Connect with us

Pendidikan

Tingkatkan Wawasan Berzakat dan Pajak, FE UM Gelar Seminar Nasional

Diterbitkan

||

Tingkatkan Wawasan Berzakat dan Pajak, FE UM Gelar Seminar Nasional

Memontum Kota Malang – Untuk meningkatkan wawasan mahasiswanya dalam hal zakat profesi dan pajak, Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Malang (UM) menggelar Seminar Nasional ‘Implementasi Zakat Profesi dan Pajak Dalam Perspektif UU nomor 36 Tahun 2008’ pada Senin (21/10/2019) pagi di Graha Cakrawala UM.

Seminar tersebut merupakan langkah serius FE UM untuk memberikan wawasan kepada mahasiswanya terkait zakat profesi dan pajak. Dalam kegiatan tersebut, ada tiga orang pemateri yang dihadirkan. Yakni Asfi Manzilati selaku dewan pengurus Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam (Fordebi), Perwakilan Universiti Kebangsaan Malaisya Muhammad Rizal Palil, dan Kepala Seksi Bimbingan Penyuluhan dan Pengelolaan Dokumen Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Timur III.

Wakil Dekan II FE UM, Puji Handayati mengatakan, wawasan mengenai hal tersebut perlu diberikan, sebab Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, yang di dalamnya juga ada kewajiban bagi seorang muslim untuk berzakat. Di sisi lain sebagai warga negara, seseorang juga memiliki kewajiban untuk membayar pajak.

“Di dalam UU no 36 tahun 2008 ini mengatur bahwa zakat bisa digunakan sebagai pengurang pajak. Dan ini masih belum tersosialisasi penuh kepada masyarakat. Dan bagaimanakah proses implementasi undang-undang ini juga perlu dikaji. Dan maka dari itu kami bekerja sama dengan Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam (Fordebi) untuk membahas ini bersama,” ujar Puji.

Dengan diselenggarakannya seminar tersebut, ia berharap seluruh mahasiswa FE UM khusus yang hadir sebagai peserta bisa tumbuh menjadi insan yang sukses berkarir maupun menjadi enterpreneur, yang nantinya bisa bermamfaat dalam umat melalui zakat dan berontribusi bagi negara melalui kewajiban membayar pajak.

“Kalau sukses ber enterpeneur, harapannya dapat menjadi insan yang mempunyai makna besar kepada umat jika diikuti dengan kesadaran yang tinggi untuk berzakat. Dan juga menjadi potensi besar bagi negara, karena mereka juga harus sadar terhadap kewajiban pajak,” imbuhnya.

Sementara itu, Dewan Pengurus FORDEBI, Asfi Manzilati yang hadir sebagai pemateri mengatakan, sebagai seseorang yang telah lama terjun dalam geliat ekonomi, jika dilihat dari sisi makro, negara seharusnya sudah bisa melihat integrasi zakat dan pajak sebagai sumber pengelolaan kebijakan fiskal. Sedangkan dari sisi mikro, Asfi menjelaskan bahwa sebenarnya zakat dan pajak mempunyai dampak yang berbeda.

“Kalau pajak, yang jelas itu menurunkan pendapatan yang diterima, siapapun orangnya. Karena kemudian itu dikelola oleh negara, dan untuk sampai ke masyarakat kembali masih perlu proses. Sementara untuk zakat, itu akan mengurangi pendapatan bagi orang kaya (Muzakki) dan menambah pendapatan bagi orang miskin. Jadi secara umum nantinya akan membuat percepatan kesejahteraan bisa tercapai. Dan akhirnya mikro dan makro besinergi, baik secara individu sejahtera maupun keseluruhan bisa tercapai,” jelas Azfi.

Lebih lanjut menurutnya, saat ini mahasiswa perlu adanya pemahaman yang lebih terkait hal tersebut. Memahami secara konsep, kritis secara konsep, juga kritis secara implementasi, dan juga lebih bagus jika para mahasiswa bisa memberi masukan-masukan terkait implementasi seperti apa yang seharusnya bagus untuk diterapkan.

“Setidaknya, bagi mahasiswa yang sudah mulai berwirausaha, sekecil apapun cobalah untuk belajar berzakat,” pungkasnya. (iki/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pendidikan

MTsN 1 Malang Torehkan 454 Prestasi, Malang Raya 201, Jawa-Bali 95, Nasional 49 dan Internasional 109

Diterbitkan

||

M Alfarizky Aria Putra, dan Aura Novabriano Ahmad, mendapatkan medali perunggu dan perak di SEAMO, pada Januari 2020. (ist)
M Alfarizky Aria Putra, dan Aura Novabriano Ahmad, mendapatkan medali perunggu dan perak di SEAMO, pada Januari 2020. (ist)

Memontum Kota Malang – Terhitung sejak pertengahan Juli 2019 hingga akhir Februari 2020, MTsN 1 Kota Malang telah mencatatkan 454 prestasi sementara selama tahun ajaran 2019/2020. Tentunya catatan prestasi MTsN 1 Kota Malang ini jauh melebihi capaian prestasi tahun sebelumnya.

Pasalnya, jika dibandingkan dengan total raihan prestasi akademik dan non akademik tahun ajaran sebelumnya, yaitu sekitar 300-an prestasi (2018/2019), 195 prestasi (2017/2018), dan 191 prestasi (2016/2017). Artinya, catatan prestasi sementara MTsN 1 Kota Malang di tahun ajaran 2019/2020 mengalami trend jauh lebih baik.

Bersama para guru pembimbing, Kepala dan Waka Kurikulum, para siswa-siswi MTsN 1 Kota Malang, yang sukses memboyong 21 medali di ToC, Amerika Serikat, pada November 2019. (adn)

Bersama para guru pembimbing, Kepala dan Waka Kurikulum, para siswa-siswi MTsN 1 Kota Malang, yang sukses memboyong 21 medali di ToC, Amerika Serikat, pada November 2019. (adn)

“Alhamdulillah, hasil yang luar biasa atas pencapaian prestasi MTsN 1 Kota Malang yang selalu berkembang dan meningkat lebih baik dari tahun sebelumnya. Dengan tercapainya catatan prestasi ini, sebagai sebuah percepatan atas sinergi dan kebersamaan antara siswa, guru, dan orang tua. Semoga dengan pencapaian ini menjadikan MTsN 1 Kota Malang semakin berkembang lebih baik dari tahun ke tahun,” seru Kepala MTSN 1 Malang, Drs Samsudin MPd.

Hingga akhir Februari 2020, MTsN 1 Kota Malang berhasil mencatatkan 454 prestasi, yang terbagi 201 prestasi tingkat Kota dan Malang Raya, 95 prestasi tingkat Jawa dan Bali, 49 prestasi tingkat nasional, dan 109 prestasi tingkat internasional. “Sangat diluar dugaan, prestasi internasional jauh dari catatan tahun sebelumnya. Bahkan ini catatan tertinggi dan terbaik sepanjang sejarah MTsN 1,” seru Samsudin.

Sementara, jika dihitung khusus semester kedua tahun ajaran 2019/2020, MTsN 1 Kota Malang berhasil mencatatkan 145 prestasi, yang terbagi 112 prestasi tingkat Kota dan Malang Raya, 24 prestasi tingkat Jawa dan Bali, 5 prestasi tingkat nasional, dan 4 prestasi internasional.

Sedangkan khusus torehan prestasi pada bulan Februari 2020 saja, MTsN 1 Kota Malang berhasil mencatatkan 98 prestasi, yang terbagi 88 prestasi tingkat Kota dan Malang Raya, 5 prestasi tingkat Jawa dan Bali, dan 5 prestasi tingkat nasional.

Mengingat banyaknya prestasi tersebut, redaksi mencoba sedikit merinci catatan prestasi khusus tingkat nasional dan internasional, selama semester kedua tahun ajaran 2019/2020.

Untuk 5 prestasi tingkat nasional, ditorehkan oleh Cantyka Wida Azzahra (8A) sebagai Finalis 8 Besar dalam Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia 2020; Thoriq Ahmad Izzuddin (8F) dan Fairuz Daffa Al Hazza (7H) sebagai Juara 2 Bidang Fisika dalam ISPO (Indonesian Science Project Olympiad) 2020; Hasna Febriana Syukurillah (7K) dan Ain Nur Azizah Putri Harsya (7I) sebagai Juara 2 Bidang Kimia dalam ISPO (Indonesian Science Project Olympiad) 2020.

Sementara, untuk 4 prestasi tingkat internasional, ditorehkan oleh Raihan Akbar (9M) dan Naufal Wiwit Putra (8L ) meraih medali perunggu dalam OLGENAS XV (International Geolympiad) 2020; Aura Nouvabryano Akhmad (8L) meraih Silver Award, dan Moch. Alfarizky Harya Putra (7F) meraih Bronze Award dalam SEAMO (South East Asian Mathematical Olympiad). (adn/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Pendidikan

Job Placement Center Polinema Bekali Mahasiswa Hard Skill dan Soft Skill, Siap Bersaing di Dunia Kerja dan Wirausaha

Diterbitkan

||

Arie Gaspol mengubah mindset mahasiswa Polinema menjadi wirausaha. (adn)
Arie Gaspol mengubah mindset mahasiswa Polinema menjadi wirausaha. (adn)

Memontum Kota Malang – Melalui Job Placement Center (JPC), Politeknik Negeri Malang (Polinema) terus berupaya membekali mahasiswanya dengan hard skill yang dilengkapi dengan soft skill. Tujuannya ketika lulus, tak hanya siap menjadi karyawan, namun juga siap menjadi wirausaha.

Mengusung tajuk Seminar Karir dan Training Enterpreneur, di Auditorium Gedung Teknik lantai 8 Polinema, Kamis (27/2/2020), seminar diikuti ratusan mahasiswa semester 4 jurusan Administrasi Niaga dan jurusan lainnya.

Animo mahasiswa menyimak paparan Pringgo Cahyono Sakti. (adn)

Animo mahasiswa menyimak paparan Pringgo Cahyono Sakti. (adn)

Kali ini, JPC Polinema menggandeng Sinarmas MSIG Life dan BPR Jatim yang mendelegasikan perwakilannya dalam mengedukasi mahasiswa. Diantaranya Arie S Haryanto, SE, MM, AAAIJ (Relationship Director Java Sinarmas MSIG Life), Pringgo Cahyono Sakti (CAO Sinarmas), dan Hendra Darmawan (BPR Jatim).

“Kurikulum Polinema mengusung 60 persen praktek dan 40 persen teori. Nah, para pemateri ini berbagi pengalamannya dalam mencapai kesuksesan di bidang enterpreneur, baik melalui asuransi, UMKM, dan lainnya,” ungkap Dr Moh Maskan, MSi, Ketua Panitia Pelaksana.

Bahkan salah satu pemateri, lanjut Maskan, menceritakan pengalamannya sejak duduk di bangku kuliah telah menjadi agen asuransi, sehingga bisa membiayai kuliahnya. “Tadi juga telah dipilih 20 mahasiswa dalam kelas khusus, yang nantinya akan dilatih selama 2 hari untuk menjadi wirausaha di bidang asuransi. Harapannya memang agar mahasiswa menjadi wirausaha, sehingga tidak semuanya menjadi pegawai,” imbuh Maskan.

Pasalnya, menurut Maskan, jumlah lapangan kerja semakin lama semakin terbatas. Sementara jumlah lulusan semakin banyak setiap tahunnya. Sehingga terciptanya pengangguran terbuka semakin tinggi. “Dengan berbekal materi dan praktek melalui mata kuliah dan program KWU (Kewirausahaan), peluang mahasiswa Polinema menjadi wirausaha lebih terbuka,” timpal Maskan.

Hendra Darmawan (adn)

Hendra Darmawan (adn)

Menurutnya, dengan mengubah mindset dan sikap, bahwa menjadi orang sukses tak selalu menjadi karyawan, namun bisa juga dengan menjadi wirausaha. “Sehingga psikomotoriknya lebih terlatih dalam ide, kreatif dan inovatif,” tandas Kepala Perpustakaan Polinema ini.

Sementara itu, Relationship Director Java Sinarmas MSIG Life, Arie S Haryanto, SE, MM, AAAIJ, mengatakan, generasi milenial harus berani mengubah mindset bahwa kuliah untuk mencari pekerjaan. Namun kuliah sebagai bekal ilmu dalam membuka lapangan pekerjaan. “Karena tidak mungkin semua lulusan mahasiswa menjadi karyawan. Untuk itu, peluang menjadi pengusaha terbuka luas,” ungkap Arie Gaspol, sapaan akrabnya.

Ketua Panitia Pelaksana, Dr Moh Maskan MSi. (adn)

Ketua Panitia Pelaksana, Dr Moh Maskan MSi. (adn)

Menurutnya, menjadi wirausaha tak harus memiliki modal. Dengan menjadi agen asuransi, peluang wirausaha tanpa modal dan bebas waktu akan tercapai. Bahkan cukup dengan memanfaatkan gawai yang dimiliki. “Salah satunya, ada mahasiswa yang memiliki penghasilan diatas Rp 18 juta per bulan setelah berkarir selama 2 tahun. Memang butuh proses untuk meringankan beban orang tua dan membantu keluarga,” seru Arie, mendampingi Pringgo Cahyono Sakti (CAO Sinarmas).

Disebutkannya, bergabung dengan Sinarmas tidak perlu modal untuk menjadi enterpreneur. “Datang, kami edukasi hingga profesional. Bahkan untuk mendapatkan lisensi agen asuransi, dibiayai oleh Sinarmas. Tak perlu mengeluarkan biaya,” tandas Arie Gaspol.

Sementara itu, praktisi dari BPR Jatim, Hendra Darmawan, mengatakan materi yang disampaikan, yaitu bagaimana mahasiswa menjadi wirausaha yang siap membuka lapangan pekerjaan, bagaimana membuat produknya hingga mampu bersaing dengan produk lainnya, melihat potensi pasar lokal hingga ekspor, packagingnya, dan lainnya. “Seiring perkembangan teknologi, generasi milenial diharapkan selalu update informasi. Nantinya kami menggandeng LPPM Polinema dalam melakukan pendampingan,” ungkap Hendra.

Menurutnya, meski bisa membuat produk, belum tentu produsen bisa memasarkan. Bagaimana komparasi bagian-bagian tersebut bisa dipadukan. Selain itu, bagaimana dan apa saja yang dipersiapkan sebelum dan hingga memasuki dunia kerja. “Dari melalui membuat lamaran pekerjaan, wawancara hingga menjadi bagian dari perusahaan. Tips bagaimana tes wawancara pekerjaan, yakni sebelum tes harus mengetahui produk knowledge, browser melatih sikap mandiri jauh dari rumah, dan lainnya,” beber Hendra.

Untuk itu, Hendra menyarankan untuk browsing tentang latar belakang dan bidang perusahaan yang dituju sebelum wawancara. Pun ketika bekerja juga dituntut harus produktif melalui prestasi. “IPK bagus belum bisa menjamin bekerja, namun dengan kompetensi yang dimiliki bisa menjadi SDM berkualitas. Hard skill dan soft skill harus seimbang,” tandasnya. (adn/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Pendidikan

Mahasiswa Double Degree Polinema, Kuliah di Luar Negeri Berpacu dengan Bahasa Inggris, Adaptasi Iklim dan Musim

Diterbitkan

||

Dewinda. (ist)
Dewinda. (ist)

Memontum Kota Malang – Pengalaman menjadi mahasiswa asing di negeri orang merupakan momen yang paling mengesankan. Seperti yang dialami mahasiswa Polinema yang tengah mengikuti Program Double Degree di beberapa kampus di luar negeri. Mereka adalah, Dewinda (mahasiswi Program Studi D4 Manajemen Rekayasa Konstruksi, Jurusan Teknik Sipil Angkatan 2017), Fawwas (mahasiswa Program Studi D4 Teknik Mesin Produksi dan Perawatan, Jurusan Teknik Mesin Angkatan 2017), dan Nissa (mahasiswi Program D4 Jurusan Teknik Informatika 2017).

Dewinda, merupakan mahasiswi yang sedang menjalani Program Double Degree di Shenyang Jianzhu University. Dewinda mengaku, motivasi awal ketika mengambil program ini lantaran banyaknya peluang untuk melamar pekerjaan yang dinaungi pihak luar negeri. “Saya senang mengambil program ini. Kuliahnya lebih santai, selain itu tempat tinggalnya sangat nyaman dan gratis,” ungkap Dewinda, dilansir dari laman resmi Polinema.

Fawwas. (ist)

Fawwas. (ist)

Kendala yang dihadapi, lanjut Dewinda, adalah bahasa karena masih dalam tahap belajar. Namun dengan bertemu teman-teman baru, memaksanya mengaplikasikan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. “Mengambil program double degree ke China, pastinya akan banyak pengalaman dan feedback yang bakalan banyak didapat dan berguna,” imbuh Dewinda.

Sementara itu, Fawwas, yang sedang mengambil program Double Degree di Shandong University of Science and Technology, mengungkapkan kesan positif ketika ditanya tentang pengalaman kuliah di luar negeri. “Punya banyak teman baru, kita bisa eksplore negara lain, selain itu kita juga dapat pengalaman berbahasa Inggris lebih banyak,” ungkap Fawwas.

Mahasiswa yang mempunyai motivasi ingin mengenal dunia luar selain Indonesia ini, mengaku kendala yang dihadapi ketika kuliah di China hanya bahasa lantaran masih dalam tahap belajar. “Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri China, pantang menyerah pokoknya selalu semangat,” seru Fawwas.

Berbeda dengan Nissa, yang berkuliah di Shenyang Aerospace University. Alasan mengambil program double degree, karena ingin menambah ilmu serta pengalaman khususnya di ranah internasional. “Kuliahnya sangat disiplin, materi perkuliahan disampaikan full dalam bahasa Inggris, kuliah di China membuat saya bisa bertukar pikiran dengan teman-teman mahasiswa internasional lainnya,” ujar Nissa.

Nissa. (ist)

Nissa. (ist)

Nissa mengaku kendala kuliah di luar negeri adalah musim. “Perlu beberapa waktu untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan dan musim yang berbeda,” ungkap Nissa. (adn/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler