding

Diterbitkan

||

Sugeng Santoso usai dengarkan putusan majelis hakim. (gie)
Sugeng Santoso usai dengarkan putusan majelis hakim. (gie)

Memontum Malang – Terdakwa Sugeng Santoso (49) warga Jodipan Gang III, Kota Malang, akhirnya jalani sidang vonis pada Rabu (26/2/2020) pukul 15.00 di Pengadilan Negeri (PN) Malang. Majelis Hakim Dina Pelita Asmara SH MH membacakan putusan setebal 100 lembar tersebut. Putusan setebal 100 lembar tersebut akhirnya disepakati untuk dibacakan point-pointnya saja.

Sugeng divonis terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP.

“Menghilangkan nyawa kemudian dimutilasi adalah tindakan yang sadis dan membuat resah masyarakat. Hal yang memberatkan terdakwa karena sudah pernah dihukum, memberikan keterangan berbelit-belut dan tidak jujur. Sedangkan hal yang meringankan terdakwa dikemudian hari diharapkan bisa memperbaiki diri lebih baik. Diputus 20 tahun penjara dipotong masa tahanan,” ujar Dina.

Tentunya vonis 20 tahun penjara ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni penjara seumur hidup. Saat keluar dari ruang persidangan, Sugeng tampak lunglai. Dia terlihat pasrah dengan putusan majelis hakim.

Saat ditanya puas atau tidak dengan vonis itu, Sugeng mengatakan puas dan bahkan terlihat menunjukan jempol tangannya. Namun dibalik semua itu itu entah apa yang dipikirkan Sugeng setelah mendengar bahwa dirinya bakal menjadi penghuni tahanan selama 20 tahun.

Tim Penasehat Hukum Sugeng dari LBH Peradi Malang Raya, Andik Purnomo SH bahwa pihaknya akan mengupayakan banding.

“Kami hargai putusan majelis hakim. Namun ada beberapa keberatan dari kami yang seharusnya menjadi. Pertimbangan namun tidak diungkap. Dakwaan awal menyebut korban dibunuh dengan menggunakan gunting namun tadi saat putusan disebut digorok dengan menggunakan cutter. Padahal hasil visum tidak terungkap penyebab kematian. Tidak disebutkan penyebab kematian. Pasal yang didakwakan adalah 340 KUHP harusnya visum jelas bunyinya. Tidak pernah diketahui sebab kematiannya. Kita akan upayakan banding,” ujar Andik.

Perlu diketahui bahwa dalam pembelaannya beberapa waktu lalu, Iwan Kuswardi SH MH Ketua Tim LBH Peradi Malang Raya menyebut bahwa selama ini tidak ada saksi satupun yang melihat Sugeng telah membunuh Mrs X di Pasar Besar.

Selain itu disebut pula bahwa Sugeng memutilasi tunuh Mrs X saat dalam kondisi sudah meninggal dunia sesuai dengan hasil visum yakni potongan Post Mortem.

Sementara itu Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Kota Malang Wahyu Hidayatiullah SH MH, mengatakan bahwa pihaknya masih pikir-pikir apakah akan banding atau tidak terkait putusan majelis hakim terhadap Sugeng. Dimana putusan lebih ringan dari tuntutan JPU.

“Putusan ini saya menghormati apa yang selama ini kita buktikan sependapat dengan majelis hakim. Perkara ini akan pikir-pikir selama 7 hari sambil menunggu hasil laporan ke Kejati,” ujar Wahyu. (gie/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Pasca Pihak The Rich Sasando Digugat Terkait Pembelian Tanah

Diterbitkan

||

M Fauzi saat klarifikasi terkait gugatan yang ditujukan kepada kliennya. (gie)
M Fauzi saat klarifikasi terkait gugatan yang ditujukan kepada kliennya. (gie)

M Fauzie : Kami Segera Gugat Balik

Memontum, Kota Malang – Pihak pengembang Perum The Rich Sasando, PT Tunggal Jaya Propertindo nampaknya bakal menggugat balek Roy Rafidianta. Pasalnya Direktur PT Tunggal Jaya Propertindo sebelumnya telah digugat oleh Roy yakni sebagai tergugat IV, prihal gugatan melawan hukum dengan nomer gugatan 43/Pdt.G/2020/PN Malang.

M Fauzi SH Kuasa hukum PT Tunggal Jaya Propertindo menjelaskan bahwa gugatan tersebut telah merugikan Perum The Rich Sasando. Pihaknya menjelaskan bahwa PT Tunggal Jaya Propertindo membeli tanah milik Lilik Suprapti, tidak dalam kondisi sengketa dan bermasalah. Perlu diketahui bahwa dalam gugatan yang diajukan oleh Roy di PN Malang, Lilik Suprapti menjadi tergugat 1.

