Connect with us

Berita

Farewell Kajari Kota Malang, Chandra Dipanggil Sebagai Tersangka

Diterbitkan

||

Farewell : Kepala Kejaksaan Negeri Kota Malang Amran Lakoni saat mendapat cenderamata dari Kasi Pidsus Ujang Supriadi. (gie)
Farewell : Kepala Kejaksaan Negeri Kota Malang Amran Lakoni saat mendapat cenderamata dari Kasi Pidsus Ujang Supriadi. (gie)

Memontum, Kota Malang – Setelah 1 tahun 7 bulan menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Kota Malang, H Amran lakoni SH MH, akan berpindah menduduki jabatan barunya sebagai Kasubdit Intelijen Kejaksaan Agung. Farewell Party (Pesta Perpisahan) Amran kepada anggotanya berlangsung haru, Selasa (22/10/2019) pagi di Kantor Kejaksaan Negeri Kota Malang.

Bagaimana tidak, ternyata Amran Lakoni dalam menjalani tugasnya sebagai Kajari Kota Malang, tidak pernah sekalipun marah kepada anggotanya. Sebab selama ini Amran lebih mengutamakan pendekatan hati dan menjaga semangat persaudaraan dan kekompakan kepada anggotanya.

Karena pendekatan yang baik dengan anggota, prestasi pengungkapan kasus dapat diraih. Diantaranya 2 kasus besar yakni korupsi di tubuh Dishub Kota Malang dan pengungkapan penjualan aset Pemkot Malang. Kasus penjualan aset Pemkot Malang di Jl BS Riadi, Kelurahan Oro-Oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang ini sempat viral.

Petugas Kejaksaan Negeri Kota Malang menetapkan 4 tersangka. Saat ini ada satu tersangka yakni Candra Heri Putra, warga Jalan Jodipati, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Bersamaan dengan acara Fareweel Party ini, harusnya tersangka Candra datang untuk menemui Penyidik Pidsus Kota Malang. Namun sampai pukul 13.00 Candra belum terlihat masuk ke ruang Pidsus.

“Harusnya hari ini Candra menghadiri panggilan pertamanya sebagai tersangka,” ujar Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Malang Ujang Supriadi SH MH, saat ditemui Memontum.com, Selasa siang.

Perlu diketahui bahwa sebelumnya Kejaksaan Negeri Kota Malang menetapkan Leonardo Wiebowo Soegio MBA (31) warga Jalan Buring No 45 , Kelurahan Oro-Oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang dan Natalia Christiana SH MKn (47) notaris, warga Jalan Taman Gayam, Kecamatan Klojen, Kota Malang, sebagai tersangka.

Kini petugas Pidsus Kejaksaan Negeri kota Malang, kembali menetapkan 1 tersangka lagi. Yakni Nanang Rofi’i, petugas BPN Kota Malang. Saat kejadian, Nanang menjabat sebagai staf juru ukur. Mereka bertiga ditetapkan sebagai tersangka kasus penjualan aset Pemkot Malang Jl BS Riadi. Sedangkan Candra adalah tersangka baru yang saat ini masih bisa menghirup udara segara.

Dalam acara Fareweel Party ini Kajari Kota Malang Amran Lakoni mengatakan bahwa terkait aset jl BS Riadi, kerugian negara sudah bisa dikembalikan.

“Untuk 4 sertifikat aset Pemkot di Jl BS Riadi sudah kami amankan,” ujar Amran.

Sosok Amran memang dikenal sosok yang tidak pernah marah, namun selalu tegas dalam bertugas.

“Anggota itu tidak perlu diomelin. Kita sentuh hatinya untuk bersama-sana menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Ingat bahwa kita digaji negara, harus bertanggung jawab kepada negara. Saya ucapkan terimakasih. Semoga semua anggita selalu kompak dan nantinya mendukung Kajari baru. Kota Malang adalah kota yang indah dan bersih. Warga Kota Malang juga sangat ramah dan bersahabat. Tidak akan sulit menyesuaikan diri di Kota Malang. Apalagi Forkopimda nya juga selalu kompak dan bersinergi,” ujar Amran. (gie/oso)

 

Berita

Gus Wahid, Guru Sekaligus Sahabat d’Kross

Diterbitkan

||

Ade Herawanto dan kru d'Kross saat bersama Gus Wahid dalam sebuah kesempatan. (ist)
Ade Herawanto dan kru d'Kross saat bersama Gus Wahid dalam sebuah kesempatan. (ist)

Memontum Kota Malang – KH Abdul Wahid Ghozali SAg yang biasa dipanggil Gus Wahid atau Kyai Arema, wafat Sabtu 4 Juli 2020. Sosok kyai yang kharismatik ini, bagi masyarakat Malang Raya mempunyai arti tersendiri. Termasuk Ade Herawanto. Front man d’Kross ini, mempunyai kenangan dan kesan yang penuh arti.

Pasalnya, sosok Gus Wahid yang juga mantan petinju ini, sudah dianggap sebagai guru sekaligus teman bagi Kepala Bapenda Kota Malang ini. Hubungan Ade Herawanto bukan hanya di forum resmi, namun tak jarang dia silaturahmi untuk ngangsu kaweruh. Terutama ajaran Gus Wahid tentang pluralisme, sangat tertanam dalam diri Ade Herawanto.

Bagaimana menjadikan musik sebagai media dakwah, Gus Wahid begitu memahami. Karena Gus Wahid ketika kuliah, juga seorang gitaris rock. Inilah salah satu motivasi yang menjadikan perjalanan spiritual d’Kross menjadikan musik sebagai media dakwah.

“Beliau dulu juga salah satu gitaris rock saat jaman kuliah, yang kami ingat membawakan lagu-lagu Scorpion,” kenang Ade Herawanto, Sabtu (4/7/2020) pada Memontum.com.

“Bahkan suatu saat, d’Kross pernah jam session sepanggung bersama beliau. Saat itu, kami membawakan aransemen Sholawat Ashygil dan Shalawat Bani Hasyim. Dikemas dalam genre hard rock,” imbuh Ade Herawanto.

Tak heran, kru d’Kross menganggap Gus Wahid sebagai salah satu guru dan sahabat. “Atas nama d’Kross, saya menyampaikan turut berbela sungkawa. Semoga amal ibadah Gus Wahid menjadikan beliau husnul khotimah,” punglas Ade Herawanto. (yan)

 

Lanjutkan Membaca

Berita

Terdampak Covid-19, Kena PHK, Pindah Haluan Jual Jeruk

Diterbitkan

||

Pedagang jeruk, Tofa saat melayani konsumen.(mg2)
Pedagang jeruk, Tofa saat melayani konsumen.(mg2)

Memontum Malang – Terkena imbas covid-19, Tofa (35) karyawan perusahaan jasa angkutan, beralih menjual jeruk. Ini demi memenuhi kebutuhan, sebelum mendapatkan pekerjaan baru. Namun, saat ini perkembangan penjualan buah jeruk di kawasan kabupaten Malang tidak stabil.

Bahkan mengalami penurunan, karena kondisi perekonomian belum normal. Pemerintah dan masyarakat masih menerapkan masa transisi menuju new normal. Maka saat ini, belum memberikan perubahan yang signifikan di bidang perekonomian.

“Sekarang ini, penjualan sedang menurun mas. Biasanya sehari itu bisa jual 1 kuintal lebih. Sekarang belum ada sama sekali,” ungkap tofa penjual buah jeruk di kawasan Jl Raya Karang Pandan, Sabtu (4/7/2020).

Tofa mengungkapkan, sudah berjualan buah selama kurang lebih 2 bulan. Untuk mendapatkan penghasilan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, selama masa pandemi covid-19. Sebelum di PHK, Tofa berpenghasilan rata-rata Rp 2.700.000 per bulan. Saat ini, hanya mampu mendapatkan kisaran Rp 2.300.000 per bulan dari berjualan jeruk.

“Selama saya kerja di perusahaan dulu saya bisa dapet uang per bulan kisaran Rp 2.700.000 tiap bulan. Sekarang jadi berdagang jeruk menurun jadi kisaran Rp 2.300.000 per bulan. Jadi untuk kebutuhan sehari-hari, menipis. Apalagi saya punya tanggungan yang harus dibayar per bulan sebesar Rp 1.750.000 di bank,” tutupnya. (mg2/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Berita

Mahasiswa Universitas Wisnuwardhana Demo, Tuntut Keringanan SPP 50 Persen

Diterbitkan

||

Mahasiswa Universitas Wisnuwardhana Demo, Tuntut Keringanan SPP 50 Persen

Memontum Kota Malang Mahasiswa Universitas Wisnuwardhana yang merasa keberatan dengan biaya kuliah, Rabu (1/7/2020) melanjutkan aksi demo di depan gedung pusat Universitas Wisnuwardhana. Mereka menuntut potongan SPP sebesar 50%. Sedangkan dari pihak kampus, sudah memberikan potongan sebesar 30% dengan syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi.

“Dari kami sudah memberikan kebijakan kepada mahasiswa yang mengalami kesulitan bisa mengajukan pemotongan uang spp sebesar 30%. Kalau masalah persyaratan kan memang semua kebijakan dan bantuan harus ada syaratnya gak mungkin kalau sembarang. Kami dari pihak kampus kan ingin benar-benar membantu kepada yang membutuhkan jadi ya harus ada persyaratannya untuk di penuhi,” ujar WR II Suharto.

“Di masa pandemi ini dengan metode pembelajaran daring atau online, kita sebagai mahasiswa mengalami kesulitan, karena terjadi krisis ekonomi. Kami bersama-sama meminta kepada pihak kampus untuk pemotongan biaya SPP sebesar 50%. Setelah pihak kampus memberikan kejelasan dengan potongan SPP 30% dengan syarat-syarat yang menurut kami tidak mampu memenuhinya,” ujar Ronald salah satu mahasiswa.

Persyaratan yang harus di penuhi yaitu seperti meminta surat dari desa atau wilayah masing-masing mahasiswa, lalu juga pekerjaan orang tua masing-masing mahasiswa dan juga harus mencantumkan laporan pembayaran listrik per bulan dari masing masing mahasiswa.

“Ya kan memang seharusnya begitu, persyaratan itu harus detail agar kami bisa tahu siapa yang harus benar-benar kami bantu dan juga siapa yang tidak memerlukannya. Karena semua bantuan memang harus ada persyaratannya,” ujar WR II Suharto.

Dari beberapa mahasiswa merasa masih keberatan dengan persyaratan yang harus di penuhi. Sedangkan kesulitan ekonomi di masa pandemi ini terus berjalan.

“Kami masih merasa kesulitan dengan persyaratan itu. Target kami kan potongan spp 50%, tapi sudah diputuskan potongan spp sebesar 30%. Menurut kami, persyaratan yang diberikan tidak masuk akal sehingga kami akan terus mendesak pihak kampus untuk menyetujui tuntutan kami para mahasiswa,” tutup Ronald salah satu mahasiswa. (mg1/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler