Connect with us

Hukum & Kriminal

Mahasiswi Bunuh Bayi, Pacarnya Ngaku Tak Tahu Aldis Hamil

Diterbitkan

||

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander SIK MH saat merilis sindikat aborsi di Mapolres Malang Kota. (gie)
Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander SIK MH saat merilis sindikat aborsi di Mapolres Malang Kota. (gie)

Memontum Kota Malang – Petugas Polres Malang Kota terus melakukan pengembangan terkait sindikat penjual obat penggugur bayi di Kota Malang. Salah satunya yakni memeriksa MN (24), pacar salah satu tersangka yakni Aldis SF (20) mahasiswi PTS Kota Malang, warga Jl Bimasakti II, Kelurahan Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Diketahii bahwa Aldis adalah salah satu pelanggan obat yang memiliki kandungan asam penggugur kandungan dari tersangka Tirta DS (22) warga Jl Abdilah Gang V, Kelurahan Tirtomoyo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Aksi Aldis sendiri cukup kejam mengeluarkan paksa bayi yang berusia 7 bulan kandungan dalam rahimnya. Tak hanya itu Aldis juga menbekap bayinya hingga tewas.

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander SIK MH, melalui Kasat Reskrim Polres Malang Kota AKP Komang Yogi Arya Wiguna SH SIK saat bertemu Memontum.com pada Selasa (15/10/2019) siang, menjelaskan bahwa dirinya sudah melakukan pemeriksaan terhadap MN beberapa waktu lalu.

” MN pacar teraangka A sudah kami periksa. Dia mengaku bahwa selama ini tidak mengatahui kalau A selama ini telah hamil. Dia mengaku jarang bertemu A. Selama bertemu, A juga tidak pernah bercerita tentang kehamilanya terhadap MN. Terkait pengguguran kandungan hingga pembunuhan yang dilakukan oleh A terhadap bayinya, hal itu tidak diketahui oleh MN. Saat ini kami masih terus melakukan pengembangan,” ujar AKP Komang.

Seperti diberitakan sebelumnya, jaringan sindikat penjual obat penggugur kandungan di KotaMalang berhasil diberangus petugas Polres Malang Kota. Tak hanya mengamankan 3 pengedarnya, petugas juga mengamankan 2 mahasiswi yang menjadi pelanggan obat Cytotec untuk menggugurkan kandungan. Ke 5 tersangka tersebut, Senin (14/10/2019) pukul 14.00, dirilis di Polres Malang Kota.

Ke 3 pengedar yang berhasil ditangkap yakni Tirta DS (22) warga Jl.Abdilah Gang V, Kelurahan Tirtomoyo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Indah I (32) warga Jl Ki Ageng Gribik Gang I, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang dan Tri S (48) tukang listrik, warga Jl Kapi Pramuja, Kelurahan Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Sedangkan 2 pelangganya yakni Aldis SF (20) mahasiswi PTS Kota Malang, warga Jl Bimasakti II, Kelurahan Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang dan Bellay HN (20) mahasiswi PTS Kota Malang, warga Jl Semeru Selatan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang atau Jl Teluk Etna, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Bahkan pada bulan Maret 2019, Aldis mengugurkan kandungannya yang sudah berusia 7 bulan bulan. Bahkan setelah anaknya lahir, lalu dibekap hingga meninggal.

Dua pelanggan obat penggugur kandungan Aldis SF (20) mahasiswi PTS Kota Malang, warga Jl Bimasakti II, Kelurahan Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang dan Bellay HN (20) mahasiswi PTS Kota Malang, warga Jl Semeru Selatan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang atau Jl Teluk Etna, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Senin (14/10/2019) pukul 14.00, tampak tenang dan santai saat dirilis di halaman depan Mapolres Malang Kota.

Informasi Memontum, bahwa Aldis sudah merencanakan untuk aborsi sejak Oktober 2018. Saat dirinya mengetahui telah hamil hasil hubungan badan dengan kekasihnya. Karena malu atas kehamilannya Aldis meminta tolong Bellay untuk mencarikan obat yang bisa menggugurkan kandungan. Aldis kemudian dikenalkan Bellay kepada Tirta DS (22) warga Jl Abdilah Gang V, Kelurahan Tirtomoyo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Dari sinilah Aldis membeli 12 butir Pil Cytotec seharga Rp 1,2 juta kepada Tirta sekitar bulan Maret 2019, saat usia kandungannya menginjak 7 bulan. Dari 12 butir itu, Bellay juga meminta 2 butir karena mengaku telat datang bulan.