“Perlu saya jelaskan di sini saya juga menjadi kuasa hukum tergugat I, Tergugat II, Tergugat III dan Tergugat IV. Saya klarifikasi bahwa bu Lilik Suprapti pada tahun 2017 menjual 2 tanah miliknya yakni seluas 193 meter dan 196 meter persegi. Bu Lilik bertemu dengan penggugat di notaris Duri Astuti, Januari Tahun 2017, disepakati harga Rp 4, 250.000.000. Oleh Roy saat itu dibuat kan surat tanda jadi dan dibayar Rp 3 juta. Akan dibayar lagi Rp 50 juta jika Bu Lilik sudah mengurus surat ahli waris,” ujar Fauzie.

Namun setelah surat ahli waris diurus, uang Rp 50 juta belum juga diaerahkan oleb Roy kepada Lilik. “Dalam perjanjian di tanda jadi tersebut, dijelaskan bahwa Lilik akan dibayar Rp.50 juta jika selesai mengurus surat ahli waris. Sisa pembayaran akan dibayar setelah objek tanah diukur BPN dan tanah dibelakang lokasi dapat dibeli oleh Roy maka akan dibayar sisa kekurangan kepada Bu Lilik, ” urai Fauzi kepada Memontum.com.

“Point ke 4 cukup menarik apabila tanah yang berada di belakang tanah milik Bu Lilik tidak bisa dibeli oleh Roy, maka akan dilakukan pembatalan pembelian. Yakni pembatalan pembelian tanah mikik Nu Lilik dan uang Rp 3 juta dikembalikan. Setelah surat tanda jadi tersebut, Lilik segera mengurus surat ahli waris, namun uang Rp.50 juta yang dijanjikan tidak juga diserahkan,” ujar Fauzi.

Beberapa bulan kemudian Lilik meminta 2 sertifikatnya tersebut yang disimpan di notaris Duri.

“Hal itu karena tidak sesuai perjanjian. Uang bRp 50 juta yang dijanjikan tidak diserahkan juga ke Bu Lilik. Saat sertifikat itu diminta, Bu Duri sebagai notaria sudah klarifikasi kepada Roy. Atas persetujuannya ke 2 sertifikat itu dikembalikan ke Lilik. Bu Lilik tetap berusaha menghubungi Roy hingga 2019. Pernah juga datang kenkantornya namun Roy malah keluar dari pintu samping. Jwterantan itundisampaikan dalam fakta persidangan dalam gugatan sebelumnya,” ujar Fauzi.

Karena tidak ada kejelasan, Lilik kemudian menjual tanahnya kepada PT Tunggal Jaya Propertindo dengan harga yang sama.

“Karena tidak ada masalah tidak dalam sengketa, ya kita beli. Setwlah ada penjualan tersebut, Bu Lilik digugat Roy yakni gugatan wanprestasi. Namun gugatan itu ditolak oleh majelis hakim dengan pertimbangan bahwa yang melakukan wanprestasi adalah pihak penggugat. Roy kemudian banding dan sampai saat ini masih berjalan, ” kata Fauzi, Rabu (26/2/2020) siang.

“Kemudian muncul lagi gugatanperbuatan melawan hukum. Kali ini tidak hanya bu Lilik dan anak-anaknya saja yang digugat namun juga PT Tunggal Jaya.sebagai tergugat IV. Padahal secara normatif transaksi jual beli antara OT Tunggal Jaya dengan Bu Lilik sudah sesuai aturan perijinan lengkap dan tidak ada masalah. Tanah itu juga dibeli untuk dipakai buat vasum jalan,” ujar Fauzi.

Akibat gugatan ini, pihak PT Tunggal Jaya merasa dirugikan. “Apalagi ada pemberitaan yang isinya pihak sana meminta masyarakat untuk berhati-hati membeli di Perum The Rich Sasando. Apa masalahnya sampai mereka.mengimbau masyarakat untuk berhati-hati membeli di Perum Rich Sasando. Kami sangat dirugikan. Kali ini kami tidak akan pasif, kami akan aktif untuk melakukan gugatan bralik,” ujar Fauzi.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, salah satu objek tanah yang berada di dalam Perum The Rich Sasando Jl Sasando, Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, dipermasalahkan masalah jual belinya. Bahkan pada 25 Februari 2020, sidang gugatannya akan berlabgsing di PN Malang. Gugatannya sudah masuk dengan nomer gugatan 43/Pdt.G/2020/PN Malang.

BACA : Sengketa di Tanah Perumahan Elite, Konflik Jual Beli Lahan Berujung Gugatan

Koko Widyatmoko SH, kuasa hukum Roy, pihak penggugat mengatakan bahwa kliennya telah melakukan perjanjian jual beli tanah kepada pemilik lahan. Namun perjanjian tersebut dilanggar oleh si pemilik tanah dengan menjualnya ke pihak lain.

“Perjanjian itu dilanggar dan dipastikan melawan hukum. Klien kami sangat dirugikan. Dalam gugatan ini si pemilik tanah menjadi tergugat 1, ” ujar Koko. (gie/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler