Connect with us

Hukum & Kriminal

Sindikat Aborsi, Mahasiswi asal Lawang itu, Bunuh Bayinya dengan Kejam

Diterbitkan

||

Tersangka Bellay dan Aldis. (gie)
Tersangka Bellay dan Aldis. (gie)

Memontum Kota Malang – Dua pelanggan obat penggugur kandungan Aldis SF (20) mahasiswi PTS Kota Malang, warga Jl Bimasakti II, Kelurahan Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang dan Bellay HN (20) mahasiswi PTS Kota Malang, warga Jl Semeru Selatan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang atau Jl Teluk Etna, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Senin (14/10/2019) pukul 14.00, tampak tenang dan santai saat dirilis di halaman depan Mapolres Malang Kota.

Informasi Memontum, bahwa Aldis sudah merencanakan untuk aborsi sejak Oktober 2018. Saat dirinya mengetahui telah hamil hasil hubungan badan dengan kekasihnya. Karena malu atas kehamilannya Aldis meminta tolong Bellay untuk mencarikan obat yang bisa menggugurkan kandungan. Aldis kemudian dikenalkan Bellay kepada Tirta DS (22) warga Jl Abdilah Gang V, Kelurahan Tirtomoyo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Kapolres Malang Kota AKBP Donny Alexander SIK MH tunjukan kerangka bayi digugurkan oleb Aldis. (gie)

Kapolres Malang Kota AKBP Donny Alexander SIK MH tunjukan kerangka bayi digugurkan oleb Aldis. (gie)

Dari sinilah Aldis membeli 12 butir Pil Cytotec seharga Rp 1,2 juta kepada Tirta sekitar bulan Maret 2019, saat usia kandungannya menginjak 7 bulan. Dari 12 butir itu, Bellay juga meminta 2 butir karena mengaku telat datang bulan. ” Dari 12 butir, 2 dikonsumsi oleh tersangka berinisial B, dan sisanya dikonsumsi tersangka berinisial A,” ujar Kapolres Malabg Kota AKBP Donny Alexander SIK MH.

Aldis kemudian mengkonsumsi 5 butir pertama namun tidak ada reaksi. Selanjutnya dia konsultasi dengan Tirta hingga diminta meminum 2 butir lagi dan 4 dimasukan ke dalam vagina. Selang 4 hari kemudian, bayi berumur 7 bulan kandungan tersebut lahir saat Aldis berada di rumah kosnya di sekitaran Jl Jakarta.

” Menurut tersangka A, bahwa bayi itu lahir dalam kondisi hidup. Namun setelah lahir, bayi itu ditutup dengan kain hingga meninggal. Ari-ari dipotong dengan menggunakan gunting. Selanjutnya A meminta saran kepada B hingga disepakati untuk dikubur di daerah Pasuruan. Saat ini jenazah bayi sudah kami temukan dan tulang -tulangnya sudah diidentifikasi di RS Polri. Tersangka ditangkap dengan dugaan sebagai pelaku aborsi, membantu melakukan aborsi. Kami kenakan Pasal 77 A ayat (1) UU RI No 35 th 2014 ttg perubahan atas UU RI no 23 th 2002 ttg Perlindungan Anak Jo 56 KUHP dengan ancaman 10 tahun penjara,” ujar AKBP Donny.

Kedepannya, AKBP Donny akan berkoordinasi dengan pihak-pihak universitas supaya kasus ini tidak terjadi lagi di Kota Malang. ” Dalam waktu dekat kami akan koordinasi dengan pihak universitas supaya kasus seperti ini tidak terjadi lagi di Kota Malang,” ujar AKBP Donny.

Seperti diberitakan sebelumnya, jaringan sindikat penjual obat penggugur kandungan di Kota Malang berhasil diberangus petugas Polres Malang Kota. Tak hanya mengamankan 3 pengedarnya, petugas juga mengamankan 2 mahasiswi yang menjadi pelanggan obat Cytotec untuk menggugurkan kandungan. Ke 5 tersangka tersebut, Senin (14/10/2019) pukul 14.00, dirilis di Polres Malang Kota.

BACA : Sindikat Penjual Obat Aborsi Diberangus, Mahasiswi di Kota Malang Bunuh Bayi

Ke 3 pengedar yang berhasil ditangkap yakni Tirta DS (22) warga Jl.Abdilah Gang V, Kelurahan Tirtomoyo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Indah I (32) warga Jl Ki Ageng Gribik Gang I, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang dan Tri S (48) tukang listrik, warga Jl Kapi Pramuja, Kelurahan Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Sedangkan 2 pelangganya yakni Aldis SF (20) mahasiswi PTS Kota Malang, warga Jl Bimasakti II, Kelurahan Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang dan Bellay HN (20) mahasiswi PTS Kota Malang, warga Jl Semeru Selatan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang atau Jl Teluk Etna, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Bahkan pada bulan Maret 2019, Aldis mengugurkan kandungannya yang sudah berusia 7 bulan bulan. Bahkan setelah anaknya lahir, lalu dibekap hingga meninggal. (gie/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Hukum & Kriminal

Kapolresta Malang Terima Anugerah sebagai Bapak Disabilitas Kota Malang

Diterbitkan

||

oleh

Kapolresta Malang Terima Anugerah sebagai Bapak Disabilitas Kota Malang

Memontum Kota Malang – Komunitas penyandang disabilitas di Kota Malang menganugrahi Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto, sebagai Bapak Disabilitas Kota Malang, Rabu (17/08/2022) tadi.

Penganugrahan ini diberikan, dalam rangkaian momentum peringatan HUT Kemerdekaan ke-77 Republik Indonesia. Mereka datang ke Mapolresta Malang Kota, dengan memberikan kejutan kepada Kombes Pol Budi Hermanto, yang selama ini telah peduli dengan penyandang disabilitas di Kota Malang.

Mewakili komunitas penyandang disabilitas yang hadir, Sekretaris Difabel Creative Community Kota Malang, Dwi Lindawati, menjelaskan terkait pengukuhan tersebut. “Jadi kami melihat, sosok Kapolresta Malang Kota ini rutin membantu teman-teman disabilitas. Mulai dari kebutuhan, keluhan maupun kesulitan dari teman-teman disabilitas. Kapolresta Malang Kota langsung cepat bergerak merespon tanpa banyak bicara,” ujarnya.

Berbekal dari kepedulian itulah, komunitas penyandang disabilitas di Kota Malang, sepakat menganugerahi apresiasi kepada Kombes Pol Budi Hermanto “Bertepatan pada momen HUT Kemerdekaan ke-77 RI, kami memberikan apresiasi serta menobatkan Kombes Pol Budi Hermanto sebagai Bapak Disabilitas Kota Malang,” tambahnya.

Baca juga :

Dwi Linda berharap, langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Kombes Pol Budi Hermanto, ini dapat diadopsi serta diterapkan di instansi-instansi lainnya. “Sebagai contoh, Polresta Malang Kota telah memberikan kesempatan bekerja  penyandang disabilitas tanpa melihat dari sisi pendidikan. Tetapi, justru melihat dari sisi skill atau kemampuan yang dimiliki penyandang disabilitas,” terang Dwi Lindawati

Sementara itu, Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto, mengucapkan terima kasih atas apresiasi dan pengukuhan yang telah diberikan oleh komunitas disabilitas di Kota Malang. “Saya ucapkan apresiasi dari rekan-rekan disabilitas yang telah mengukuhkan sebagai Bapak Disabilitas Kota Malang. Jujur kami tidak mengira akan mendapatkan anugerah ini. Apa yang telah kami lakukan ini, bukan karena berlandaskan kasihan, namun lebih kepada memberikan kesempatan yang setara sesuai dengan potensi dan skill saudara-saudara disabilitas,” jelasnya.

Dirinya juga menambahkan, bahwa pihaknya telah membuat Program Makota Sigap (Polresta Malang Kota Donasi Gerakan Peduli). Dimana program gerakan donasi itu tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat, namun juga penyandang disabilitas.

“Makota Sigap itu adalah saluran untuk teman-teman dalam menyalurkan donasinya kepada yang membutuhkan. Kita wujudkan dalam bentuk barang. Seperti tadi, ada salah satu teman disabilitas yang hampir tidak pernah keluar rumah selama 30 tahun,” ujarnya.

Dengan adanya bantuan kursi roda dari Makota Sigap, saat ini ia bisa melihat dunia luar. “Kami ingin hal-hal seperti ini, bisa menjadi contoh bagi instansi lainnya agar dapat lebih peduli dan menghargai kondisi saudara-saudara kita penyandang disabilitas,” imbuh Kombes Buher. (gie)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Jalan bersama Suami, Seorang Nenek di Kedungkandang Malang Jadi Sasaran Jambret

Diterbitkan

||

oleh

Jalan bersama Suami, Seorang Nenek di Kedungkandang Malang Jadi Sasaran Jambret

Memontum Kota Malang – Nenek Painah (75), warga Perumahan New Puri Kartika Asri, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Sabtu (13/08/2022), menjadi korban aksi penjambretan. Kejadian itu, berlangsung saat Painah sedang berjalan di Jalan Raya Wonorejo, Kelurahan Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang. Akibat kejadian ini, Painah harus kehilangan kalung emas seberat 6 gram.

Informasinya, pagi itu Painah bersama suaminya, Suryo (90), sedang berjalan-jalan di sekitar lokasi kejadian. Saat kejadian, Painah berjalan dari arah Selatan ke Utara dan hendak menuju ke perumahan.

Dalam kondisi sekitar lokasi yang cukup sepi itulah, diduga pelaku yang mengendarai motor Vixion langsung memepet korban dari arah belakang. Dengan cepat, pelaku menarik kalung tersebut dan langsung kabur ke Utara meninggalkan lokasi.

Baca juga :

Usai kejadian itu, Painah tampak shock hingga sesampainya di rumah langsung menceritakan kejadian ini kepada Winaji (52), anaknya. “Saat sampai di rumah, saya melihat ibu saya sudah tidak memakai kalungnya itu. Saat saya tanya, ibu saya ngomong kalau kalungnya baru saja ditarik dan dicuri oleh seseorang,” ujar Winaji, Minggu (14/08/2022) tadi.

Mengetahui ibunya telah menjadi korban jambret, Winaji langsung ke lokasi dan mencari rekaman CCTV. “Saya melihat rekaman CCTV, bahwa benar ibu saya telah menjadi korban penjambretan. Ibu saya memang sering pakai kalung kesayangannya itu. Kalung itu penuh kenangan yang dibeli dari hasil kerja kerasnya saat menjadi petani. Kejadian ini belum saya laporkan ke polisi,” ujarnya. (gie)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Sidang Gugatan PT Fadil ke Polinema, Kuasa Hukum sebut 40 Persen Pembayaran Termin Diberikan saat Gugatan Diajukan

Diterbitkan

||

oleh

Sidang Gugatan PT Fadil ke Polinema, Kuasa Hukum sebut 40 Persen Pembayaran Termin Diberikan saat Gugatan Diajukan

Memontum Kota Malang – Sidang gugatan PT Fadil Rahma Samodra terhadap Politeknik Negeri Malang (Polinema) terus berlanjut di Pengadilan Negeri (PN) Kota Malang, Kamis (11/08/2022) tadi. Adapun agendanya, yakni pemeriksaan dua saksi fakta dari PT Fadil yang dihadirkan di ruang persidangan.

Perlu diketahui, bahwa perkara ini berawal dari adanya pemutusan kontrak sepihak oleh Polinema atas pekerjaan proyek yang dilakukan pemenang lelang, yaitu PT Fadil Rahma Samodra. Proyek pembangun Gedung Kuliah Akutansi dan Administrasi Niaga, itu berlangsung di Tahun Anggaran (TA) 2021. Karena merasa adanya pemutusan sepihak, PT Fadil Rahma Samodra pun melakukan gugatan.

Usai persidangan, Tedhi Hermawan, selaku kuasa hukum PT Fadil, mengatakan bahwa persidangan kali ini dengan agenda saksi fakta dari penggugat. “Hari ini ada dua saksi fakta dari penggugat, sebelumnya ada empat saksi fakta. Sehingga, total saksi fakta yang sudah dihadirkan sebanyak enam orang. Kita menguatkan dalil-dalil kita, terkait pemutusan kontrak yang dilakukan Polinema,” ujar Tedhi.

Baca juga :

Dijelaskan oleh Tedhi, dari keterangan saksi, diketahui ada kendala yang menjadi penyebab. “Diputusnya kontrak, itu merugikan kita. Dari pihak Polinema, itu melakukan pemutusan sepihak . Padahal, saat itu klien kami mengalami kendala. Seperti kendala akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), material besi langka, dari sisi pengiriman dan pasokan terkendala,” ujar Tedhi.

Selain itu juga, tambahnya, ada keterlambatan pembayaran permohonan termin. “Ibaratnya, cari besi saja susah kok ditambah keterlambatan pembayaran permohonan termin. Setiap kali kita ajukan, permohonan pembayaran termin selalu tertunda. Fatalnya, yang 40 persen terbayar saat gugatan diajukan,” jelasnya.

Sementara itu, pihak Polinema melalui Jaksa Pengacara Negara dari Kejaksaan Negeri Malang, Abdurrahman, menyebut bahwa kedua saksi tersebut hanya memberikan keterangan terkait diminta bantuan proses administrasi. “Mereka tidak bekerja di PT Fadil sebagai pemenang tender. Mereka hanya diminta bantuan, jadi tidak mengetahui persis pelaksanaan pekerjaan sampai di mana,” ujar Abdurrahman. (gie)

Lanjutkan Membaca

Terpopuler