Connect with us

Hukum & Kriminal

Difitnah Kasus Perkosaan, Mahasiswa UB Lapor Polisi

Diterbitkan

||

Kasat Reskrim Polres Malang Kota AKP Komang Yogi Arya Wiguna. (gie)
Kasat Reskrim Polres Malang Kota AKP Komang Yogi Arya Wiguna. (gie)

Memontum Kota Malang – Masih ingat dengan kasus laporan palsu kasus perkosaan mahasiswi UB beberapa waktu lalu, nampaknya bakal berbentut panjang. Selain bakal mendapat sanksi pidana karena telah membuat laporan palsu, kini RN (18) mahasiswi UB asal Kebayoran Lama, Jakarta, juga sudah dilaporkan ke polisi terkait fitnah yang telah dilakukannya.

BE (22) mahaswa UB, yang telah dilaporkan kasus perkosaan palsu terbut, merasa difitnah dan namanya dicemarkan. Oleh karena itu BE beberapa waktu lalu telah resmi mengadukan RN ke Polres Malang Kota.

Kasat Reskrim Polres Malang Kota AKP Komang yogi Arya Wiguna SIK SH, saat bertemu Memontum.com, membenarkan kalau pihak yang dirugikan oleh RN telah memnuat pengaduan secara tertulis bebeberapa waktu lalu.

” Laporan palsu itu masih dalam proses penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi. AL, pacar RN yang disebut-sebut sebagai otak laporan palsu ini, akan secara resmi kita panggil untuk diperiksa. Setelah itu kita melakukan gelar perkara untuk memberikan kepastian hukum. Sedangkan BE, orang yang dirugikan dalam kasus laporan palsu ini, telah membuat pengaduan secara tertulis,” ujar AKP Komang.

Seperti diberitakan sebelumnya, Petugas Polres Malang Kota hingga Senin (23/9/2019) siang, masih terus melalukan penyelidikan terkait laporan kasus pemerkosaan yang dialami oleh seorang mahasiswi yakni RN (18) , warga asal Kebayoran Lama. RN melapor kan kasus perkosaan yang dialaminya pada 29 Agustus 2019 pukul 13.30 di parkiran Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Saat itu Bunga mengaku diperkosa di dalam mobilnya oleh BE (22), teman kampusnya.

Baca : Dipaksa Hohohihe di Dalam Mobil di Parkiran Kampus, Mahasiswi UB Lapor ke Polisi

Informasi Memontum, bahwa RN sudah mengenal BE yang tak lain adalah pacar temannya. Dalam laporannya RN memyebut bahwa sebelum kejadian dia berada di dalam mobilnya sambil bermain ponsel sambil menunggu pacarnya yang sedang kuliah.

Tiba-tiba kaca mobilnya ketuk oleh BE meminta RN untuk membuka pintu. Karena tidak ada firasat buruk, RN membuka pintu dan keluar dari dalam mobil. Saat itulah BE masuk ke dalam mobil milik RN.

Diwaktu yang hampir bersamaan, RN ditarik masuk ke dalam mobil dan semua pintu dan kaca jendela ditutup rapat. Saat itulah kemudian terjadi pemerkosaan terhadap RN. Karena tidak menerimakan dengan adanya kejadian itu, pada sore harinya, RN langsung melapor ke Polres Malang Kota. Petugas Polres Malang Kota masih terus mendalami laporan ini termasuk memerikaa sejumlah saksi.

Laporan perkosaan itu ternyata palsu. Hal itu disampaikan oleh Kasat Reskrim Polres Malang Kota AKP Komang Arya Wiguna SH SIK pada Rabu (25/9/2019) pukul 16.30.

Baca Juga : Mahasiswi UB Bikin Laporan Perkosaan Palsu, Sakit Hati, Ingin Jebloskan Teman ke Penjara

AKP Komang menjelaskan bahwa hasil dari penjelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi, diketahui kalau laporan RN palsu. Motifnya karena AL (20) kekasih dari RN, sakit hati kepada BE (22), teman kampusnya yang menjadi terlapor dalam kasus ini. AL awalnya menuduh RN ada cinta segitiga yakni memiliki hubungan dengan BE. Membuktikan kesetiaanya, AL menyuruh RN, kekasihnya membuat laporan palsu kasus perkosaan untuk menjebloskan BE ke penjara.

“Laporan itu kami dalami. Dari penyelidikan dan keterangan saksi-saksi bahwa BE, selaku terlapor, saat kejadian sedang mengikuti perkuliahan. Ada ketidaksamaan dalam laporan ini. Ternyata laporan perkosaan itu tidak benar. Laporan palsu itu atas permintaan AL, pacar pelapor. Dia disuruh memberikan keterangan palsu. Motifnya karena AL merasa tidak suka dengan BE. Pelapor juga membenarkan kalau ternyata laporannya adalah palsu,” ujar AKP Komang.

Selama 3 minggu, petugas Polres Malang Kota terus melakukan penyelidikan hingga menemukan kebenaran bahwa laporan perkosaan itu adalah palsu. Tentunya memberikan laporan palsu ada sanksi pidananya. Yakni Pasal 242 ayat 1 KUHP dengan ancaman penjara selama 7 tahun.

” Kalau membuat laporan palsu ada konsekuensinya sudah fiatir Pasal 242 ayat 1 KUHP ancamannya 7 tahun penjara. Selain itu kalau ada yang dirugikan dan keberatan dengan laporan palsu ini, bisa melapor. Kami masih melakukan pendalaman untuk menentukan tersangkanya. (gie/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

BCT Disatroni Curanmor, 3 Pelaku Segera Apes?

Diterbitkan

||

BCT Disatroni Curanmor, 3 Pelaku Segera Apes

Memontum, Kota Malang – Para pelaku Curanmor terus saja bergentayangan layaknya hantu di Kota Malang. Mereka mengintai motor hang terparkir dalam kondisi tak terjaga. Kali ini, mereka berhasil mencuri motor Honda Beat Nopol L 3525 RQ milik Putri Nur Anisa Larasati (21), mahasiswi di Kota Malang.

Motor tersebut hilang saat di parkir halaman kos temannya di Perum Bukit Cemara Tujuh Blok E No 2, RG 07/RW 07, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Kamis (27/2/2020) pukul 19.50. Kejadian Curanmor ini, telah dilaporkan ke Polresta Malang Kota dan masih dalam penyelidikan petugas untuk menangkap pelakunya.

Informasi Memontum.com bahwa malam itu Putri datang ke kos temannya di Perum Bukit Cemara Tujuh. Motor dimasukan ke halaman kos dan pintu pagar juga sudah ditutup.

“Pagar tertutup namun tidak digembok. Motor saya parkir dalam kondisi terkunci stang stir. Sata kemudian masuk ke dalam kos,” ujar Putri.

Diduga pelaku melakukan aksinya sekitar pukul 19.50. Sebab saat itu terdengar pintu pagar terbuka. Palaku melakukan aksinya dalam hitungan detik. Sebab saat teman korban melakukan pengecekan, pelaku sudah berhasil menguasai motor dan segera kabur.

“Teman saya melihat motor milik saya sudah dinaiki 3 orang pelaku. Sempat dikejar namun mereka berhasil kabur,” ujar Putri.

Kini Putri hanya bisa berharap petugas kepolisian berhasil mengamankan pelakunya dan menemukan motornha yang hilang.

“Semoga motor milik saya segera ditemukan oleh petugas kepolisian,” ujar Putri kepada Memontum.com. (gie/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Divonis 20 Tahun, Sugeng Kasus Mutilasi Pasar Besar Mengaku Puas, PH Ajukan Banding

Diterbitkan

||

Sugeng Santoso usai dengarkan putusan majelis hakim. (gie)
Sugeng Santoso usai dengarkan putusan majelis hakim. (gie)

Memontum Malang – Terdakwa Sugeng Santoso (49) warga Jodipan Gang III, Kota Malang, akhirnya jalani sidang vonis pada Rabu (26/2/2020) pukul 15.00 di Pengadilan Negeri (PN) Malang. Majelis Hakim Dina Pelita Asmara SH MH membacakan putusan setebal 100 lembar tersebut. Putusan setebal 100 lembar tersebut akhirnya disepakati untuk dibacakan point-pointnya saja.

Sugeng divonis terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP.

“Menghilangkan nyawa kemudian dimutilasi adalah tindakan yang sadis dan membuat resah masyarakat. Hal yang memberatkan terdakwa karena sudah pernah dihukum, memberikan keterangan berbelit-belut dan tidak jujur. Sedangkan hal yang meringankan terdakwa dikemudian hari diharapkan bisa memperbaiki diri lebih baik. Diputus 20 tahun penjara dipotong masa tahanan,” ujar Dina.

Tentunya vonis 20 tahun penjara ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni penjara seumur hidup. Saat keluar dari ruang persidangan, Sugeng tampak lunglai. Dia terlihat pasrah dengan putusan majelis hakim.

Saat ditanya puas atau tidak dengan vonis itu, Sugeng mengatakan puas dan bahkan terlihat menunjukan jempol tangannya. Namun dibalik semua itu itu entah apa yang dipikirkan Sugeng setelah mendengar bahwa dirinya bakal menjadi penghuni tahanan selama 20 tahun.

Tim Penasehat Hukum Sugeng dari LBH Peradi Malang Raya, Andik Purnomo SH bahwa pihaknya akan mengupayakan banding.

“Kami hargai putusan majelis hakim. Namun ada beberapa keberatan dari kami yang seharusnya menjadi. Pertimbangan namun tidak diungkap. Dakwaan awal menyebut korban dibunuh dengan menggunakan gunting namun tadi saat putusan disebut digorok dengan menggunakan cutter. Padahal hasil visum tidak terungkap penyebab kematian. Tidak disebutkan penyebab kematian. Pasal yang didakwakan adalah 340 KUHP harusnya visum jelas bunyinya. Tidak pernah diketahui sebab kematiannya. Kita akan upayakan banding,” ujar Andik.

Perlu diketahui bahwa dalam pembelaannya beberapa waktu lalu, Iwan Kuswardi SH MH Ketua Tim LBH Peradi Malang Raya menyebut bahwa selama ini tidak ada saksi satupun yang melihat Sugeng telah membunuh Mrs X di Pasar Besar.

Selain itu disebut pula bahwa Sugeng memutilasi tunuh Mrs X saat dalam kondisi sudah meninggal dunia sesuai dengan hasil visum yakni potongan Post Mortem.

Sementara itu Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Kota Malang Wahyu Hidayatiullah SH MH, mengatakan bahwa pihaknya masih pikir-pikir apakah akan banding atau tidak terkait putusan majelis hakim terhadap Sugeng. Dimana putusan lebih ringan dari tuntutan JPU.

“Putusan ini saya menghormati apa yang selama ini kita buktikan sependapat dengan majelis hakim. Perkara ini akan pikir-pikir selama 7 hari sambil menunggu hasil laporan ke Kejati,” ujar Wahyu. (gie/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Pasca Pihak The Rich Sasando Digugat Terkait Pembelian Tanah

Diterbitkan

||

M Fauzi saat klarifikasi terkait gugatan yang ditujukan kepada kliennya. (gie)
M Fauzi saat klarifikasi terkait gugatan yang ditujukan kepada kliennya. (gie)

M Fauzie : Kami Segera Gugat Balik

Memontum, Kota Malang – Pihak pengembang Perum The Rich Sasando, PT Tunggal Jaya Propertindo nampaknya bakal menggugat balek Roy Rafidianta. Pasalnya Direktur PT Tunggal Jaya Propertindo sebelumnya telah digugat oleh Roy yakni sebagai tergugat IV, prihal gugatan melawan hukum dengan nomer gugatan 43/Pdt.G/2020/PN Malang.

M Fauzi SH Kuasa hukum PT Tunggal Jaya Propertindo menjelaskan bahwa gugatan tersebut telah merugikan Perum The Rich Sasando. Pihaknya menjelaskan bahwa PT Tunggal Jaya Propertindo membeli tanah milik Lilik Suprapti, tidak dalam kondisi sengketa dan bermasalah. Perlu diketahui bahwa dalam gugatan yang diajukan oleh Roy di PN Malang, Lilik Suprapti menjadi tergugat 1.

“Perlu saya jelaskan di sini saya juga menjadi kuasa hukum tergugat I, Tergugat II, Tergugat III dan Tergugat IV. Saya klarifikasi bahwa bu Lilik Suprapti pada tahun 2017 menjual 2 tanah miliknya yakni seluas 193 meter dan 196 meter persegi. Bu Lilik bertemu dengan penggugat di notaris Duri Astuti, Januari Tahun 2017, disepakati harga Rp 4, 250.000.000. Oleh Roy saat itu dibuat kan surat tanda jadi dan dibayar Rp 3 juta. Akan dibayar lagi Rp 50 juta jika Bu Lilik sudah mengurus surat ahli waris,” ujar Fauzie.

Namun setelah surat ahli waris diurus, uang Rp 50 juta belum juga diaerahkan oleb Roy kepada Lilik. “Dalam perjanjian di tanda jadi tersebut, dijelaskan bahwa Lilik akan dibayar Rp.50 juta jika selesai mengurus surat ahli waris. Sisa pembayaran akan dibayar setelah objek tanah diukur BPN dan tanah dibelakang lokasi dapat dibeli oleh Roy maka akan dibayar sisa kekurangan kepada Bu Lilik, ” urai Fauzi kepada Memontum.com.

“Point ke 4 cukup menarik apabila tanah yang berada di belakang tanah milik Bu Lilik tidak bisa dibeli oleh Roy, maka akan dilakukan pembatalan pembelian. Yakni pembatalan pembelian tanah mikik Nu Lilik dan uang Rp 3 juta dikembalikan. Setelah surat tanda jadi tersebut, Lilik segera mengurus surat ahli waris, namun uang Rp.50 juta yang dijanjikan tidak juga diserahkan,” ujar Fauzi.

Beberapa bulan kemudian Lilik meminta 2 sertifikatnya tersebut yang disimpan di notaris Duri.

“Hal itu karena tidak sesuai perjanjian. Uang bRp 50 juta yang dijanjikan tidak diserahkan juga ke Bu Lilik. Saat sertifikat itu diminta, Bu Duri sebagai notaria sudah klarifikasi kepada Roy. Atas persetujuannya ke 2 sertifikat itu dikembalikan ke Lilik. Bu Lilik tetap berusaha menghubungi Roy hingga 2019. Pernah juga datang kenkantornya namun Roy malah keluar dari pintu samping. Jwterantan itundisampaikan dalam fakta persidangan dalam gugatan sebelumnya,” ujar Fauzi.

Karena tidak ada kejelasan, Lilik kemudian menjual tanahnya kepada PT Tunggal Jaya Propertindo dengan harga yang sama.

“Karena tidak ada masalah tidak dalam sengketa, ya kita beli. Setwlah ada penjualan tersebut, Bu Lilik digugat Roy yakni gugatan wanprestasi. Namun gugatan itu ditolak oleh majelis hakim dengan pertimbangan bahwa yang melakukan wanprestasi adalah pihak penggugat. Roy kemudian banding dan sampai saat ini masih berjalan, ” kata Fauzi, Rabu (26/2/2020) siang.

“Kemudian muncul lagi gugatanperbuatan melawan hukum. Kali ini tidak hanya bu Lilik dan anak-anaknya saja yang digugat namun juga PT Tunggal Jaya.sebagai tergugat IV. Padahal secara normatif transaksi jual beli antara OT Tunggal Jaya dengan Bu Lilik sudah sesuai aturan perijinan lengkap dan tidak ada masalah. Tanah itu juga dibeli untuk dipakai buat vasum jalan,” ujar Fauzi.

Akibat gugatan ini, pihak PT Tunggal Jaya merasa dirugikan. “Apalagi ada pemberitaan yang isinya pihak sana meminta masyarakat untuk berhati-hati membeli di Perum The Rich Sasando. Apa masalahnya sampai mereka.mengimbau masyarakat untuk berhati-hati membeli di Perum Rich Sasando. Kami sangat dirugikan. Kali ini kami tidak akan pasif, kami akan aktif untuk melakukan gugatan bralik,” ujar Fauzi.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, salah satu objek tanah yang berada di dalam Perum The Rich Sasando Jl Sasando, Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, dipermasalahkan masalah jual belinya. Bahkan pada 25 Februari 2020, sidang gugatannya akan berlabgsing di PN Malang. Gugatannya sudah masuk dengan nomer gugatan 43/Pdt.G/2020/PN Malang.

BACA : Sengketa di Tanah Perumahan Elite, Konflik Jual Beli Lahan Berujung Gugatan

Koko Widyatmoko SH, kuasa hukum Roy, pihak penggugat mengatakan bahwa kliennya telah melakukan perjanjian jual beli tanah kepada pemilik lahan. Namun perjanjian tersebut dilanggar oleh si pemilik tanah dengan menjualnya ke pihak lain.

“Perjanjian itu dilanggar dan dipastikan melawan hukum. Klien kami sangat dirugikan. Dalam gugatan ini si pemilik tanah menjadi tergugat 1, ” ujar Koko. (gie/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Terpopuler