” Dari 12 butir, 2 dikonsumsi oleh tersangka berinisial B, dan sisanya dikonsumsi tersangka berinisial A,” ujar Kapolres Malabg Kota AKBP Dony Alexander SIK MH.

Aldis kemudian mengkonsumsi 5 butir pertama namun tidak ada reaksi. Selanjutnya dia konsultasi dengan Tirta hingga diminta meminum 2 butir lagi dan 4 dimasukan ke dalam vagina. Selang 4 hari kemudian, bayi berumur 7 bulan kandungan tersebut lahir saat Aldis berada di rumah kosnya di sekitaran Jl Jakarta.

BACA : Sindikat Aborsi, Penjual Nasi Goreng Jual Obat Penggugur, Punya 10 Pelanggan Gadis

” Menurut tersangka A, bahwa bayi itu lahir dalam kondisi hidup. Namun setelah lahir, bayi itu ditutup dengan kain hingga meninggal. Ari-ari dipotong dengan menggunakan gunting. Selanjutnya A meminta saran kepada B hingga disepakati untuk dikubur di daerah Pasuruan. Saat ini jenazah bayi sudah kami temukan dan tulang -tulangnya sudah diidentifikasi di RS Polri. Tersangka ditangkap dengan dugaan sebagai pelaku aborsi, membantu melakukan aborsi. Kami kenakan Pasal 77 A ayat (1) UU RI No 35 th 2014 ttg perubahan atas UU RI no 23 th 2002 ttg Perlindungan Anak Jo 56 KUHP dengan ancaman 10 tahun penjara,” ujar AKBP Dony.

Kedepannya, AKBP Donny akan berkoordinasi dengan pihak-pihak universitas supaya kasus ini tidak terjadi lagi di Kota Malang. ” Dalam waktu dekat kami akan koordinasi dengan pihak universitas supaya kasus seperti ini tidak terjadi lagi di Kota Malang,” ujar AKBP Dony. (gie/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Enam Tersangka Jaringan Pengedar Sabu, Pil LL, Inex dan Ganja Dibrangus

Diterbitkan

||

Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Dr Leonardus, Wakapolresta AKBP Totok, Kasat Reskoba AKP Anria Rosa, Kasubag Humas Iptu Marhaeni, saat merilis para tersangka narkoba. (gie)
Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Dr Leonardus, Wakapolresta AKBP Totok, Kasat Reskoba AKP Anria Rosa, Kasubag Humas Iptu Marhaeni, saat merilis para tersangka narkoba. (gie)

Memontum Kota Malang – Jaringan peredaran narkoba di Kota Malang berhasil dibrangus petugas Reskoba Polresta Malang Kota. Awalnya petugas berhasil menangkap AE alias Efendi (31) warga Jl Bantaran Barat Gang II, Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Petugas melakukan penangkapan tersangka lainnya yakni AK alias Afif (35) dan MAP alias Anton (22) keduanya warga Jl Simpang Akordion, Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, UA alias Ulul (25) warga Jl Ketangi, Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Dua pelaku lainnya yakni FA (34) warga Putungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang dan ADP (25) warga Jl M Yamin, Desa Codo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.

Meskipun ke 6 tersangka ini mengaku hanya sebagai kurir, namun barang bukti yang diamankan cukup luar biasa besarnya. Yakni Pil LL sebanyak 703.000 butir, Inex sebanyak 524 butir, ganja 6,5 kg, dan Shabu-Shabu (SS) sebanyak 130 gram. Ke 6 tersangka ini dirilis di Polresta Malang Kota pada Selasa (27/10/2020) siang.

Informasi Memontum.com bahwa penangkapan ini bermula setelah petugas menangkap AE di rumahnya pada 20 Oktober 2020 pukul.19.30. Saat ditangkap AE tidak bisa lagi mengelak karena kedapatan BB berupa 3 bungkus kresek besar berisi ganja, 1 plastik wrab berisi ganja, 1 klip besar berisi ganja, 1 klip sedang berisi ganja, 10 klip kecil berisi ganja, 5 bungkus klip berisi inex warna merah muda sebanyak 500 butir, 1 klip plastik berisi inex nerah muda 24 butir, Pil LL 703.000 butir dan 10 klip SS.

Atas perbuatannya itu AE terancam Pasal 111 ayat 2 dan Pasal 112 ayat 2 UU RI No 35 Tahun 2009 dan Pasal 196 Sub Pasal 197 UU RI No 36 tahun 2009, tentang kesehatan. Dengan ancaman penjara seumur hidup dan paling singkat 5 tahun penjara serta dengan maksimal Rp 10 miliar.

Kepada petugas, AE mengaku bahwa dirinya hanyalah kurir dibawah pelaku berianisial AK, MAP dan UA. Pengirimannya yakni sebanyak 4 kg. Di tangan AE sudah berhasil menjualkan 1,5 kg ganja.

Petugas kemudian melakukan pengembangan hingga berhasil menangkap AK, MAP dan UA di Jl Simpang Akordion, pada 22 Oktober 2020. Dari ketiganya petugas berhasil mendapatkan BB berupa 3 bungkus besar ganja, 3 bungkus lakban ganja, 2 bungkis kecil ganja, timbangan elektrik dan 5 ponsel.

Ketiganya mengaku bahwa narkoba miliknya itu di dapat dari EK (DPO) yang disalurkan melakui LTF (DPO). Pengirimannya melalui sistem ranjau yang dibungkus dengan peti kayu di sekitaran Pasar Karangploso. Saat itu ganja yang dikirim sebanyak 100 kg.

Narkoba itu kemudian disalurkan kembali ke tangan EF, FA dan ADP. Petugas kemudian berhasil menangkap FA dengan BB berupa 4 bungkus besar ganja. ADP diamankan di rumahnya dengan BB 1 bungkus sedang berisi SS, 4 bungkus kecil SS, 1 kaleng ganja dan 6 linting ganja kering. Penjualannya sendiri harus sesuai atas perintah EK yang keberadaanya kini belum diketahui. Ke 6 tersangka ini mengaku sebagai kurir yang bertugas mengantar pesanan narkoba.

Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Dr Leonardus Harapantua Simarmata Permata S Sos SIK MH mengatakan bahwa pihaknya masih terua melakukan pengembangan untuk menangkap para tersangka lainnya. “Kami masih terus melakukan pengembangan termasuk menelusuri keberadaan 53 kg itu sudah sampai dimana, sudah terdistribusi kemana saja. Kami akan terus melakukan pencarian,” ujar Kombes Pol Leonardus. (gie)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Ditangkap Polisi, Si Anak Penganiaya Ibu Meminta Maaf

Diterbitkan

||

Ditangkap Polisi, Si Anak Penganiaya Ibu Meminta Maaf
Fitrotul bersama ibunya Nurhayati ketika berada di Mapolresta Malang Kota. (ist/repro)

Memontum Kota Malang – Usai diamankan petugas Polresta Malang Kota di Pondok Yatim Piatu dan Duafa Al Muqorroban di Jl Sumpil II A, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Fitrotul Azizah (24) warga asal Jl Ngamarto Gang I, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, akhirnya meminta maaf kepada Nurhayati (60) ibu kandungnya.

“Saya menyesal telah melakukan kekerasan kepada ibu saya. Saya berjanji tidak.mengulangi lagi. Katena saya khilaf, terbawa emosi. Untuk netizen yang melihat saya di media sosial, saya meminta maaf atas perlakuan saya yang seperti itu kepada ibu saya,” ujar Fitrotul.

Dalam rekaman video yang dibagikan oleh Humas Polresta Malang Kota, tampak usai meminta maaf, Fitrotul segera memeluk ibunya. Sementara itu Nurhayati, tidak ingin kasus penganiayaan terhadap dirinya diproses hingga pengadilan. Walaupun telah dianiaya, namun Nurhayati tetap menyayangi Fitrotul.

Perlu diketahui bahwa Fitrotul mengaku menganiaya Nurhayati, ibu kandungnya karena merasa kesal. Sebab beberapa waktu lalu, saat dirinya dianiaya oleh kakak sepupunya, merasa tidak dibela oleh ibunya. Kejengkelannya diluapkan kepada ibunya saat berteduh di belakang Pasar Mergan Jl Raya Langsep, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang hingga videonya viral di media sosial.

Fitrotul saat meminta maaf dan memeluk Nurhayati, ibunya. (ist/repro)

Fitrotul saat meminta maaf dan memeluk Nurhayati, ibunya. (ist/repro)

Fitrotul akhirnya berhasil ditangkap pada Minggu (25/10) sore di Pondok Yatim Piatu dan Duafa Al Muqorroban di Jl Sumpil II A, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

“Saat ini masih kami proses. Korban tidak menuntut. Agar peristiwa ini tidak terulang kembali, pelaku kami minta membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya dan meminta maaf kepada ibunya,” ujar AKP Azi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Sebuah video penganiayaan beredar di media sosial Facebook dan Instagram. Seorang wanita muda tampak menganiaya seorang wanita tua yang saat itu sedang berteduh dari hujan. Video itu diunggah pada Kamis (22/10) malam.

Beberapa kali nenek tua tersebut didorong tanpa perlawanan. Mulut sempat dibekap mulutnya hingga jualan sayur si nenek jatuh ke tanah.

Netizen berakun @ir_kartika membagikannya ke @infomalangraya. “Kejadian di dekat pasar Mergan. Kota Malang. Ibu tua dipukuli. Saat kejadian, sebenarnya saya hendak menghampiri kedua orang tersebut. Guna klarifikasi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang yang berbaju biru terhadap ibu tua,” ujarnya dalam tulisan.

“Tetapi keadaan saat itu hujan deras. Dan saya perhatikan dahulu sembari merekam secara sembunyi-sembunyi dibalik mobil yang sedang parkir. Ketika saya rasa tindakan orang berbaju biru itu sudah terlalu berlebihan. Saya pun segera mematikan HP dan hendak menghampiri kedua orang tersebut,” ujarnya.

“Ketika saya mematikan hape, datang seorang pengendara sepeda motor. Ketiga orang tersebut (termasuk ibu tua) terlihat saling ngobrol. Dan akhirnya pergi berboncengan meninggalkan tempat kejadian,” tutupnya.

Postingan ini langsung viral. Petugas Resmob Polresta Malang Kota dan Polsekta Klojen langsung diterjunkan ke lokasi pada Jumat (23/10/2020) pagi. Lokasi penganiayaan sudah ditemukan. Namun sampai saat ini petugas masih melakukan pelacakan terhadap korban dan pelaku.

Kasat Reskrim AKP Azi Pratas Guspitu SH SIK saat dikonfirmasi Memontum.com pada Jumat siang mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan.

“Kita masih lidik. Kami tindak lanjuti . Dari Polsek Klojen dan Anggota Resmob Polresta Malang Kota sudah cek TKP. Memang benar TKP nya ada sesuai dalam video tersebut. Kita masih mencari saksi, korban dan juga pelakunya. Saat ini anggota kami masih ada di lapangan. Karena korban tidak tinggal di sekitar lokasi kejadian,” ujar AKP Azi. (gie)

 

 

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Diduga Karena Ngantuk, Sopir Kijang Sebabkan Kecelakaan Beruntun

Diterbitkan

||

Mobil Kijang saat menabrak mobil Zebra. (ist)
Mobil Kijang saat menabrak mobil Zebra. (ist)

Memontum Kota Malang – Kecelakaan beruntun terjadi di Jl Raya Tligomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang atau tepatnya depan BRI KCP Tlogomas atau di depan area Kampus UMM, Senin (26/10/2020) pukul 06.20.

Yakni melibatkan mobil Kijang Nopol N 483 AC yang dikemudikan Nurali (58) warga Jl Rambutan, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Motor Vega Nopol N 6746 AAZ yang dikemudikan Yudha Kurniawan Baskara (41), warga Jl. Vinolia VI/8, Kecamatan Lowokwaru Kota Malang dan mobil Zebra Nopol N 1952 HN yang dikemudikan Agus Mulyono (50) warga Jl Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Informasi Memontum.com bahwa pagi itu Nurali berpenumpang Khisnul Aini (55) kerabatnya, mengemudikan mobil Kijang melaju dari arah barat ke timur. Sesampainya di depan pintu keluar Kampus UMM, Nurali diduga mengantuk hingga kehilangan konsentrasi.

Haluannya terlalu ke kanan tak terkendali menabrak Motor Vega yang dikendarai Yudha dan menabrak mobil Zebra yang dikemudikan Agus Mulyono yang saat itu bersama Tyas (9) putrinya, yang melaju dari arah berlawanan.

Benturan keras pun terjadi, Yudha terpental tergeletak di aspal jalan. Kepala bodi mobil Kijang itu menghujam bagian kanan depan mobil Zebra hingga membuat Agus mengalami luka-luka. Warga dan petugas Laka Lantas segera memberikan pertolongan membawa Yudha, Agus dan Tyas ke RS UMM.

Kasubnit I Laka Lantas Ipda Deddy Cattur Wahono membenarkan adanya kecelakan tersebut. “Diduga pengemudi mobil Kijang mengantuk hingga kehilangan kendali menabrak motor dan mobil yang melaju dari arah berlawanan,” ujar Ipda Deddy. (gie)

 

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler